Ilustrasi merawat tanaman (pexels.com/Rizky Sabriansyah)
Tidak bisa dimungkiri, media sosial juga ikut membuat tanaman makin populer di kalangan Gen Z. Foto kamar dengan tanaman hijau terlihat lebih estetik, lebih nyaman, dan memberi kesan hidup yang tenang. Banyak konten TikTok atau Pinterest yang menampilkan sudut rumah dengan tanaman sebagai simbol self-care dan ketenangan hidup.
Namun di sisi lain, tekanan media sosial juga membuat banyak anak muda merasa lelah secara mental. Dr. Manju Rani, PhD psikolog dan assistant professor, menyebut fenomena ini sebagai aesthetic fatigue.
"Ini merupakan keadaan yang meluas dan melelahkan secara emosional yang mencerminkan dampak diam-diam dari menjalani hidup dengan penuh kepuasan. Kelelahan estetika muncul dari kebutuhan yang konstan, seringkali kompulsif, untuk menampilkan diri secara visual menarik, dapat diterima secara sosial, dan memberikan imbalan secara algoritmik di platform seperti Instagram, TikTok, dan Pinterest," jelasnya dalam Psychologist Manju Antil.
Karena itu, tanaman menjadi semacam penyeimbang. Walaupun awalnya dibeli karena estetik, banyak orang akhirnya benar-benar menikmati proses merawatnya. Tanaman membantu menciptakan suasana yang lebih hangat dan lebih “manusiawi” di tengah hidup digital yang kadang terasa terlalu ramai dan melelahkan.
Di tengah dunia digital yang terus bergerak tanpa henti, banyak anak muda mulai sadar bahwa kebahagiaan tidak selalu datang dari hal besar. Kadang, melihat daun baru tumbuh atau menyiram tanaman di pagi hari saja sudah cukup membuat hari terasa lebih ringan.