Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Kenapa Membatasi Scrolling Bikin Tenang? Kebiasaan Baru yang Positif

Kenapa Membatasi Scrolling Bikin Tenang? Kebiasaan Baru yang Positif
ilustrasi santai (pexels.com/Sóc Năng Động)
Share Article

Bila ditotal, berapa jam yang dihabiskan olehmu untuk scrolling setiap harinya? Boleh jadi cukup banyak dan meliputi berbagai media sosial. Sejak bangun tidur pun benda pertama yang dipegang ialah smartphone.

Dirimu sebenarnya sudah bangun jam 05.00, tapi buka-buka medsos dulu sampai hampir pukul 06.00. Begitu juga dengan sepanjang hari nanti. Di setiap jeda aktivitas pasti kamu main media sosial cukup lama. Bahkan di tengah kegiatan yang seharusnya dirimu fokus pun tetap refleks scrolling.

Jika ini sudah terlalu sering dilakukan sampai mengganggu produktivitasmu, kamu butuh diet menggulir layar. Batasi frekuensi serta durasimu scrolling. Seperti orang-orang yang telah terlebih dahulu melakukannya, dirimu bakal merasa hidup lebih tenang. Berikut penjelasannya.

1. Waktu terasa berjalan lebih lambat, tidak terburu-buru

membaca buku
ilustrasi membaca buku (pexels.com/Vitaly Gariev)

Kamu pasti juga sering merasakan betapa waktu tiba-tiba berjalan sangat cepat gara-gara keasyikan scrolling. Niatnya dirimu cuma buka-buka medsos biar kantuk hilang dan siap mandi pagi. Namun, ternyata sudah menghabiskan waktu 30 menit bahkan lebih.

Menggulir layar yang semula cuma dimaksudkan untuk selingan malah menjadi aktivitas utama sepanjang hari. Ketika pembatasan scrolling mulai dilakukan, waktumu seakan-akan kembali. 24 jam sehari terasa penuh.

Kamu gak lagi kaget tiba-tiba mendapati sudah jam sekian lantaran kelamaan scrolling. Malah setiap dirimu melihat jam sadar bahwa ternyata masih cukup pagi. Mode terburu-buru serta perasaan gak punya waktu telah menjadi masa lalu.

2. Kamu bisa memakai waktu untuk hal-hal yang lebih bermanfaat

fokus bekerja
ilustrasi fokus bekerja (pexels.com/Marko Klaric)

Memang scrolling media sosial terasa enak dan bikin betah. Akan tetapi, sering kali setelahnya malah timbul rasa bersalah. Sebab dirimu sebenarnya tahu bahwa aktivitas tersebut kurang bermanfaat.

Malah cenderung merugikan. Selain banyak waktu terbuang percuma, kuota internet juga lekas habis. Belum lagi kamu kerap tertipu konten hoaks atau buatan AI. Rasa bersalah yang muncul berulang pasti bikin tekanan mental.

Saat kamu berani tegas ke diri sendiri untuk tak terus-terusan main HP, dirimu mengalihkan energi buat kegiatan yang lebih bermanfaat. Seperti bekerja, membaca, atau beres-beres. Kamu merasa menjadi pribadi yang lebih utuh dengan produktivitas tersebut.

3. Pikiran gak penuh oleh berbagai konten

bersih-bersih
ilustrasi bersih-bersih (pexels.com/Vitaly Gariev)

Kalau kamu scrolling selama 30 menit dan muncul konten video berdurasi 1 menit, berarti sudah 30 beban pikiran memasukimu. Ini disebut beban sebab semua yang telanjur diterima indra-indramu tidak mungkin diabaikan begitu saja. Apa pun tema kontennya, pikiranmu menjadi bercabang-cabang.

Ada konten tentang politik, selebritas, isu lingkungan, joget-joget, belanja 10 ribu rupiah di tangan istri yang tepat, hingga nuansa pornografi. Dirimu belum melakukan aktivitas apa pun di pagi hari. Namun, semua konten tersebut telah terlebih dulu membuatmu stres.

