Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
7 Tips Jaga Semangat Menulis saat Musim Libur Panjang
ilustrasi mengerjakan artikel (pexels.com/Marko Klaric)
  • Artikel ini membahas tantangan penulis lepas menjaga semangat menulis saat musim libur panjang dan menawarkan tujuh tips praktis agar tetap produktif tanpa kehilangan motivasi.
  • Tips mencakup memanfaatkan peluang ketika penulis lain libur, menyesuaikan target tulisan, hingga mengurangi distraksi seperti media sosial yang penuh unggahan liburan.
  • Ditekankan pentingnya fleksibilitas jadwal, memilih topik bertema liburan, serta melihat sisi positif dari tetap bekerja saat banyak orang berlibur untuk menjaga semangat menulis.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Pekerjaanmu sebagai penulis artikel mungkin sering dianggap sangat menyenangkan oleh orang lain. Tentu pekerjaan ini cukup menyita pikiran. Namun, asyiknya dirimu punya kebebasan mengulas berbagai topik.

Pun umumnya menulis artikel dapat dilakukan di mana saja. Bukan pekerjaan yang mengharuskanmu ke kantor setiap hari. Apalagi statusmu memang penulis lepas. Namun, seperti freelancer lainnya, dirimu dapat merasa agak nelangsa di musim libur panjang.

Kamu membayangkan enaknya menjadi orang-orang yang memanfaatkan momen libur panjang buat berlibur ke berbagai tempat. Bagaimana supaya kamu bisa jaga semangat menulis saat musim libur panjang? Cobain tips-tips di bawah ini biar semangat nulis kuat lagi dan ide mengalir lancar.

1. Penulis lain mungkin lagi off, ini kesempatanmu

ilustrasi mengerjakan artikel (pexels.com/Anna Tarazevich)

Sebagai penulis lepas, tidak ada keharusan untukmu atau teman-teman penulis lainnya untuk tetap menyetorkan artikel. Pada dasarnya, kalian bebas mau tetap bikin artikel atau ikut libur dulu. Namun, jika dirimu ingin lebih cuan, manfaatkan saja waktu yang ada buat tetap menulis.

Katakanlah total kawan sesama penulis artikel sepertimu yang rutin menyetor tulisan ada 30 orang. Jika separuhnya menikmati libur panjang, berarti peluang artikelmu terbit malah lebih besar. Kebutuhan akan artikel untuk diterbitkan tetap, tetapi artikel yang masuk lebih sedikit. Waktunya gas pekerjaan.

2. Kalau nulis terus bikin jenuh, target artikel dikurangi

ilustrasi mengerjakan artikel (pexels.com/Pavel Danilyuk)

Jenuh menulis bisa terjadi kapan saja. Tidak hanya bertepatan dengan musim libur panjang. Namun, musim liburan memang dapat membuatmu merasa lebih cepat bosan saat menulis. Suasana di sekitar terasa berbeda.

Lengangnya bukan membuatmu tambah berkonsentrasi, malah resah. Orang-orang yang biasa hilir mudik untuk bekerja sedang berlibur ke luar kota atau bersantai penuh di rumah. Energi membuat kerja menurun.

Soal pekerjaan gak usah dipaksakan. Target harianmu juga dapat diturunkan, kok. Daripada target artikel tetap, tetapi membuatmu sangat bad mood karena merasa sedang kerja paksa. Padahal, tak ada pihak yang memaksamu untuk terus menulis.

3. Menulis aja dulu, liburan kemudian

ilustrasi mengerjakan artikel (pexels.com/www.kaboompics.com)

Rilekskan pikiranmu. Barangkali tanpa sadar kamu sudah merasa gak pernah dapat liburan seperti orang-orang. Padahal, sebenarnya bisa-bisa saja. Sekalipun musim liburan ini dirimu masih aktif mengirimkan tulisan, nanti kamu dapat mengambil libur kapan pun kamu ingin.

