6 Kebiasaan Kecil yang Membuat Skill Literasi Digital Meningkat

Take a Deeper Reads

Hampir setiap hari kamu bersentuhan dengan dunia digital. Bangun tidur melihat notifikasi, mencari informasi lewat mesin pencari, membuka media sosial, sampai menonton video untuk belajar sesuatu yang baru. Tanpa sadar, cara kamu menggunakan internet sebenarnya ikut membentuk kemampuan literasi digital.
Literasi digital bukan cuma tentang bisa menggunakan aplikasi atau memahami fitur terbaru di HP. Ada kemampuan untuk mencari, memahami, mengevaluasi, menggunakan, dan membagikan informasi secara tepat. Kabar baiknya, kemampuan tersebut gak harus dibangun lewat kebiasaan yang rumit karena beberapa langkah kecil dalam aktivitas sehari-hari sudah bisa menjadi awal yang baik.
1. Biasakan membaca informasi sampai selesai

Ilustrasi literasi digital (pexels.com/freestocks.org) Kamu pernah gak melihat judul sebuah berita, lalu langsung merasa tahu apa yang sedang terjadi? Kebiasaan membaca hanya dari judul atau potongan informasi bisa membuat pemahamanmu kurang lengkap. Judul memang dibuat untuk menarik perhatian, tetapi konteks penting biasanya baru terlihat setelah kamu membaca keseluruhan isi.
Coba mulai membiasakan diri membaca informasi sampai bagian akhir, terutama jika topiknya penting. Perhatikan siapa yang menulis, sumber yang digunakan, kapan informasi diterbitkan, dan apa sebenarnya inti pembahasannya. Kebiasaan sederhana ini membantu kamu menjadi pembaca yang gak gampang mengambil kesimpulan hanya dari beberapa kalimat.
2. Biasakan bertanya, 'Sumbernya dari mana?'

Ilustrasi literasi digital (pexels.com/@felipepelaquim -) Ketika menemukan informasi menarik di media sosial, jangan langsung menganggapnya sebagai fakta. Coba ajukan satu pertanyaan sederhana dalam kepala: 'Sumbernya dari mana?' Pertanyaan kecil ini bisa membuat kamu berhenti sejenak sebelum percaya atau membagikan informasi tersebut.
Kamu bisa melihat apakah informasi berasal dari lembaga resmi, media yang jelas, penulis tertentu, atau hanya akun yang identitas dan sumbernya gak diketahui. Kalau sebuah klaim cukup penting, cari sumber aslinya dan lihat apakah informasi tersebut memang sesuai konteks. Semakin sering dilakukan, kebiasaan mengecek sumber akan terasa semakin natural.
3. Suka mencari informasi pembanding

Ilustrasi literasi digital (pexels.com/picjumbo.com) Satu artikel bisa memberikan penjelasan yang berbeda dari artikel lainnya. Kondisi ini gak selalu berarti salah satu sumber pasti keliru karena setiap sumber mungkin memiliki fokus dan sudut pandang yang berbeda. Justru, perbedaan tersebut bisa menjadi alasan buat kamu mencari informasi tambahan.
Kamu gak perlu membuka banyak situs untuk setiap informasi yang ditemukan. Cukup bandingkan beberapa sumber yang relevan, terutama ketika topiknya penting atau kontroversial. Cara ini membantu kamu melihat persoalan secara lebih utuh sekaligus melatih kemampuan untuk menilai informasi secara kritis.
4. Suka mencatat informasi yang dianggap penting

Ilustrasi literasi digital (pexels.com/RF._.studio _) Pernah menemukan informasi bagus di internet, tetapi beberapa hari kemudian lupa apa isinya? Kebiasaan mencatat bisa membantu mengatasi hal tersebut. Kamu bisa menggunakan aplikasi catatan di HP untuk menuliskan ide, istilah baru, poin penting, atau sumber bacaan yang ingin kamu pelajari kembali.
Menariknya, mencatat juga membuat kamu gak sekadar menerima informasi. Saat menuliskan kembali menggunakan bahasa sendiri, kamu perlu memahami terlebih dahulu apa yang sebenarnya sedang dibaca atau didengar. Dari sini, aktivitas digital yang sederhana bisa berubah menjadi proses belajar yang lebih aktif.
5. Berpikir sebelum menekan tombol share

Ilustrasi literasi digital (pexels.com/Eugene Laszczewski) Tombol share memang cuma membutuhkan satu sentuhan. Namun, informasi yang kamu bagikan bisa diteruskan lagi oleh orang lain dan menjangkau lebih banyak orang. Karena itu, sebelum membagikan sesuatu, coba tanyakan kepada diri sendiri apakah informasinya benar, sumbernya jelas, dan memang perlu dibagikan.
Kamu juga perlu memperhatikan informasi pribadi yang muncul dalam sebuah unggahan. Foto, nomor telepon, alamat, dokumen, atau data seseorang gak seharusnya disebarkan sembarangan. Kebiasaan berpikir sebelum membagikan sesuatu menunjukkan bahwa kamu bukan hanya mampu menggunakan teknologi, tetapi juga memahami tanggung jawab sebagai pengguna ruang digital.
6. Sisihkan waktu untuk belajar dari internet

Ilustrasi literasi digital (pexels.com/Perfecto Capucine) Internet gak harus selalu menjadi tempat mencari hiburan. Kamu juga bisa menggunakannya untuk belajar keterampilan baru, membaca artikel, mengikuti webinar, mendengarkan podcast edukasi, atau menonton video yang menjelaskan suatu topik. Gak perlu mengubah seluruh waktu scrolling menjadi sesi belajar karena sedikit saja sudah cukup untuk memulainya.
Coba pilih satu topik yang memang kamu sukai dan cari konten berkualitas tentang hal tersebut. Kalau ada istilah yang belum dipahami, cari penjelasan tambahan dan simpan sumber yang menurutmu bermanfaat. Kebiasaan seperti ini perlahan membuat internet bukan cuma menjadi tempat menghabiskan waktu, tetapi juga ruang untuk memperluas wawasan.
Kemampuan literasi digital sebenarnya tumbuh dari banyak keputusan kecil yang kamu lakukan setiap hari. Membaca sampai selesai, mengecek sumber, membandingkan informasi, mencatat, dan berpikir sebelum membagikan sesuatu mungkin terlihat sederhana. Tapi kalau dilakukan secara konsisten, kebiasaan tersebut bisa mengubah cara kamu berinteraksi dengan informasi di dunia digital.
Jadi, gak perlu menunggu sampai kamu merasa 'jago digital' untuk mulai meningkatkan kemampuan ini. Cukup pilih satu kebiasaan dari enam hal tadi dan mulai lakukan hari ini. Karena menjadi pengguna digital yang cerdas bukan soal tahu semua hal, tetapi tahu kapan harus membaca, bertanya, mengecek, dan berpikir.
























