Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Inspiration Porn: Saat Empati Berubah Jadi Eksploitasi di Dunia Digital
ilustrasi orang bermain ponsel (pexels.com/cottonbro studio)
  • Inspiration porn menggambarkan penyandang disabilitas sebagai objek inspirasi bagi orang nondisabilitas, menciptakan stigma supercrip yang menuntut mereka tampil luar biasa agar dianggap layak dihargai.
  • Konten digital yang membingkai kisah penyandang disabilitas secara dramatis berpotensi mengeksploitasi mereka, terutama jika dibuat tanpa izin dan dijadikan komoditas untuk menarik simpati publik.
  • Fenomena ini mengalihkan perhatian masyarakat dari isu nyata seperti kurangnya fasilitas publik inklusif, serta memperkuat pola pikir belas kasihan alih-alih kesetaraan bagi penyandang disabilitas.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Pernah gak kamu melihat video di media sosial yang menampilkan penyandang disabilitas sedang berjualan atau berkegiatan lainnya? Kemudian, video tersebut diiringi musik latar belakang yang mellow dengan narasi yang seolah mendikte kita untuk senantiasa bersyukur, misalnya berbunyi seperti “Orang itu memang punya keterbatasan, tetapi ia mampu melewati segala rintangan hingga berhasil meraih juara nasional.”

Video atau narasi semacam itu sekilas tampak positif dan penuh penghargaan. Namun, kalau kita menilik lebih dalam, konten semacam itu dapat mengacu pada fenomena inspiration porn. Inspiration porn adalah cara orang nondisabilitas memandang para penyandang sebagai objek inspirasi mereka. Dalam konsep ini, dari sudut pandang nondisabilitas, keberadaan penyandang disabilitas adalah untuk menghangatkan hati serta membuka pikiran mereka. Lantas, mengapa kita harus berhenti mengonsumsi inspiration porn?

1. Terjebak dalam stigma supercrip

ilustrasi orang menggunakan kursi roda (pexels.com/SHVETS production)

Supercrip merupakan salah satu bentuk dari inspiration porn. Dilansir laman Subdirektorat Layanan Disabilitas dan Pendidikan Inklusif Universitas Brawijaya, supercrip merepresentasikan penyandang disabilitas sebagai manusia super atau pahlawan luar biasa karena mampu berjuang dalam keterbatasannya. Misalnya, seorang teman disabilitas yang berhasil mendaki gunung tertinggi langsung memperoleh pujian karena dianggap hebat. Pencapaian tersebut memang luar biasa, tetapi narasi yang dibangun di ruang publik kerap berlebihan hingga menciptakan standar baru yang gak realistis.

Stigma supercrip ini seakan mendikte bahwa penyandang disabilitas layak dihargai oleh masyarakat ketika mereka mampu melakukan hal-hal yang keren. Padahal, penyandang disabilitas gak butuh pujian atau kekaguman apalagi tatapan kasihan, lho. Mereka pada dasarnya mampu berprestasi dengan cara mereka sendiri. Hal yang mereka butuhkan adalah akses untuk berpartisipasi.

2. Adanya potensi eksploitasi digital

ilustrasi orang bermain ponsel (pexels.com/Keira Burton)

Gak sedikit dari penguna media sosial yang sengaja membingkai kisah-kisah perjuangan penyandang disabilitas dengan berlebihan atau dramatis. Video mereka biasanya dibungkus dengan musik yang mendayu-dayu serta narasi yang sentimental, menjadikannya sebagai komoditas air mata. Pengguna media sosial yang menyaksikan konten semacam ini lantas merasa tergugah hatinya, terbuka pikirannya, bahkan terpacu semangatnya. Mereka pun memberikan like, komentar, dan membagikannya sehingga konten itu tersebar lebih luas dan memperoleh banyak penayangan.

Kondisi ini menciptakan potensi eksploitasi digital karena menempatkan penyandang disabilitas sebagai objek belas kasihan. Semakin ironis ketika konten tersebut dibuat diam-diam tanpa adanya persetujuan dari yang bersangkutan.

3. Mengalihkan fokus masyarakat dari masalah yang nyata

guiding block di trotoar (pexels.com/Eren Li)

Permasalahan yang masih terus ada di negara kita adalah kurangnya kehadiran fasilitas publik yang inklusif. Salah satu contoh konkretnya adalah masih banyak ditemuinya guiding block yang beralih fungsi, seperti untuk pedagang kaki lima atau untuk parkir liar. Bahkan, ada jalur yang terputus atau dihalang oleh tiang listrik dan pohon.

Nah, fenomena inspiration porn di media sosial bisa membuat masyarakat teralihkan oleh masalah nyata yang sebenarnya. Masyarakat seakan dituntut untuk fokus mengagumi kekuatan serta tekad penyandang disabilitas dan abai terhadap kelalaian infrastruktur yang terjadi.

4. Simpati berlebihan yang terus menciptakan belas kasihan

ilustrasi orang bermain ponsel (pexels.com/Photo By: Kaboompics.com)

Salah satu faktor penyebab terjadinya inspiration porn adalah simpati berlebihan. Ya, masyarakat kita memang terkenal dengan rasa empati dan kepeduliannya yang tinggi. Sebagai masyarakat komunal, tolong-menolong sudah jadi tradisi dalam kehidupan sehari-hari, ditambah lagi kita adalah masyarakat dengan gaya komunikasi high-context yang cenderung mengedepankan perasaan dan keharmonisasian kelompok.

Namun, saat kepedulian ini dibungkus dalam bentuk simpati yang berlebihan tanpa melakukan apa pun, dampaknya justru berbahaya karena menciptakan belas kasihan terus menerus. Kita akan memandang penyandang disabilitas sebagai sosok yang gak berdaya, rapuh, malang, serta selalu memerlukan pertolongan. Pola pikir semacam ini justru gak memosisikan penyandang disabilitas sebagai warga negara yang setara.

Inspiration porn itu berbahaya, baik itu dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Maka, sudah saatnya kita mengakhiri untuk mengonsumsi inspiration porn. Langkah ini bisa kita mulai dengan mengubah cara kita bermedia sosial. Yuk, ciptakan lingkungan yang inklusif!

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

Related Article