Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

5 Etika Bercanda di Media Sosial agar Gak Berujung Kontroversi

5 min read
5 Etika Bercanda di Media Sosial agar Gak Berujung Kontroversi
ilustrasi bermain media sosial (freepik.com/marymar)

Awalnya cuma ingin bikin orang ketawa. Seseorang mengunggah meme, menulis caption yang agak nyelekit, atau melempar candaan tentang kejadian yang sedang ramai dibicarakan. Di kepalanya, itu cuma humor biasa. Namun beberapa menit kemudian, komentar mulai bermunculan. Ada yang tertawa, ada yang salah paham, dan tiba-tiba seseorang menulis, "Kok bercandanya begini?"

Di situlah kita sering baru sadar bahwa humor di media sosial tidak sesederhana bercanda bersama teman di meja makan. Di media sosial, satu kalimat bisa dibaca oleh orang yang tidak mengenal kita, tidak mengetahui konteksnya, bahkan tidak memahami bahwa kalimat tersebut sebenarnya hanya bercanda. Jadi penting untuk tahu etika bercanda di media sosial.

  1. 1. Jangan jadikan kondisi orang lain sebagai bahan candaan

    ilustrasi seseorang sedang bermain media sosial (pexels.com/mikoto.raw Photographer)
    ilustrasi seseorang sedang bermain media sosial (pexels.com/mikoto.raw Photographer)

    Bayangkan kamu sedang scrolling media sosial pada malam hari. Kemudian muncul foto seorang teman yang baru saja mengalami sesuatu yang kurang menyenangkan. Teman-teman lain mulai memberikan komentar. Karena ingin mencairkan suasana, kamu mengetik sebuah candaan.

    Menurutmu lucu, tetapi beberapa menit kemudian kamu sadar bahwa candaan tersebut justru membuat orang yang bersangkutan merasa dipermalukan. Masalahnya bukan selalu karena seseorang tidak punya selera humor. Kadang-kadang kita memang tidak mengetahui seberapa sensitif pengalaman yang sedang dihadapi orang lain.

    "Apa yang mungkin tampak sebagai lelucon tidak berbahaya bagi satu orang bisa, jadi sangat menyakitkan bagi orang lain," demikian panduan UNICEF tentang How to be safe on the internet.

  2. 2. Pastikan candaan tidak menyerang identitas atau kelompok tertentu

    ilustrasi media sosial (unsplash.com/RobHampson)
    ilustrasi media sosial (unsplash.com/RobHampson)

    Suatu sore, kamu melihat sebuah tren yang sedang viral. Banyak orang membuat lelucon dengan pola yang sama. Karena ingin ikut tren, kamu membuat versi sendiri dan mengunggahnya. Tidak lama kemudian, ada yang menegur karena candaan tersebut dianggap menyerang kelompok tertentu. Kamu mungkin langsung berpikir, "Kan cuma bercanda."

    Oleh karena itu, sebelum mengunggah candaan, coba periksa lagi target humornya. Apakah lelucon tersebut menertawakan situasi, atau justru menertawakan identitas seseorang? Apakah lucunya berasal dari absurditas situasi, atau dari stereotip tentang suku, agama, gender, kondisi fisik, pekerjaan, atau kelompok tertentu? Semakin dekat candaan dengan identitas yang melekat pada seseorang atau kelompok, semakin besar pula kemungkinan candaan tersebut dianggap merendahkan.

     

  3. 3. Jangan mengandalkan kalimat "cuma bercanda" sebagai tameng

    ilustrasi seseorang sedang bermain media sosial (pexels.com/ Eren Li)
    ilustrasi seseorang sedang bermain media sosial (pexels.com/ Eren Li)

    Ada satu pola yang sering terjadi di media sosial. Seseorang membuat komentar yang menyakitkan. Ketika orang lain memprotes, jawabannya sederhana: "Bercanda doang." Kalau masih dipermasalahkan, muncul kalimat berikutnya, "Jangan baper."

    Percakapan pun akhirnya berubah dari membahas candaan menjadi perdebatan tentang siapa yang berhak merasa tersinggung. UNICEF menjelaskan bahwa membedakan candaan dan tindakan yang menyakiti memang bisa menjadi sulit, terutama ketika komunikasi terjadi secara online.

    Mereka bahkan menyoroti situasi ketika seseorang mengatakan "just kidding" atau meminta orang lain untuk tidak terlalu serius. Jika seseorang merasa disakiti, apalagi candaan tersebut terus dilakukan setelah diminta berhenti, perilaku itu bisa berkembang menjadi bullying.

