Comscore Tracker

Bukan Sekadar Bisnis, Ini Cara Audrey Maximillian Mengembangkan Riliv

Menyelesaikan masalah pengguna adalah hal terpenting Maxi

Kamu mungkin sudah tak asing dengan platform Riliv, layanan yang memungkinkan penggunanya melakukan meditasi online dan menyelesaikan masalah bersama psikolog profesional melalui aplikasi mobile.

Audrey Maximillian Herli adalah sosok di baliknya. Ia mendirikan Riliv pada tahun 2015. Berbagai prestasi telah diraih pria yang kerap disapa Maxi ini bersama tim.

Terakhir, Maxi bersama saudaranya, Audy Christopher Herli, menyabet penghargaan 30 Under 30 Forbes Asia pada Februari 2020. Memulai bisnis sebagai startup, tentu bukan hal yang mudah.

Lulusan S1 Sistem Informasi Universitas Airlangga ini, membagikan perjalanannya membangun Riliv pada IDN Times, Kamis (6/8/2020). Bagaimana kisah inspiratifnya? Yuk, simak di bawah ini!

1. Riliv terbentuk dari pengalaman pribadi Maxi melihat maraknya pengguna media sosial yang justru di-bully setelah curhat

Bukan Sekadar Bisnis, Ini Cara Audrey Maximillian Mengembangkan RilivAudrey Maximillian Herli, Co-Founder Riliv (Dok. Istimewa)

Bukan hanya pada masyarakat urban, media sosial memberi pengaruh besar terhadap eksistensi seseorang untuk berkompetisi di zaman serba digital seperti sekarang. Polemik mulai muncul ketika media sosial itu sendiri justru menimbulkan masalah atau gangguan mental bagi para penggunanya. 

Riliv berawal dari pengalaman pribadi Maxi ketika melihat banyaknya pengguna media sosial, yang begitu mudah melampiaskan perasaannya di sosial media. Ia menuturkan bahwa kebanyakan dari mereka justru mendapat bullying setelah curhat di media sosial.

Pada waktu yang sama, kasus bunuh diri, gangguan emosional, dan depresi nyata adanya pada masyarakat di Indonesia. "Menyadari akan hal tersebut, kami pun terpacu untuk menciptakan sebuah aplikasi yang dapat memudahkan siapa saja, yang ingin pergi ke psikolog dengan harga terjangkau," terangnya. 

2. Bisnis selalu dinamis seiring berjalannya waktu. Oleh karena itu, ia fokus pada visi dan misi Riliv dalam menyelesaikan masalah pengguna

Bukan Sekadar Bisnis, Ini Cara Audrey Maximillian Mengembangkan RilivAudrey Maximillian Herli, Co-Founder Riliv (Dok. Istimewa)

"Apabila menjelaskan strategi tidak akan pernah ada habisnya, karena bisnis akan selalu dinamis seiring berjalannya waktu. Oleh sebab itu, strategi yang tepat haruslah mengacu pada visi dan misi yang besar dan menyelesaikan masalah dari para pengguna layanan," terang pria kelahiran Malang, 13 Oktober 1992 ini. 

Komitmen awal Riliv adalah menyelesaikan permasalahan dari para pengguna, mencari tahu apa yang diinginkan pengguna, serta memberi solusi yang tepat. Melalui visi dan misi ini, ia percaya bahwa Riliv bukan hanya menjalankan bisnis, melainkan juga memahami pengguna dengan memberikan pelayanan terbaik. Seiring dengan meningkatnya nilai tambah bagi pengguna, Riliv menjadi semakin berkembang serta masalah pengguna terselesaikan melalui solusi yang tepat. 

"So don't just start a business, but solve a problem!"- Audrey Maximillian Herli, Co-Founder Riliv-

3. Meski ada yang mempertanyakan tentang pilihan profesinya, sebagai Co-Founder, ia mengaku banyak didukung oleh rekan dan mentor

Bukan Sekadar Bisnis, Ini Cara Audrey Maximillian Mengembangkan RilivAudrey Maximillian Herli, Co-Founder Riliv dan tim (Dok. Istimewa)

Ketika ditanya apakah ada yang mempertanyakan profesinya di bidang ini, ia mengiyakannya. Hal itu berkaitan dengan potensi kebergunaan atau keberhasilan dari karya yang ia buat. Orang-orang yang biasanya mempertanyakan adalah yang berada di lingkungan masyarakat, pertemanan, dan netizen.

Maxi menambahkan bahwa masih banyak founder dari startup yang ragu dalam menjalankan sesuatu karena terlalu banyak mendengar keraguan orang, yang sebenarnya tak pernah mendalami hal yang digeluti. Namun, ia beruntung memiliki rekan sesama startup yang mau saling berbagi pengalaman.

