Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

5 Alasan Keluarga Bisa Menjadi Sumber Stres yang Kuat

5 Alasan Keluarga Bisa Menjadi Sumber Stres yang Kuat
ilustrasi pusing banyak masalah (pexels.com/Andrea Piacquadio)
Intinya Sih
  • Artikel menyoroti bahwa keluarga bisa menjadi sumber stres berat ketika dukungan antaranggota minim, konflik sering terjadi, dan hubungan tidak lagi terasa aman secara emosional.
  • Ketergantungan berlebihan antaranggota keluarga serta pembagian tanggung jawab yang tidak adil dapat membuat seseorang merasa terbebani hingga kehilangan fokus pada kehidupannya sendiri.
  • Keterbukaan tanpa empati dan kritik tajam dalam keluarga sering memperparah luka batin, menjauhkan fungsi keluarga sebagai tempat perlindungan dan dukungan emosional.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Setiap orang punya masalah yang beragam. Paling sering orang dewasa menghadapi persoalan terkait pekerjaan dan hubungan dengan pasangan. Namun, masalah paling berat justru bisa muncul dari keluarga sendiri.

Ini yang membuat tidak semua bangunan berbentuk tempat tinggal benar-benar terasa sebagai rumah. Masalah pekerjaan dan pertemanan masih bisa diselesaikan dengan mudah. Akan tetapi, akar persoalan yang ada dalam keluarga seperti benang kusut yang selamanya tidak akan terurai.

Kamu beruntung apabila lahir dan besar dalam keluarga yang penuh cinta. Namun, di luar sana ada orang-orang yang kering dari kasih sayang. Bahkan selalu terjadi pertentangan besar antara dirinya dan keluarga. Ini barangkali jauh dari bayanganmu tentang hubungan keluarga yang seharusnya. Namun, keluarga bisa menjadi sumber stres jika situasinya seperti di bawah ini.

1. Gak semua saudara bersikap suportif, malah ada tipe perintang

stres
ilustrasi stres (pexels.com/Pavel Danilyuk)

Sikap suportif pasti sangat diharapkan semua orang dari keluarganya. Prestasi sehebat apa pun di luar sana berangkat dari situasi di rumah. Kalau setiap anggota keluarga selalu total dalam memberikan dukungan, tentu mudah bagi orang untuk fokus dan bersemangat dalam berbagai hal.

Sebaliknya, tipe keluarga yang tidak suportif merusak semangat dalam berjuang. Bahkan ketika seseorang tahu bahwa motivasi terbesar seharusnya berasal dari dalam dan bukan dari luar diri. Bagaimanapun juga, sikap orang terdekat yang gak suportif pasti menjadi beban pikiran.

Perasaan pun lebih tersiksa dibandingkan dengan apabila cuma sekadar teman yang tak suportif. Terburuk ada juga keluarga yang tidak hanya gak suportif, melainkan seakan-akan menjadi perintang. Sikapnya seperti menghambat kemajuan saudara dengan segala cara.

2. Saat ada masalah, bertengkar bisa kelewat batas

pusing memikirkan masalah
ilustrasi pusing memikirkan masalah (pexels.com/Towfiqu barbhuiya)

Hanya karena berstatus keluarga, bukan berarti antaranggotanya tidak pernah bertengkar. Malah perselisihan dengan saudara bisa jauh lebih panas daripada dengan orang lain. Alasannya, saudara mengenalmu sejak kalian sama-sama kecil.

Ia paham betul ke mana harus mengarahkan senjatanya untuk menyerangmu dengan telak. Ketika terjadi cekcok dalam keluarga, semua hal yang gak bakal dilontarkan oleh orang lain niscaya diucapkan. Bahkan itu diulang-ulang seolah-olah sengaja biar kasih efek rasa sakit yang lebih kuat.

