Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Pengalaman Menghadiri Diskusi 3 Wajah Roehana Koeddoes

Poster Diskusi 3 Wajah Roehana Koeddoes (youtube.com/IDN Times)
Poster Diskusi 3 Wajah Roehana Koeddoes (youtube.com/IDN Times)
Intinya sih...
  • Acara diskusi 3 Wajah Roehana Koeddoes membahas perjalanan hidupnya sebagai jurnalis perempuan pertama di Indonesia dan bagaimana dia menginspirasi generasi berikutnya.
  • Sambutan dari Ketua Yayasan Amai Setia, Trini Tambu, Wakil Menteri Ekonomi Kreatif, Irene Umar, dan Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid menekankan pentingnya nilai-nilai perjuangan Roehana Koeddoes yang masih relevan hingga hari ini.
  • Pemutaran film Soenting Melajoe dan sesi diskusi dengan narasumber seperti Najwa Shihab, Komaruddin Hidayat, Khairiah Lubis, Trini Tambu, dan Wahyu Djatmika menjadi highlight acara tersebut.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Pada tanggal 6 Februari 2026 lalu, saya berkesempatan untuk mengikuti acara diskusi 3 Wajah Roehana Koeddoes, Pahlawan Nasional Jurnalis Perempuan Pertama di Indonesia yang diadakan di IDN HQ. Acara ini membahas tentang perjalanan hidup Roehana Koeddoes menjadi jurnalis perempuan pertama di Indonesia dan bagaimana dia menginspirasi generasi berikutnya.

Acara ini dibuka dengan sambutan dari Ketua Yayasan Amai Setia, Trini Tambu, Wakil Menteri Ekonomi Kreatif, Irene Umar, dan Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid.

Sambutan Ketua Yayasan Amai Setia, Trini Tambu

Ketua Yayasan Amai Setia, Trini Tambu sedang memberi kata sambutan di acara 3 Wajah Roehana Koeddoes yang digelar di IDN pada Jumat 6 Februari 2026 (IDN Times/Novaya)
Ketua Yayasan Amai Setia, Trini Tambu sedang memberi kata sambutan di acara 3 Wajah Roehana Koeddoes yang digelar di IDN pada Jumat 6 Februari 2026 (IDN Times/Novaya)

Trini Tambu menceritakan tentang latar belakang Yayasan Amai Setia yang merupakan tempat Roehana Koeddoes menjual hasil karyanya untuk membiayai hidup dia dan karyawannya dan juga untuk membeli tanah untuk mendirikan ruang kantornya.

Ia juga menceritakan tentang bagaimana semangat dari Roehana Koedoes menginspirasi generasi berikutnya.

Sambutan Wakil Menteri Ekonomi Kreatif, Irene Umar

Wakil Menteri Ekonomi Kreatif, Irene Umar sedang memberi kata sambutan di acara 3 Wajah Roehana Koeddoes yang digelar di IDN pada Jumat 6 Februari 2026 (IDN Times/Novaya)
Wakil Menteri Ekonomi Kreatif, Irene Umar sedang memberi kata sambutan di acara 3 Wajah Roehana Koeddoes yang digelar di IDN pada Jumat 6 Februari 2026 (IDN Times/Novaya)

Wakil Menteri Ekonomi Kreatif (Ekraf) Irene Umar menekankan pentingnya bekerja dengan ketulusan hati dan menjaga kebenaran, seperti yang dilakukan Roehana Koeddoes, pelopor jurnalis perempuan di Indonesia. Ia menyampaikan, nilai-nilai perjuangan Roehana masih sangat relevan hingga hari ini, terutama dalam konteks jurnalisme dan arus informasi yang semakin terbuka di era digital.

Menurut Irene, Roehana Koeddoes berjuang bukan demi dikenang di masa depan, melainkan semata-mata untuk memajukan nasib perempuan di sekitarnya. Ketulusan itulah yang kemudian menjadi warisan lintas generasi.

Sambutan Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid

Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid, sedang memberi kata sambutan di acara 3 Wajah Roehana Koeddoes yang digelar di IDN pada Jumat 6 Februari 2026 (IDN Times/Novaya)
Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid, sedang memberi kata sambutan di acara 3 Wajah Roehana Koeddoes yang digelar di IDN pada Jumat 6 Februari 2026 (IDN Times/Novaya)

Dalam kesempatan tersebut, Meutya mengajak publik kembali menengok perjuangan panjang perempuan di dunia pers, yang menurutnya sudah dimulai sejak awal abad ke-20, namun hingga kini masih menyisakan pekerjaan rumah besar.

