Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Pertanyaan yang Mengungkap Frenemy Effect di Pertemanan
ilustrasi frienemy (magnific.com/drobotdean)
  • Frenemy effect menggambarkan pertemanan yang tampak akrab, tetapi mengandung persaingan, kecemburuan, atau ketidakpercayaan; rasa membandingkan diri menjadi sinyal yang perlu direnungkan.
  • Pola adu pencapaian, sulit tulus saat teman mendapat perhatian, serta dorongan mencari kekurangannya dapat menunjukkan teman mulai dipandang sebagai rival.
  • Waspadai bila kabar baik terasa harus disembunyikan atau keberhasilan teman dianggap ancaman; yang penting dinilai ialah pola berulang dan dampaknya pada hubungan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Pernah merasa sangat dekat dengan seorang teman, tetapi pada saat yang sama kamu juga sering membandingkan diri dengannya? Kamu bisa ikut senang ketika ia mendapat pencapaian, tetapi ada sedikit rasa tidak nyaman ketika pencapaiannya terasa jauh lebih tinggi. Hubungan seperti ini memang tidak selalu mudah dijelaskan karena di dalamnya bisa ada rasa sayang, kagum, iri, sekaligus kompetisi.

Istilah frenemy sendiri merupakan gabungan dari friend dan enemy. Dalam penelitian tentang hubungan frenemy, relasi ini digambarkan sebagai hubungan yang dari luar terlihat seperti pertemanan, tetapi di dalamnya dapat terdapat persaingan, kecemburuan, atau rasa tidak percaya. Lantas, apakah dinamika seperti ini juga mungkin terjadi dalam pertemanan? Jika merasa frenemy effect di pertemanan mulai terasa, coba renungkan lima pertanyaan berikut ini.

1. Apakah kamu ikut bahagia, tetapi juga merasa tertinggal saat teman sukses?

ilustrasi frienemy (magnific.com/karlyukav)

Coba perhatikan reaksi ketika temanmu mendapatkan sesuatu yang selama ini juga kamu inginkan. Mungkin kamu tetap mengucapkan selamat dan benar-benar bangga kepadanya, tetapi setelah itu muncul pikiran seperti “Kok dia sudah sampai sana, sedangkan aku masih di sini?” Perasaan tersebut tidak otomatis membuatmu menjadi teman yang buruk. Membandingkan diri dengan orang yang dekat dengan kita merupakan respons yang cukup manusiawi, terutama ketika kita memiliki usia, lingkungan, atau tujuan yang mirip.

Yang perlu diperhatikan adalah apa yang terjadi setelah rasa itu muncul. Apakah kamu menjadikannya bahan evaluasi untuk berkembang, atau justru mulai berharap pencapaiannya tidak bertambah? Ketika keberhasilan teman terasa seperti ancaman terhadap harga diri atau posisi diri sendiri, hubungan tersebut mulai memiliki salah satu unsur yang sering ditemukan dalam dinamika frenemy, yakni kompetisi tersembunyi.

2. Apakah pencapaian kalian sering berubah menjadi adu pencapaian?

ilustrasi frienemy (magnific.com/cookie_studio)

Pertemanan biasanya menjadi ruang untuk bercerita tanpa harus selalu membuktikan siapa yang lebih hebat. Namun, coba ingat apakah setiap kali kamu menceritakan sesuatu, temanmu merasa perlu membalas dengan cerita yang lebih besar. Kamu mendapat promosi, lalu ia menceritakan pencapaiannya. Kamu membeli sesuatu yang sudah lama diinginkan, lantas ia menunjukkan barang yang lebih mahal. Bahkan obrolan sederhana tentang pekerjaan, hubungan, penampilan, atau gaya hidup bisa berubah menjadi perlombaan kecil.

Satu-dua kali membicarakan pencapaian tentu bukan masalah. Yang patut direnungkan adalah apakah pola tersebut membuatmu merasa harus terus “menyamai” atau “mengalahkan” temanmu? Dalam hubungan frenemy, orang lain tidak lagi sepenuhnya dilihat sebagai teman yang ingin didukung, tetapi juga sebagai rival yang perlu dilampaui. Ketika percakapan terasa seperti papan peringkat yang tidak pernah berhenti, kalian perlu mengevaluasi pertemanan tersebut.

