Ketua Yayasan Amai Setia, Trini Tambu sedang memberi kata sambutan di acara 3 Wajah Roehana Koeddoes yang digelar di IDN pada Jumat 6 Februari 2026 (IDN Times/Novaya)
Apa yang diperjuangkan Roehana Koeddoes lebih dari seratus tahun lalu ternyata masih memiliki gema kuat hingga hari ini. Minimnya representasi perempuan di dunia jurnalistik menjadi penanda bahwa akses terhadap ruang bicara yang setara belum sepenuhnya tercapai. Ketimpangan ini tidak hanya terlihat dari jumlah, tetapi juga dari sejauh mana perempuan dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan di ruang redaksi. Perjuangan ini pada akhirnya bukan semata soal kuantitas, melainkan juga kualitas peran: apakah perempuan diberi ruang untuk memimpin, menentukan agenda pemberitaan, serta ikut membentuk narasi publik yang memengaruhi cara masyarakat memandang realitas sosial.
Roehana Koeddoes mengajarkan bahwa jurnalisme bukan hanya sebuah profesi, melainkan juga alat perjuangan sosial yang dapat mengubah cara berpikir dan membuka kesadaran kolektif. Melalui pena dan keberanian, jurnalisme dapat menjadi medium untuk menantang ketidakadilan dan menghadirkan perspektif yang selama ini terpinggirkan. Nilai ini tetap relevan di tengah tantangan zaman yang terus berubah, ketika arus informasi semakin cepat, tetapi ketimpangan masih kerap terjadi dalam berbagai bentuk.
Mengenang Roehana Koeddoes bukan sekadar mengingat sejarah atau merayakan sosoknya sebagai figur inspiratif, melainkan juga melanjutkan semangat perjuangannya dalam konteks masa kini. Dukungan terhadap jurnalis perempuan, penciptaan ruang kerja yang aman, adil, dan inklusif, serta dorongan bagi generasi muda perempuan untuk berani terjun ke dunia media merupakan bagian penting dari upaya meneruskan warisan perjuangan tersebut. Upaya-upaya kecil di tingkat individu maupun kebijakan di tingkat institusi dapat menjadi langkah konkret untuk mempersempit jurang ketimpangan yang masih ada.
Perjalanan menuju kesetaraan memang tidak singkat dan kerap dihadapkan pada berbagai hambatan struktural maupun kultural. Namun, jejak yang ditinggalkan Roehana Koeddoes menjadi pengingat bahwa perubahan selalu bermula dari keberanian satu orang untuk melawan arus.
Hari ini, tugas kita adalah memastikan bahwa perjuangan itu tidak berhenti sebagai cerita masa lalu, melainkan terus hidup dalam praktik sehari-hari, etika kerja jurnalistik, serta kebijakan yang berpihak pada kesetaraan di dunia media masa kini.