Meutya mengaku kehadirannya dalam acara tersebut menjadi pengingat kuat perjuangan perempuan di dunia jurnalistik bukanlah hal baru. Roehana Koeddoes, pendiri surat kabar Sunting Melayu disebut sebagai pionir yang membuka jalan di tengah keterbatasan besar pada masanya.

Ia menilai tantangan yang dihadapi perempuan saat ini, meski berbeda konteks, tetap terasa berat. Karena itu, kisah Roehana Koeddoes menjadi sumber semangat agar perempuan tidak berhenti mengambil peran di ruang publik, khususnya di bidang jurnalistik.

Proses Diskusi 3 Wajah Roehana Koeddoes

Diskusi 3 Wajah Roehana Koeddoes di IDN pada Jumat 6 Februari 2026 (IDN Times/Novaya)
Diskusi 3 Wajah Roehana Koeddoes di IDN pada Jumat 6 Februari 2026 (IDN Times/Novaya)

Setelah sambutan, kemudian dilaksanakan pemutaran film Soenting Melajoe yang merupakan biopik dari Roehana Koeddoes.

Berikutnya adalah sesi diskusi yang diisi oleh jurnalis dan pendiri Narasi, Najwa Shihab, ketua Dewan Pers, Komaruddin Hidayat, ketua umum FJPI, Khairiah Lubis, ketua Yayasan Amal Setia Trini Tambu, dann ketua umum AMSI, Wahyu Djatmika. Sesi ini sendiri dimoderasi oleh pemred IDN Times, Uni Lubis.

Khairiah Lubis menegaskan, Roehana Koeddoes jadi spirit utama bagi jurnalis perempuan Indonesia. “Roehana bagi kita itu spirit, bagi jurnalis perempuan Roehana itu adalah spirit di FJPI, Forum Jurnalis Perempuan Indonesia, yang sejarah berdirinya tahun 2007 sekitar 18 tahun lalu dari Medan,” kata Khairiah yang akrap disapa Awi. Dia menjelaskan, semangat pembentukan FJPI tidak terlepas dari sejarah panjang jurnalis perempuan di Indonesia. Selain Roehana Koeddoes yang mendirikan media perempuan pada 1912 di Kotogadang, terdapat pula koran Perempuan Bergerak yang terbit di Medan pada 1919, yang menjadi spirit dalam pembentukan FJPI.

Pendiri Narasi sekaligus jurnalis senior Najwa Shihab menegaskan, di setiap zaman selalu ada cara untuk membungkam perempuan. Namun, di saat yang sama, selalu ada perempuan yang menemukan jalan untuk tetap bersuara. Najwa menyebut, Roehana sebagai contoh bagaimana perempuan tidak menunggu ruang publik diberikan, melainkan menciptakan ruangnya sendiri untuk berbicara dan berkarya. Menurutnya, apa yang dilakukan Roehana Koeddoes lebih dari satu abad lalu masih sangat relevan dengan perjuangan perempuan hingga hari ini.

Ketua Yayasan Kerajinan Amai Setia Koto Gadang, Trini Tambu, mengatakan perjuangan Roehana Koeddoes jauh melampaui sekadar gagasan emansipasi. Menurutnya, Roehana telah membangun infrastruktur emansipasi yang nyata melalui pendidikan, jurnalistik, dan pemberdayaan ekonomi perempuan sejak awal abad ke-20. Trini mengingatkan, jauh sebelum istilah emansipasi bergema secara nasional, Roehana Koeddoes sudah menyuarakan pentingnya pendidikan bagi perempuan lewat tulisan-tulisannya di surat kabar Sunting Melayu pada 1911. Ia mengutip salah satu tulisan Roehana berjudul Perempuan yang berbunyi, “Kaum perempuan harus dimajukan mengikuti aliran zaman. Bangsa kita masih terbelakang dalam kemajuan hidup. Untuk itu, tidak dapat tidak, kaum perempuan pun harus memasuki sekolah seperti kaum laki-laki. Karena dengan sekolah lah ilmu pengetahuan diperoleh”. Menurut Trini, tulisan tersebut bukan sekadar opini, melainkan sebuah manifesto perubahan cara berpikir bahwa perempuan memiliki peran strategis dalam pembangunan bangsa.

Pengalaman saya selama mengikuti acara ini adalah menjadi lebih tahu tentang perjuangan beliau dan berharap bisa menjadi inspirasi bagi perjalanan hidup saya sendiri.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Siantita Novaya
EditorSiantita Novaya
Follow Us

Latest in Life

See More

Pengalaman Menghadiri Diskusi 3 Wajah Roehana Koeddoes

09 Feb 2026, 13:18 WIBLife