Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

3 Hal yang Membuat Co-Living Makin Relevan untuk Hunian Kota

4 min read
3 Hal yang Membuat Co-Living Makin Relevan untuk Hunian Kota
“Indonesia’s New Co-Lifestyle” pada IFFINA 2026 by Rifyo Design Epicenter kolaborasi bersama Pandega Design Weharima (PDW) dan Profindo Karya (IDN Times/Maura Thirza)
  • Co-living berkembang di Jakarta sebagai opsi hunian bagi pekerja muda dan pasangan baru yang ingin tinggal dekat pusat kota di tengah tingginya harga properti.
  • Kamar berukuran ringkas dengan pantry, ruang kerja, dan area bersama memungkinkan penghuni mengakses fasilitas tanpa membayar ruang pribadi yang terlalu besar.
  • Konsep Co-Lifestyle menempatkan furnitur sebagai bagian pengalaman ruang; produk tahan lama dan bernilai jual kembali dinilai mendukung penggunaan ulang serta mengurangi limbah.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - Harga hunian di Jakarta membuat banyak orang harus memilih antara tinggal lebih dekat dengan tempat kerja atau mencari hunian yang sesuai kemampuan. Bagi pekerja muda dan pasangan yang baru menikah, rumah di tengah kota bisa terasa sulit dijangkau, sementara tinggal di luar kota berarti harus menghabiskan lebih banyak waktu di perjalanan. Situasi tersebut mendorong berkembangnya konsep co-living di Jakarta. Konsep ini menawarkan tempat tinggal dengan ruang pribadi yang lebih ringkas, tetapi dilengkapi fasilitas bersama yang bisa digunakan penghuni.

Gagasan ini menjadi salah satu bagian dari “Indonesia’s New Co-Lifestyle” yang diperkenalkan Rifyo Design Epicenter dengan kolaborasi bersama Pandega Design Weharima (PDW) dan Profindo Karya dalam Media Gathering IFFINA 2026 di NICE PIK 2, pada Jumat (25/9/2026). Konsep tersebut melihat ruang bukan hanya sebagai tempat tinggal, tetapi juga sebagai tempat bekerja, terhubung, beristirahat, belajar, hingga bermain. Ada beberapa hal yang membuat co-living kian relevan dengan kebutuhan masyarakat perkotaan saat ini.

  1. 1. Tinggal lebih dekat dengan pusat kota tanpa harus memiliki ruang yang besar

    Pantry dan common area di hunian co-living yang dapat digunakan bersama oleh para penghuni untuk beraktivitas.
    Dalam konsep co-living, pantry, ruang kerja, hingga common area dapat digunakan secara bersama (IDN Times/Maura Thirza)

    Salah satu persoalan yang ingin dijawab co-living adalah kebutuhan akan hunian yang lebih terjangkau di pusat kota. Mohammad Archica Danisworo (Chico), Design Director dari Pandega Design Weharima (PDW) mengatakan, harga hunian membuat sebagian pekerja memilih tinggal jauh dari Jakarta meski harus mengorbankan waktu perjalanan.

    “Co-living atau co-lifestyle itu adalah salah satu upaya dari kami semua untuk memecahkan salah satu masalah terbesar yang terjadi di Jakarta. Apa itu? Affordable living di pusat kota. Kalau selama ini, kalau dana terbatas, apalagi untuk generasi milenial, untuk mencari tempat tinggal, mereka harus sampai ke luar kota,” ujar Chico.

    Dalam konsep co-living, ukuran kamar dapat dibuat lebih ringkas karena penghuni tidak harus memiliki seluruh fasilitas secara pribadi. Pantry, ruang kerja, hingga area bersama dapat digunakan secara bersama. Cara ini membuat penghuni tetap bisa mendapatkan fasilitas yang dibutuhkan tanpa harus membayar ruang yang terlalu besar.

  2. 2. Jadi alternatif hunian di tengah mahalnya tempat tinggal

    Hunian co-living menjadi alternatif tempat tinggal di tengah keterbatasan lahan dan tingginya harga hunian.
    Keterbatasan lahan dan tingginya harga hunian membuat konsep co-living menjadi salah satu alternatif (IDN Times/Maura Thirza)

    Bagi masyarakat yang tinggal di kota besar, mencari tempat tinggal dengan lokasi strategis dan harga yang masih masuk akal, bukan perkara yang mudah. Keterbatasan lahan dan tingginya harga hunian membuat konsep co-living menjadi salah satu alternatif yang mulai dilirik untuk menjawab kebutuhan tersebut.

    Menurut Henry Goe, Director of Business Development dari Profindo Karya, konsep co-living cukup relevan dengan kondisi Jakarta yang memiliki harga tempat tinggal tinggi. Ia melihat perkembangan kos-kosan yang semakin banyak, bahkan beberapa di antaranya menawarkan fasilitas yang mendekati hotel.

    “Sebenarnya bagus banget karena di Jakarta sendiri, tempat tinggal kan gak murah. Dengan konsep co-living, kita gak perlu selalu membuat high-rise. Itu membantu banget karena saya juga melihat market-nya kos-kosan, misal dari Setiabudi sampai Karet, itu benar-benar sangat menjamur. Bahkan beberapa kos-kosan sudah mendekati hotel dengan harga sekitar Rp 7 jutaan. Dengan dibuat konsep co-living seperti ini, otomatis akan membantu orang untuk bisa tinggal secara vertikal,” ujar Henry.

  3. 3. Furnitur juga menjadi bagian dari pengalaman Co-Living

    Beragam furnitur menjadi bagian dari pengalaman pengunjung saat berada di area bersama sebuah ruang publik.
    Keberadaan furniture juga menjadi bagian dari pengalaman di sebuah common area (IDN Times/Maura Thirza)

    Tak hanya itu, keberadaan furnitur juga menjadi bagian dari pengalaman berada di sebuah common area. Menurut Robert Manan, Owner dari Rifyo, furnitur bukan sekadar pelengkap interior, tetapi sudah menjadi bagian dari gaya hidup. 

    “Furnitur adalah fashion daripada interior. Kalau kita pakai branded furniture, bedanya kan orang melihat udah tahu bahwa ini ikonik. Sesuatu desain yang ikonik pasti timeless dan menjadi koleksi dan resale value-nya ada,” jelasnya.

    Bagi Robert, memilih furnitur juga berkaitan dengan sustainability. Produk yang memiliki usia pakai panjang dapat digunakan kembali sehingga tidak cepat menjadi limbah.

    “Kalau kita beli furnitur murah, kelihatannya murah, garansinya gak ada, rusak, buang. Jadi kalau buang, jadi waste. Gak green lagi. Kalau kita ini kan sustain, resale value-nya ada, berarti kan bisa di-reuse, dipakai lagi. Walaupun konteksnya second, tapi second yang bernilai,” ujar Robert.

    Pandangan tersebut sejalan dengan konsep Co-Lifestyle yang diperkenalkan Rifyo. Dalam konsep ini, desain tidak hanya mempertimbangkan tampilan ruang, tetapi juga bagaimana ruang dan benda di dalamnya dapat mendukung kehidupan dalam jangka panjang.

    Tinggal di kota besar memang bikin kita harus pintar-pintar melihat pilihan tempat tinggal. Ketika lahan terbatas dan harga hunian semakin jadi pertimbangan, co-living bisa menjadi salah satu cara untuk menyiasatinya. Jadi, bukan cuma soal tempat tinggal bersama, tetapi bagaimana satu ruang bisa dimanfaatkan sebaik mungkin untuk kebutuhan hidup sehari-hari.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More