Bayangkan apabila dirimu menggulir layar jauh lebih lama atau sering. Kamu kebanjiran informasi yang tak terhitung lagi. Dengan mengurangi kebiasaan scrolling, isi pikiran jauh berkurang. Kamu masih punya banyak ruang dalam kepala untuk hal-hal lain yang lebih utama. Selebihnya berarti waktunya mengistirahatkan pikiran.

4. Kebiasaan membandingkan diri berkurang

mengobrol
ilustrasi mengobrol (pexels.com/Gustavo Fring)

Di media sosial, kamu bisa melihat begitu banyak cara hidup orang. Memang tidak semuanya terlihat lebih baik daripada cara hidupmu. Akan tetapi, biasanya orang sengaja lebih mengekpos kehidupan yang wah.

Terlepas dari keadaan aslinya seperti apa, kamu yang melihatnya otomatis membandingkan diri. Orang-orang seperti bisa makan di restoran tiap hari. Sementara dirimu tiap makan di luar hanya di pedagang kaki lima atau warteg.

Jika waktu main ponsel dikurangi, kesempatan membandingkan diri pun berkurang. Kamu tak terpapar terlalu banyak cuplikan kehidupan orang lain. Kamu dapat lebih fokus ke kehidupanmu sendiri. Cara hidup begini setenang orang bertahun-tahun lalu sebelum media sosial ada.

5. Mata, jari-jari, dan leher gak capek

pasangan bahagia
ilustrasi pasangan bahagia (pexels.com/Meruyert Gonullu)

Cuma geser-geser layar doang memang kelihatannya kegiatan yang sangat ringan. Beda dengan olahraga lari keliling lapangan, angkat beban, atau pekerjaan merenovasi rumah. Namun, gerakan yang monoton, berulang, dan dilakukan dalam waktu lama pasti ada efeknya ke seluruh bagian tubuh.

Utamanya jari-jari yang dapat terasa kebas di bagian ujung-ujungnya. Juga pegal bahkan sakit di jari hingga tangan lantaran posisi memegang gadget berjam-jam. Mata apalagi kamu gak memakai kacamata antiradiasi juga pasti sangat lelah.

Mata terasa kering, pedas, hingga pegal di area sekitarnya. Leher pun ikut kaku karena posisi yang sama, yaitu menunduk memandangi layar smartphone. Pemulihannya bisa berhari-hari. Malah dapat sampai butuh terapi khusus jika cederanya telah parah dan lama. Tanpa semua siksaan jasmani itu hidup terasa lebih menyenangkan.

6. Lebih banyak berinteraksi dengan orang-orang di sekitarmu

bersama teman-teman
ilustrasi bersama teman-teman (pexels.com/Oktay Köseoğlu)

Bisa saja sepanjang kamu scrolling juga berinteraksi dengan teman di ruang maya. Misalnya, dengan saling mengomentari status. Dirimu bahkan dapat berinteraksi dengan sesama warganet sekalipun tak saling mengenal.

Contohnya, saat kamu mengomentari sebuah konten yang melintas di beranda. Lalu orang lain membalas komentarmu. Namun, seluruh bentuk interaksi di ruang maya itu tidak sama dengan interaksi secara langsung dengan orang-orang di sekitarmu. Kehangatan yang dirasakan nyaris gak ada.

Beda dengan komunikasi face to face yang membuat kalian dapat saling mengamati ekspresi wajah seraya bahasa nonverbal lainnya. Begitu smartphone ditaruh, dirimu dapat bercakap-cakap bersama orang-orang di rumah. Juga teman di kantor atau sekadar orang yang tidak sengaja ditemui di jalan. Kehadiran mereka lebih nyata ketimbang sekadar percakapan virtual.

Stop sama sekali dari memakai media sosial mungkin berlebihan apabila kamu masih mendapatkan sejumlah manfaat. Seperti akses berita terkini yang sangat cepat dan ide buat pekerjaanmu. Akan tetapi, gak keseringan scrolling bakal bikin hidupmu lebih damai.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More