"Dalam membangun startup, saya lebih banyak menghabiskan waktu untuk sharing dan mendengarkan rekan-rekan ini beserta para mentor. Sehingga, kita menjadi lebih yakin akan profesi atau karier yang kita geluti sebagai penggiat bisnis. Sebab, orang-orang ini telah menggeluti dan mendalami hal yang sama dengan kita," terangnya. 

Paham akan jatuh bangunnya membangun startup, ia berharap kepada masyarakat apabila memiliki rekan yang punya suatu karya atau gagasan, sebaiknya didukung, bukan malah sebaliknya. Apabila ada yang berhasil di kemudian hari, ia pun juga akan senang.

"Saya berharap bagi seluruh anak-anak muda yang sedang menginisiasi suatu karya apa pun itu, lebih baik banyak berkumpul dengan teman seperjuangan daripada teman-teman yang membuat kita down atau menjadi tidak produktif," tambah pria yang memiliki hobi nonton film dan olahraga ini. 

Baca Juga: Hapus Stigma Takut ke Psikolog, Riliv Buat Konsultasi Lebih Gampang

4. Baginya, permasalahan atau kegagalan adalah suatu hal yang memang kerap terjadi dan ia harus bersiap akan hal itu

Bukan Sekadar Bisnis, Ini Cara Audrey Maximillian Mengembangkan RilivAudrey Maximillian Herli, Co-Founder Riliv (Dok. Istimewa)

Maxi menganggap bahwa kendala yang ada dalam bisnis adalah sebuah tantangan. Ia berujar bahwa tantangan lainnya ada pada bagaimana Riliv mampu menghapus stigma tentang kesehatan mental. Ia ingin menyebarluaskan pentingnya kesehatan mental serta bagaimana masyarakat dapat memperoleh akses layanan kesehatan mental yang layak.

Ketika ditanya bagaimana ia harus menghadapi momen terendah dalam hidup, Maxi menuturkan bahwa ia tidak pernah terlarut dalam masalah. Permasalahan atau kegagalan dimaknai sebagai sesuatu yang bisa terjadi. Ia tahu jika harus bersiap dengan hal itu.

"Namun momen terpenting ketika jatuh dalam kegagalan adalah ketika kita dapat bangkit lagi. Hal yang terpenting adalah jangan takut gagal dan segera memulai karena kegagalan adalah proses menuju keberhasilan. Tidak ada hidup tanpa adanya kegagalan di dalamnya," pungkas Maxi. 

Membagikan suka dukanya dalam menekuni bidang ini, ia bersyukur bisa bertemu dengan orang-orang luar biasa dan berjuang bersama dalam menginisiasi suatu karya. "Banyak sekali pelajaran dan pengalaman yang didapat dari kejadian dan orang yang bergelut dalam bidang ini. Banyak hal yang tidak pernah diajarkan di sekolah. Hal tersebut membuat kita semakin haus dan penasaran, serta terus ingin tahu untuk menekuni bidang ini," tambahnya.

5. Memulai karya tidak hanya fokus pada diri sendiri. Maxi percaya Riliv mampu menjadi one stop platform dalam layanan kesehatan mental

Bukan Sekadar Bisnis, Ini Cara Audrey Maximillian Mengembangkan RilivAudrey Maximillian Herli dan Audy Christopher Herli, Co-Founder Riliv (Dok. Istimewa)

Saat ditanya sosok yang menginspirasinya dalam hidup, ia tidak menyebut secara spesifik. "Bagi saya, semuanya menginspirasi saya. Saya selalu terinspirasi oleh tokoh-tokoh dunia yang melakukan perubahan di berbagai bidang, baik dari segi ilmu pengetahuan, bisnis, teknologi, seni, musik, keagamaan, dan lainnya. Saya berharap bisa meneladani mereka dan menjadi inspirasi bagi sesama," terang pria yang juga hobi bermain gitar ini.

Ia berpesan untuk anak muda sekarang bahwa ketika ada gagasan, karya, atau bisnis yang bermanfaat bagi sekitar, sebaiknya tidak hanya fokus pada diri sendiri. "Apabila seluruh orang hanya memikirkan diri sendiri, persoalan bangsa tidak akan pernah selesai, karena tidak ada yang mau menyelesaikannya," imbuh Maxi.

Stigma dari masyarakat tentang kesehatan mental, memicu Maxi dan tim untuk mengembangkan Riliv secara berkelanjutan. Bukan sekadar bisnis, Maxi memahami manusia sebagai makhluk utuh yang tak terlepas dari permasalahan. Agaknya, campaign kesehatan mental ini bukan hanya menjadi pekerjaan rumah bagi Riliv, melainkan juga kita sebagai manusia yang bisa memahami sesama.

Baca Juga: Ajak Anak Muda Dalami Cinta, Riliv Gelar Millennial Wellness Day 2.0

Topic:

  • Fajar Laksmita Dewi
  • Febriyanti Revitasari

Berita Terkini Lainnya