3. Apakah kamu sulit tulus saat teman mendapat perhatian lebih banyak?

ilustrasi frienemy (magnific.com/drobotdean)

Ada kalanya rasa tidak nyaman muncul bukan karena pencapaian besar, tetapi karena perhatian yang diterima dari teman. Misalnya, ketika ia lebih sering dipuji, lebih mudah menjadi pusat perhatian dalam kelompok, atau tampak memiliki lebih banyak teman. Kamu mungkin tetap bersikap ramah, tetapi diam-diam merasa kesal setiap kali ia menjadi orang yang paling disorot. Bahkan, bisa muncul dorongan untuk mencari kekurangan agar keberadaannya tidak terasa terlalu menonjol.

Perasaan seperti ini penting untuk dikenali tanpa buru-buru menghakimi diri sendiri. Persoalannya bukan sekadar merasa iri, melainkan ketika rasa iri tersebut memengaruhi cara kamu memperlakukan teman. Penelitian mengenai frenemy menemukan bahwa kecemburuan terhadap koneksi sosial maupun hal-hal yang dimiliki orang lain dapat menjadi bagian dari dinamika tersebut. Jadi, pertanyaannya bukan “Apakah aku pernah iri?”, melainkan “Apa yang kulakukan ketika rasa iri itu muncul?”

4. Apakah kamu merasa harus menyembunyikan kabar baik agar tidak memicu persaingan?

ilustrasi frienemy (magnific.com/cookie_studio)

Coba pikirkan apakah kamu bisa dengan nyaman membagikan kabar baik kepada teman tersebut. Kalau justru muncul kekhawatiran bahwa ceritamu akan dibandingkan, diremehkan, atau digunakan sebagai bahan kompetisi, mungkin ada sesuatu yang perlu diperhatikan. Begitu pula sebaliknya, apakah kamu sengaja mengecilkan pencapaian sendiri karena takut temanmu merasa tersaingi? Pertemanan yang seharusnya menjadi tempat berbagi akhirnya terasa seperti ruang yang perlu dijaga terus-menerus.

Hubungan yang dipenuhi sinyal campuran seperti ini dapat terasa membingungkan karena dari luar semuanya tampak baik-baik saja. Padahal, riset mengenai frenemyship menunjukkan bahwa hubungan semacam ini dapat bertahan karena orang masih mendapatkan manfaat sosial tertentu dari relasi tersebut, meskipun di dalamnya terdapat rasa tidak percaya atau ketegangan. Karena itu, rasa harus “berjalan di atas kulit telur” saat berbagi kebahagiaan bisa menjadi bahan refleksi yang penting.

5. Apakah kamu benar-benar ingin temanmu berhasil, meski ia melampauimu?

ilustrasi frienemy (magnific.com/magnific)

Ini mungkin pertanyaan yang paling sulit dijawab dengan jujur. Bayangkan temanmu mendapatkan pekerjaan impian, memiliki hubungan yang bahagia, mencapai sesuatu yang selama ini kamu kejar, atau bahkan melampauimu dalam bidang yang sama. Apakah kamu tetap ingin melihatnya berkembang meski pencapaiannya membuatmu merasa tertinggal? Atau ada bagian dalam dirimu yang berharap ia berhenti sampai di titik tertentu agar jarak di antara kalian tidak terlalu jauh?

Tidak ada manusia yang harus selalu bebas dari rasa iri atau insecure. Namun, dalam pertemanan yang sehat, keberhasilan teman pada dasarnya tidak perlu menjadi ancaman bagi keberadaanmu. Frenemy effect menjadi relevan ketika hubungan yang tampak akrab mulai dipengaruhi oleh keinginan untuk mengungguli, kecemburuan, dan ketidakpercayaan. Jadi, mungkin pertanyaan terpentingnya bukan siapa yang lebih unggul, tetapi apakah kalian masih bisa tumbuh tanpa merasa harus saling menjatuhkan.

Memiliki sedikit rasa iri atau rasa kompetitif bukan berarti terdapat frenemy effect di pertemanan. Yang perlu diperhatikan justru pola yang terus berulang dan cara perasaan tersebut memengaruhi hubungan. Dengan mengenalinya lebih awal, kamu bisa membedakan mana kompetisi yang mendorong pertumbuhan dan mana yang perlahan membuat pertemanan terasa seperti pertandingan tanpa garis akhir.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article