    "Semua teman pasti saling bercanda, tetapi terkadang sulit membedakan apakah seseorang hanya sekadar bersenang-senang atau memang berniat menyakiti perasaanmu, terutama saat berinteraksi secara daring. Terkadang, mereka menepisnya dengan berkata, 'Cuma bercanda, kok,' atau 'Jangan terlalu dimasukkan ke hati'," dikutip dalam UNICEF.

    Jadi, "cuma bercanda" sebaiknya bukan kartu bebas dari tanggung jawab. Humor yang sehat memberi ruang bagi orang lain untuk mengatakan, "Itu gak lucu buatku." Kalau ternyata candaan kita keliru, meminta maaf justru jauh lebih dewasa daripada memaksa orang lain memahami humor kita.

  4. 4. Ingat, audiens media sosial jauh lebih besar

    ilustrasi bermain media sosial (freepik.com/marymar)
    ilustrasi bermain media sosial (freepik.com/marymar)

    Misalnya kamu membuat candaan di akun pribadi dan merasa hanya teman dekat yang akan melihatnya. Beberapa jam kemudian, postingan itu dibagikan orang lain. Orang yang tidak mengenalmu ikut berkomentar. Mereka tidak tahu cerita di balik candaan tersebut, tidak mengenal teman yang kamu maksud, dan tidak tahu bahwa kalian memang biasa bercanda seperti itu.

    Inilah salah satu persoalan komunikasi digital: konteks yang menurut pembuat konten sudah jelas belum tentu diketahui audiens. Karena itu, sebelum menekan tombol unggah, bayangkan postingan tersebut dibaca oleh orang yang sama sekali tidak mengenalmu.

    Apakah masih terdengar lucu? Apakah maksudnya tetap jelas? Atau justru bisa terlihat seperti hinaan, sindiran, atau serangan? Kalau sebuah candaan hanya aman ketika pembacanya mengetahui seluruh konteks pribadi kita, mungkin lebih baik candaan itu dikirim ke grup kecil atau disampaikan secara langsung.

  5. 5. Kalau sudah menyinggung, tahu kapan harus berhenti

    ilustrasi orang bermain media sosial (pexels.com/Jack Sparrow)
    ilustrasi orang bermain media sosial (pexels.com/Jack Sparrow)

    Katakanlah candaanmu ternyata mendapat respons negatif. Ada yang mengkritik, ada yang meminta penjelasan, bahkan ada yang mengatakan bahwa unggahanmu kelewat batas. Pada titik ini, godaan terbesar biasanya adalah membalas semua komentar untuk membuktikan bahwa kita benar.

    Padahal, semakin panjang perdebatan, semakin besar pula kemungkinan masalah berkembang. Pew Research Center menemukan bahwa penghinaan dan usaha mempermalukan seseorang termasuk bentuk pengalaman negatif yang umum dalam interaksi online.

    "Bahkan dalam bentuknya yang paling dasar misalnya, sebutan kasar atau lelucon yang tidak pantas, pelecehan daring merupakan konsep yang fleksibel. Hal ini sangat bergantung pada konteks dan sering kali merupakan masalah penafsiran pribadi. Dan meskipun perilaku tertentu tampak 'melampaui batas', batasan tersebut bisa berbeda antara satu orang dengan orang lainnya," demikian laporan studi Pew Research Center tentang Experiencing online harassment.

    Dalam laporan mereka, garis antara candaan dan perilaku yang dianggap melecehkan juga dapat sangat bergantung pada konteks serta interpretasi orang yang mengalaminya. Artinya, sesuatu yang menurut pembuatnya ringan belum tentu terasa ringan bagi penerimanya.

    Jika sudah jelas bahwa candaan membuat seseorang tidak nyaman, tidak ada kewajiban untuk terus mempertahankannya demi ego. Hapus jika memang perlu, klarifikasi bila konteksnya salah dipahami, dan minta maaf jika memang sudah menyakiti.

    Pada akhirnya, menjadi orang yang lucu di media sosial bukan berarti harus selalu punya candaan paling berani atau paling kontroversial. Humor yang baik justru tahu kapan harus berhenti, siapa yang tidak pantas dijadikan bahan lelucon, dan kapan sebuah candaan lebih baik disimpan untuk lingkaran pertemanan yang memahami konteksnya.

Share Article
Editorial Team

Dari Kebun Nilam ke Pasar Dunia

Related Articles

See More