Misalnya, begitu musim libur panjang berakhir, gantian kamu yang piknik sampai menginap di luar kota segala. Ini hanya soal waktu. Waktu liburmu tak seperti pekerja kantoran. Gak usah terlalu sedih bila selama musim libur panjang dirimu gak ke mana-mana.

4. Kurangi buka medsos yang dipenuhi postingan liburan

ilustrasi mengerjakan artikel (pexels.com/Lucie Liz)

Menulis butuh konsentrasi tinggi dan pikiran yang tenang. Namun, keduanya mudah rusak oleh perasaan tidak nyaman, cemas, atau sedih. Termasuk ketika ketiga emosi di atas muncul karena kamu melihat unggahan orang-orang yang sedang berlibur.

Bukannya iri, tetapi daripada dirimu menjadi gak bisa menulis seperti yang telah direncanakan, mending frekuensi buka medsos dikurangi. Atau, kamu membuka media sosial hanya untuk langsung mencari topik dengan kata kunci tertentu. Gak usah scrolling tidak jelas, apalagi sengaja membuka story teman-teman yang pasti tentang liburannya.

5. Bikin artikel tentang liburan

ilustrasi mengerjakan artikel (pexels.com/Sommart Sopon)

Lantaran momennya pas libur panjang, agak susah buatmu berusaha cuek dan bekerja seperti biasa. Jadi, kenapa gak sekalian saja bikin artikel yang berkaitan dengan liburan? Jangan berpikir topik ini terlambat dan seharusnya dikirim sebelum musim libur panjang.

Musim libur panjang dalam setahun bukan cuma sekarang. Tulisanmu bakal tetap diminati editor maupun pembaca buat persiapan liburan selanjutnya. Misalnya, rekomendasi tempat wisata yang belum diketahui banyak orang, cooler box mini dan portabel untuk dibawa dalam perjalanan, cara menyusun anggaran liburan, dan sebagainya.

6. Membuat jam menulis lebih fleksibel

ilustrasi mengetik artikel (pexels.com/SHVETS production)

Tetap produktif di musim libur panjang tidak berarti kamu perlu menyiksa diri dengan jadwal yang superketat. Dirimu hanya butuh sedikit suasana berbeda supaya semangat menulis terjaga. Contoh, di hari biasa kamu bangun sebelum jam 05.00 dan langsung melakukan persiapan untuk menulis artikel pertama.

Selama libur panjang, bukan cuma jam menulismu yang boleh dimundurkan. Dirimu juga dapat bangun lebih siang supaya merasa rileks. Kalau kamu paham betul bahwa hidup ternyata dapat dinikmati tanpa terburu-buru setiap waktu, mau menulis pun rasanya ringan.

7. Melihat orang lain yang harus tetap bekerja meski libur panjang

ilustrasi penulis artikel (pexels.com/Lucie Liz)

Kamu tidak sendirian walaupun rasanya bisa seperti itu. Bila dirimu terlalu banyak melihat orang-orang yang sedang asyik berlibur, pasti rasanya menyedihkan. Seolah-olah cuma kamu yang tak pernah liburan. Padahal, boleh jadi aslinya malah lebih banyak orang tetap bekerja.

Tenaga medis, pedagang, driver, dan petugas keamanan, misalnya, tetap bekerja seperti biasa. Geser perhatianmu ke mereka agar semangat menulis tumbuh lagi. Jika perlu, pergilah ke kafe dan tulis artikel di sana.

Di kafe ada orang yang menikmati kuliner mumpung libur. Ada juga para pekerja kafe yang tetap sigap melayani pengunjung. Sama sepertimu yang hendak mengerjakan artikel.

Perasaan aneh karena kamu tetap menulis ketika banyak orang off dari pekerjaannya perlu dilawan dengan perspektif yang berbeda. Dirimu gak harus terus-menerus menulis, kok. Sedikit melonggarkan jadwal dan target menulis tak lantas membuatmu tidak produktif. Jika kamu sudah menyadari hal tersebut, sikap untuk jaga semangat menulis saat musim libur panjang bisa diterapkan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

Related Article