Tidak ada lagi rasa sungkan antarsaudara. Pun, keyakinan bahwa apa pun yang terjadi, kalian masih tetap keluarga bisa memunculkan perasaan bebas saling menyakiti tanpa ampun. Hubungan darah di antara kalian tidak akan bisa diputus cuma oleh hal-hal seperti di atas. Akibatnya, tekanan mentalnya besar sekali.

3. Hubungan keluarga dijadikan alasan terlalu bergantung

pusing banyak masalah
ilustrasi pusing banyak masalah (pexels.com/RDNE Stock project)

Berurusan dengan keluarga sendiri juga bisa terasa sangat melelahkan hingga bikin putus asa. Keluarga tidak lagi menjadi sumber kebahagiaan, melainkan beban. Benar bahwa dalam keluarga mesti ada kesediaan untuk saling membantu.

Akan tetapi, jika rasa ketergantungan di antara saudara amat tinggi, pasti menjadi kerepotan yang luar biasa bagi orang yang paling diandalkan. Dia seperti pohon yang dipaksa untuk selalu kuat supaya dapat menjadi tempat bergantung semua orang. Baik dari segi finansial, pembuatan berbagai keputusan, dan lainnya.

Gara-gara kebiasaan bergantung pada kelewatan, orang bisa gak fokus pada hidupnya sendiri. Saat ia gajian, misalnya, bukannya bersenang-senang sendiri, malah banyak uangnya diminta saudara. Alasannya macam-macam. Dia sampai merasa cuma menjadi sapi perah dalam keluarga.

4. Keterbukaan yang tak menimbang rasa

membaca chat
ilustrasi membaca chat (pexels.com/Aniket Gupta)

Kedekatan hubungan cenderung membuat orang kian blak-blakan dalam berbicara. Orang yang seharusnya sangat paham apa yang tidak disukai saudaranya, justru tak lagi memikirkan perasaannya. Semua unek-unek ditumpahkan tanpa rasa sungkan sedikit pun. Termasuk mengkritik saudara habis-habisan.

Kritik yang menurutnya bersifat membangun akhirnya justru merusak atau destruktif. Kritiknya gak seberapa penting, tetapi rasa sakit hati yang ditimbulkan jauh lebih besar. Beda dengan ketika terjadi masalah dengan orang lain.

Sekesal apa pun perasaan, orang biasanya tetap berpikir sekian kali sebelum melontarkan kata-kata supertajam. Selain menimbang perasaan lawan bicara, juga memikirkan kelanjutan hubungan jangka panjang. Sedang di beberapa keluarga, masing-masing justru sengaja memilih kata yang paling menyakitkan bagi saudaranya.

5. Satu orang diserahi semua tanggung jawab dan sering disalahkan

menenangkan diri
ilustrasi menenangkan diri (pexels.com/Shovan Datta)

Orang yang diberi tanggung jawab sebesar ini pasti akan capek luar biasa. Baik lelah fisik maupun mental. Contoh, seseorang diserahi tanggung jawab menjaga orangtua yang sakit. Masih pula mengelola usaha bersama dan mengasuh adik yang paling kecil.

Sehebat-hebatnya orang pasti lama-kelamaan akan kewalahan juga. Bagian paling menyebalkan ialah minimnya apresiasi. Padahal, seluruh tanggung jawab tersebut sudah dilaksanakan sebaik mungkin sesuai kemampuannya.

Namun, saudara-saudaranya seperti gak pernah puas. Selalu ada saja yang masih dianggap kurang. Satu orang tersebut justru kerap dipojokkan dan dituntut macam-macam. Wajar apabila ia marah sampai terkesan melawan saudara-saudaranya saking stresnya.

Ketika keluarga bisa menjadi sumber stres, kehidupan terasa sangat berat untuk dijalani. Sebab itu berarti fungsi keluarga sebagai support system otomatis tidak berjalan. Berbahagialah apabila kamu berada dalam hubungan keluarga yang relatif aman bahkan membahagiakan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Debby Utomo
EditorDebby Utomo
Follow Us

Related Articles

See More