Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Single Father Hadapi 7 Stigma Berat Ini dalam Masyarakat

Single Father Hadapi 7 Stigma Berat Ini dalam Masyarakat
ilustrasi single father (pexels.com/Nguyễn Văn Minh Vương)
Intinya Sih
  • Artikel menyoroti tujuh stigma sosial yang kerap dihadapi ayah tunggal, mulai dari diragukan kemampuannya mengasuh anak hingga dianggap gagal sebagai suami.
  • Single father sering dinilai akan cepat menikah lagi, padahal kenyataannya banyak yang justru kesulitan menemukan pasangan karena tanggung jawab terhadap anak.
  • Tantangan terbesar ayah tunggal mencakup pekerjaan lapangan yang menyulitkan pengasuhan, risiko gosip saat memakai pengasuh perempuan, serta kesulitan membesarkan anak perempuan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Topik single mother lebih sering diangkat daripada single father. Salah satu penyebabnya ialah di masyarakat lebih banyak dijumpai ibu yang seorang diri membesarkan anaknya daripada ayah.

Kalau ditarik lagi ke latar belakangnya tentu bervariasi. Ada yang memang suaminya telah meninggal dunia. Tidak sedikit pula kasus perceraian dan anak yang masih di bawah umur apalagi belum remaja biasanya diserahkan pada ibu.

Meski begitu, single father juga punya permasalahan kompleks yang mesti dihadapi. Perjuangannya tidak mudah dan masih banyak stigma yang melekat pada peran mereka sebagai ayah tunggal. Mereka harus kuat secara fisik maupun mental menghadapi tujuh hal berikut.

1. Duda cerai sering dicap gak beres saat menjadi suami

single father
ilustrasi single father (pexels.com/Tom Fisk)

Sekarang banyak istri terlebih dahulu mengajukan perpisahan. Namun, masih banyak masalah rumah tangga dikaitkan dengan karakter suami yang problematik. Orang sampai menutup mata pada fakta bahwa anak ikut ayahnya.

Semestinya ini cukup menjadi tanda adanya ketidakmampuan di pihak ibu untuk melakukan pengasuhan. Tak selalu berarti ibu sarat masalah seperti perilakunya buruk. Bisa pula ibu dalam kondisi sakit atau bekerja amat jauh dan tidak memungkinkan tinggal bersama anak.

Akan tetapi, pengasuhan yang jatuh ke tangan ayah cukup sebagai bukti. Bahwa ia mampu bertanggung jawab terhadap anak. Apalagi dia tidak dengan sengaja merebut hak asuh anak dari mantan pasangannya

2. Kemampuannya mengasuh anak diragukan

single father
ilustrasi single father (pexels.com/Anna Shvets)

Pria juga sering dianggap tidak luwes dalam mengasuh anak baik ketika mereka masih lajang maupun setelah menjadi seorang ayah. Padahal, hal ini tentu tidak bisa digeneralisasikan. Apalagi saat seorang ayah sudah memutuskan atau karena keadaan harus mengurus anak seorang diri.

Mereka dapat dengan cepat belajar dan melakukannya tidak kalah baik dari ibu mana pun. Cap buruk yang buru-buru diberikan pada single father terkait kemampuan mengasuh anak hanya akan membuat segala hal yang dilakukannya terlihat salah. Padahal, mungkin bukan salah melainkan cuma beda cara mengurus anak dari kebanyakan ibu.

Misalnya, ibu umumnya melarang anak bermain kotor-kotoran. Sementara seorang ayah membebaskannya sampai puas bermain kotor-kotoran. Toh, habis itu anak bisa mandi.

3. Anggapan bakal segera menikah lagi terus lupa sama anak

single father
ilustrasi single father (pexels.com/Quyn Phạm)

Pria menduda untuk secepatnya menikah kembali. Itulah yang sering ada di benak orang-orang saat melihat duda. Apalagi dengan anak dalam pengasuhannya. Ayah tunggal sering dinilai gak bakal tahan berlama-lama hidup tanpa pasangan.

