Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

5 Fakta Impulsive Buying saat Ramadan, Niat Hemat Ujungnya Kalap!

5 Fakta Impulsive Buying saat Ramadan, Niat Hemat Ujungnya Kalap!
ilustrasi belanja (pexels.com/Max Fischer)
Intinya Sih
  • Lapar, haus, dan kondisi fisik saat puasa membuat keputusan belanja jadi kurang rasional, memicu pembelian berlebihan terutama menjelang akhir Ramadan.
  • Promo besar-besaran dan rasa takut ketinggalan diskon (FOMO) mendorong banyak orang membeli barang yang sebenarnya tidak dibutuhkan.
  • Tekanan sosial, kebiasaan belanja online tengah malam, serta emosi tidak stabil selama Ramadan memperkuat perilaku impulsive buying di kalangan masyarakat.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Akhir bulan Ramadan sering kali identik dengan suasana yang lebih tenang. Kita memiliki momen penuh refleksi, dan tentunya niat untuk hidup lebih hemat. Namun, kenyataannya, justru banyak orang yang mengalami kebalikan.

Akhir Ramadan justru identik dengan pengeluaran meningkat drastis karena impulsive buying alias belanja tanpa perencanaan. Dari takjil berlebihan sampai checkout keranjang belanja tengah malam, semua terasa wajar saat Ramadan. Kenapa bisa begitu? Yuk, simak lima fakta menarik berikut!

1. Lapar dan haus bikin keputusan jadi kurang rasional

ilustrasi belanja (unsplash.com/Artem Beliaikin)
ilustrasi belanja (unsplash.com/Artem Beliaikin)

Salah satu faktor terbesar impulsive buying saat Ramadan adalah kondisi fisik. Saat berpuasa, tubuh mengalami penurunan energi yang membuat kita lebih mudah tergoda. Lapar dan haus bukan cuma soal fisik, tapi juga memengaruhi cara otak mengambil keputusan.

Apalagi saat akhir Ramadan, kita cenderung membeli lebih banyak makanan untuk balas dendam di ajang hari raya. Semua terlihat enak, semua ingin dicoba. Padahal, saat sudah kenyang, sering kali makanan itu malah tersisa atau terbuang. Inilah salah satu bentuk impulsive buying yang paling umum terjadi.

2. Promo Ramadan terlalu menggoda untuk ditolak

ilustrasi belanja (pexels.com/Gustavo Fring)
ilustrasi belanja (pexels.com/Gustavo Fring)

Ramadan identik dengan diskon besar-besaran. Mulai dari marketplace, supermarket, hingga brand fashion berlomba-lomba memberikan promo menarik. Istilah seperti flash sale, diskon spesial Ramadan, atau beli 2 gratis 1 sering membuat orang merasa harus segera membeli.

Padahal, tidak semua barang yang dibeli benar-benar dibutuhkan. Banyak orang akhirnya membeli hanya karena takut kehabisan promo. Sebenarnya barang-barang tersebut bukan menjadi prioritas kebutuhan. Ini yang disebut sebagai fear of missing out (FOMO), yang jadi pemicu utama impulsive buying.

3. Tradisi dan gaya hidup ikut mendorong konsumsi berlebih

ilustrasi perempuan berhijab  (pexels.com/RODNAE Productions)
ilustrasi perempuan berhijab (pexels.com/RODNAE Productions)

Ramadan juga identik dengan tradisi berkumpul, buka bersama, hingga persiapan lebaran. Tanpa disadari, tekanan sosial membuat seseorang ingin tampil lebih. Entah dari segi makanan, pakaian, atau dekorasi rumah.

Misalnya, membeli baju baru lebih dari satu set, menyiapkan hidangan berbuka secara berlebihan, atau mengikuti tren hampers kekinian. Semua ini sering dilakukan bukan karena kebutuhan, tapi karena ingin mengikuti kebiasaan sekitar.

4. Belanja online tengah malam jadi kebiasaan baru

ilustrasi media sosial (pexels.com/Cottonbro studio)
ilustrasi media sosial (pexels.com/Cottonbro studio)

Setelah sahur atau sebelum tidur, banyak orang menghabiskan waktu dengan scrolling media sosial atau aplikasi belanja. Di sinilah godaan terbesar muncul. Dalam kondisi santai dan tanpa tekanan, kita jadi lebih mudah tergoda untuk checkout barang.

Apalagi dengan sistem pembayaran yang semakin praktis. Kehadiran paylater atau e-wallet membuat proses belanja jadi terasa ringan. Tanpa sadar, total pengeluaran justru membengkak di akhir bulan.

5. Emosi yang tidak stabil memicu belanja impulsif

ilustrasi belanja  (pexels.com/Andrea Piacquadio)
ilustrasi belanja (pexels.com/Andrea Piacquadio)

Ramadan memang bulan penuh berkah, tapi juga bisa jadi penuh tantangan emosional. Rasa lelah, kurang tidur, atau bahkan stres bisa membuat seseorang mencari pelampiasan instan. Salah satunya melampiaskan lewat belanja.

Belanja sering dianggap sebagai cara cepat untuk mendapatkan rasa senang. Ketika melihat barang lucu atau makanan enak, otak langsung merespons dengan perasaan bahagia sesaat. Sayangnya, efek ini tidak bertahan lama, dan justru meninggalkan penyesalan setelahnya.

Impulsive buying saat akhir Ramadan memang sulit dihindari, tapi bukan berarti tidak bisa dikendalikan. Kuncinya ada pada kesadaran diri dan perencanaan. Buat daftar belanja sebelum keluar rumah, hindari scrolling marketplace saat lapar, dan selalu tanyakan jika ini butuh atau cuma ingin?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Agsa Tian
EditorAgsa Tian
Follow Us