ilustrasi orang tersenyum (pexels.com/Andrea Piacquadio)
Dalam banyak kasus, persona sopan dan santun bukan cuma menjadi sifat alami manusia, melainkan strategi manipulatif yang digunakan individu secara sengaja untuk bisa mengelabui persepsi publik. Konsep ini juga berkaitan erat dengan teori mengenai presentasi diri milik Sosiolog Erving Goffman.
Artikel penelitian berjudul "Presentasi diri dalam Kehidupan Sehari-hari: Studi Pustaka dalam Perspektif Erving Goffman" (2018) karya Michael Jibrael Rorong, menjelaskan bahwa menurut Goffman, keberadaan manusia dalam masyarakat itu menyerupai teater yang punya panggung dan penonton. Di atas panggung sosial, individu tampil di hadapan penonton. Setiap penampilan individu dinilai, dan penampilan itu membentuk self-image sekaligus social-image. Oleh karena itu, ada dorongan naluri manusia untuk memanipulasi mata penonton agar mendapatkan penilaian yang baik.
Lebih lanjut, Goffman menjabarkan bahwa secara sadar manusia menggunakan panggung depan (front stage) berupa keramahan, kesopanan, dan senyuman untuk dikonsumsi publik. Adapun di panggung belakang (back stage), manusia dapat berperilaku lebih bebas tanpa tuntutan karakter dari lingkungan sosialnya.
Pelaku kejahatan sering menggunakan strategi ini untuk membangun branding yang bagus di tengah masyarakat. Misalnya, seorang influencer selalu tampil ramah di depan layar kaca, ia juga memperlihatkan kedermawanannya dengan berdonasi kepada orang yang membutuhkan. Bertahun-tahun ia membangun citra positif seperti itu di depan publik. Maka, saat ia berulah menjadi pelaku kejahatan, publik pun terkejut, bingung, dan seolah menolak kenyataan itu, bahkan beberapa langsung pasang badan untuk membelanya tanpa ragu. Di sinilah halo effect bekerja dan pelaku kejahatan yang menggunakan halo effect tahu betul cara memanfaatkan bias kognitif ini.