Ia pasti butuh istri baik buat mengurus dirinya maupun buah hatinya. Pandangan seperti ini sesungguhnya meremehkan kemampuannya sebagai single father. Juga seakan-akan pria bisa menikah tanpa benar-benar cinta. Terpenting ada orang yang setiap hari dapat dititipi anaknya.

4. Cenderung lebih sulit menemukan pasangan

single father
ilustrasi single father (pexels.com/Vitaly Gariev)

Berkebalikan dengan keyakinan banyak orang bahwa seorang duda dengan anak bakal buru-buru menikah lagi. Faktanya boleh jadi menemukan jodoh sejati makin tidak mudah bagi mereka. Pasalnya, lawan jenis berpikir dua kali untuk menjadi ibu sambung bagi anak-anaknya.

Banyak perempuan merasa menikah dengan single father hanya akan merepotkan mereka. Mereka bakal dibebani tugas pengasuhan anak tiri sepanjang hari sementara ayah kandungnya bebas beraktivitas. Tak heran kalau pria yang mengasuh anak seorang diri lebih lambat menikah kembali dibandingkan single mother.

5. Bekerja di lapangan menyulitkan pengasuhan anak

single father
ilustrasi single father (pexels.com/Pew Nguyen)

Tentu single mother juga perlu bekerja. Kalau tidak, bagaimana mereka akan dapat membiayai kebutuhan anak sampai ke masa depan? Bahkan bila mantan suami atau keluarganya masih memberikan nafkah, itu hanya untuk anak.

Masih banyak kebutuhan diri sendiri yang kudu dicukupi. Namun, jenis pekerjaan pria cenderung lebih banyak di lapangan dibandingkan perempuan. Kalau kebetulan seorang ayah tunggal mesti bekerja di lapangan tentu sulit buatnya mengasuh anak.

Terlebih jam kerjanya bisa sampai malam atau tidak pulang setiap hari. Mustahil anak dibawa ke sana kemari. Bahkan tempat pengasuhan anak pun tidak bersedia menjaga anak hingga 24 jam penuh apalagi lebih dari itu.

6. Memiliki pengasuh perempuan malah memicu gosip dan fitnah

pengasuh anak
ilustrasi pengasuh anak (pexels.com/Q. Hưng Phạm)

Kalau masih ada keluarga yang dapat dititipi anak selama ayah tunggal bekerja, tentu ini yang akan dipilihnya. Selain menghemat pengeluaran, keluarga juga lebih dapat dipercaya. Apabila gak ada keluarga yang dapat melakukannya, pilihannya tinggal mencari pengasuh anak.

Di Indonesia, pengasuh anak rata-rata berjenis kelamin perempuan. Ini mendatangkan masalah baru bagi single father. Sebagian orang yang melihat ada perempuan bukan saudara di rumahnya akan berpikiran negatif. Mereka curiga itu cuma akal-akalan pemilik rumah untuk bisa bermain mata dengan pengasuh anaknya.

7. Membesarkan anak perempuan lebih menantang

single father
ilustrasi single father (pexels.com/PNW Production)

Jenis kelamin anak juga berpengaruh pada tantangan yang harus dihadapi ayah tunggal. Mengasuh anak laki-laki relatif lebih mudah baginya karena mereka benar-benar tahu rasanya saat seumur anak. Sementara anak perempuan memberikan banyak pengalaman baru buat ayah.

Seperti ketika anak perempuan mengalami pertumbuhan payudara dan menstruasi. Rasa sakit serta takut melihat darah tentu bikin anak stres. Sementara ayahnya tidak tahu seperti apa persisnya ketidaknyamanan yang dirasakan anak.

Baik single mother maupun single father mempunyai tantangan masing-masing. Akan tetapi, perhatian dan dukungan terhadap ayah tunggal masih sering terlupakan. Bila ada single father di sekitarmu, hindari memberinya berbagai stigma ya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Siantita Novaya
EditorSiantita Novaya

Related Articles

See More