Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Apakah Survei Harga Produk dan Layanan sebelum Transaksi Tanda Miskin?

Apakah Survei Harga Produk dan Layanan sebelum Transaksi Tanda Miskin?
ilustrasi memilih kaus (pexels.com/MART PRODUCTION)
Share Article

Tahu gak apa yang sekarang gampang bikin orang overthinking? Media sosial memang punya banyak peran yang membuat orang selalu membandingkan diri. Apa-apa dibuat konten. Termasuk hal-hal yang sebenarnya pilihan pribadi dan tidak salah atau buruk.

Seperti kebiasaan orang melakukan survei harga dengan cermat sebelum memutuskan membeli sesuatu. Perkara sesepele itu saja kerap dikaitkan dengan tanda koceknya cekak. Sebaliknya, orang berkantong tebal diyakini gak bakal seribet itu cuma buat memutuskan membeli barang atau memakai suatu layanan.

Orang kaya dinilai selalu siap membayar berapa pun harga barang atau layanan yang diinginkannya. Namun, benarkah begitu? Melabeli seseorang miskin cuma gara-gara kesukaannya membandingkan harga sebelum beli apa pun sama sekali tidak tepat. Malah itu bisa tanda ia cerdas finansial, lho. Pahami biar kamu gak ikut suka underestimate sama orang lain.

1. Kalau gak punya duit pastinya skip sekalian

memilih produk
ilustrasi memilih produk (pexels.com/Gustavo Fring)

Daripada kamu sibuk berprasangka, coba pikirkan betapa masuk akalnya subjudul di atas. Orang yang tidak punya uang buat beli daging misalnya, buat apa repot-repot survei harga di lapak penjual daging? Semurah-murahnya harga daging sudah ada rentangnya.

Orang yang duitnya bahkan di bawah harga minimum daging lebih suka langsung mencari pilihan sumber protein lainnya. Seperti ikan dan telur. Selagi orang masih membanding-bandingkan harga produk atau layanan, artinya uangnya pasti ada.

Dia cuma lagi cari harga yang menurutnya lebih worth it. Itu gak salah. Sebab adanya perbedaan harga antara satu toko dengan toko lain memang buat kasih pilihan ke pembeli.

2. Opsi lebih murah menarik buat semua orang

memilih keranjang
ilustrasi memilih keranjang (pexels.com/AI25.Studio Studio)

Siapa sih, yang tak tertarik dengan penawaran harga lebih miring buat produk atau layanan yang sama? Bahkan orang yang duitnya banyak juga kerap tidak malu memilih apa pun yang lebih terjangkau. Justru itu salah satu rahasianya cepat kaya dan mampu mempertahankan bahkan terus menambah kekayaannya.

Sebesar-besarnya pemasukan kalau pengeluarannya juga gede jelas gak bikin orang bisa benar-benar kaya. Barangkali ia hanya terlihat kaya dari luar. Apalagi di situasi ekonomi seperti sekarang. Kenaikan penghasilan tidak seberapa, tetapi harga berbagai kebutuhan meroket.

Harga lebih murah seperti gula di mata semut. Pasti menarik. Memang belum tentu orang akan menjatuhkan pilihannya pada produk dan layanan termurah. Mereka juga paham kok, sering kali ada harga ada rupa. Namun, setidaknya mereka mempertimbangkan dengan sungguh-sungguh opsi yang lebih ramah kantong.

3. Cara cerdas gak merasa tertipu setelah bayar

memilih produk online
ilustrasi memilih produk online (pexels.com/Thirdman)

Kamu pun tahu bahwa transaksi yang sudah dibayar kerap tidak bisa dibatalkan. Artinya, bila seseorang gak cermat memilih produk atau layanan lalu menyesal cuma dapat gigit jari. Tidak terkecuali terkait harganya.

Dia membayar harga yang mahal, tapi ternyata produk atau layanannya gak bagus. Andai pun di penyedia produk atau layanan lain kualitasnya sama tapi harga lebih murah, ia menjadi tak akan sekecewa itu. Apalagi kalau dengan harga lebih rendah justru mereka memperoleh produk atau layanan yang lebih bagus.

Itu namanya keberuntungan yang diusahakan melalui kesediaan survei harga dulu. Orang yang mau belanja saja berpikir cukup panjang punya kecenderungan berhati-hati dalam segala hal. Jangan mengira dia pelit soal uang. Prinsipnya simpel dan manusiawi, yaitu lebih baik tidak kecewa daripada kecewa.

4. Bukan masalah uangnya, tapi memanfaatkan promo yang tersedia

memilih pakaian
ilustrasi memilih pakaian (pexels.com/cottonbro studio)

Misalnya, orang yang mau pesan makanan online saja mengecek dulu harga makanan, biaya pengantaran, dan biaya admin di beberapa aplikasi. Apa benar cuma angka-angka itu yang diperhatikannya? Boleh jadi kamu keliru.

Ia juga memeriksa promo yang tersedia. Sebab harga makanan dan biaya pengantaran serta admin antaraplikasi biasanya gak selisih banyak. Namun, beda soal apabila satu aplikasi sedang ada promo sedangkan aplikasi lainnya tidak.

Diskon harga yang harus dibayar menjadi lumayan sekali. Pun boleh jadi ia cukup sering menggunakan layanan pesan antar. Jika tidak memanfaatkan promo bisa-bisa bikin kantong seperti jemuran di musim kemarau alias kering dengan cepat.

5. Uang mepet juga gak apa-apa, terpenting tahu cara menyiasatinya

belanja makanan
ilustrasi belanja makanan (pexels.com/Mikhail Nilov)

Hindari menganggap situasi keuangan yang mepet sebagai memalukan. Ini kerap terjadi dalam hidup siapa pun. Meski seseorang bekerja seperti biasa, terkadang ada lebih banyak kebutuhan. Uang yang ada mesti diatur sedemikian rupa biar cukup.

Semua orang dewasa pasti pernah berada di situasi ini. Orang yang gajinya gede sekalipun dapat merasa uangnya mepet ketika berhadapan dengan banyak kebutuhan. Bukan uang mepet yang menjadi poin pentingnya.

Namun, kemampuan seseorang untuk tetap survive dalam kondisi begini. Memilih produk atau layanan dengan cermat dari sisi harga adalah cara mencegah duit habis sebelum gajian. Justru apa yang dilakukannya perlu diapresiasi karena itu tanda seseorang gak dengan mudah memutuskan utang. Ia berusaha mencukupkan diri dengan dana yang tersedia.

Kamu boleh saja membeli produk atau memakai layanan apa pun tanpa mencari harga yang lebih murah. Akan tetapi, jangan sinis dan mentertawakan orang dengan sikap berbeda. Bukan tidak mungkin ia malah memiliki lebih banyak kekayaan daripada yang bisa dilihat olehmu.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More