Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Tahun Ajaran Baru Diwarnai Drama Flexing Orangtua di Sekolah Bergengsi

Tahun Ajaran Baru Diwarnai Drama Flexing Orangtua di Sekolah Bergengsi
ilustrasi back to school (pexels.com/Pavel Danilyuk)
Intinya Sih
  • Tahun ajaran baru sering diwarnai unggahan orangtua di media sosial yang tanpa sadar berubah jadi ajang flexing, terutama di sekolah bergengsi.
  • Bentuk flexing yang muncul meliputi pamer biaya sekolah, perlengkapan branded, mobil mewah, hingga gaya hidup fancy bersama sesama wali murid.
  • Artikel menyoroti pentingnya menjaga sikap agar semangat mendampingi anak tidak bergeser menjadi pamer status sosial di dunia maya.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Setiap tahun ajaran baru, berbagai media sosial diramaikan dengan postingan bertajuk back to school. Begitu anak dinyatakan diterima menjadi siswa di sebuah sekolah, orangtua mulai mengunggah berbagai hal. Mulai persiapan MPLS, rapat orangtua murid, belanja perlengkapan sekolah, dan sebagainya.

Tentu hal di atas tidak salah apalagi terlarang. Orangtua pasti antusias menyambut tahun ajaran baru. Terlebih sekolahnya bergengsi. Sudah pasti orangtua bangga sekali anaknya dapat diterima di sana.

Pun jika anak tahu orangtua mengunggah ini itu terkait sekolahnya diharapkan bisa menambah motivasi anak. Ia menjadi lebih mantap memulai hari pertama di sekolah. Namun, semua orangtua hendaknya tetap menjaga diri guna menghindari sikap diam-diam flexing seperti di bawah ini.

1. Share berlebihan tentang biaya sekolah anak yang mahal

keluarga
ilustrasi keluarga (pexels.com/sofatutor)

Mahal atau murahnya biaya sekolah anak sangat relatif. Tergantung kemampuan finansial orangtua. Akan tetapi, tentu terdapat angka rata-rata biaya sekolah yang terjangkau kebanyakan kalangan dengan di atasnya.

Orangtua yang mulai terjebak flexing gak sungkan untuk mengupas biaya pendidikan anaknya yang setinggi langit di postingan yang bisa dibaca semua orang. Memang itu tujuannya supaya orang-orang mengetahuinya. Beda dengan orang yang takut pamer. Kalaupun mereka ditanya di media sosial pasti jawabannya lewat pesan pribadi yang lebih privat.

2. Unggahan seputar perlengkapan sekolah anak yang di atas rata-rata

anak dan ayahnya
ilustrasi anak dan ayahnya (pexels.com/Yan Krukau)

Paham sih, orangtua mana pun pasti cepat-cepat berbelanja aneka perlengkapan sekolah anak. Apalagi kalau ini pertama kalinya anak masuk sekolah. Semua peralatan sekolahnya baru. Dari tas, sepatu, sampai tumbler dan kotak bekal.

Orangtua murid yang gemar pamer menjadikannya kesempatan untuk mempertontonkan peralatan sekolah mahal yang dapat dibelinya. Mereka menyebutkan merek dan harga tas, sepatu, dan sebagainya. Mereka seperti ingin memastikan setiap orang tahu bawa barang-barang anaknya branded serta asli.

3. Memperlihatkan jajaran mobil di lingkungan sekolah

barisan mobil
ilustrasi barisan mobil (pexels.com/HRK Gallery)

Unggahannya mungkin gak langsung terlihat pamer. Seperti video ia sedang menyetir pelan dan mencari tempat parkir. Lalu dia berkata bahwa di sekolah anaknya sulit sekali mencari tempat parkir. Saking semua orangtua membawa mobil.

Pun mobilnya gak ada yang harganya di bawah 200 juta rupiah. Ini sama dengan ingin memperlihatkan kelas sosial ekonomi orangtua yang anaknya bersekolah di sana. Termasuk dirinya sendiri.

4. Posting hangout bareng walmur di tempat fancy

keluarga
ilustrasi keluarga (pexels.com/Nasirun Khan)

Tentu bagus apabila para orangtua murid bisa segera berkenalan dan membaur. Meski anak yang bersekolah, kekompakan orangtua juga penting. Supaya grup wali murid tidak banyak drama. Anak-anak pun dapat lebih fokus belajar.

Sayangnya, beberapa orangtua yang gemar pamer menodai semangat menjalin hubungan baik tersebut. Jika mereka hanya sedang menunggu jam pulang di kantin sekolah tak pernah diunggah. Begitu tempat nongkrongnya fancy serta bareng wali murid yang terlihat berkelas maka diunggah berkali-kali di semua akun media sosialnya.

5. Menunjukkan belanja outfit khusus antar jemput anak

ayah dan putranya
ilustrasi ayah dan putranya (pexels.com/Timur Weber)

Pastinya orangtua gak boleh sembarangan berpakaian ketika mengantar serta menjemput anak di sekolah. Mereka harus tampil sopan sesuai dengan peraturan yang berlaku di sekolah tersebut. Namun, semestinya belanjaan outfit gak perlu diunggah ke media sosial.

Akan tetapi, keinginan flexing mendorong sebagian orangtua tak malu-malu memperlihatkan belanjaannya. Semuanya ditunjukkan secara gamblang. Mulai dari model pakaian, merek, harga, serta tempat membelinya. Pastinya bukan pakaian sembarangan yang bisa dibeli siapa saja.

6. Terus membahas kualitas guru dan lulusannya

anak dan gurunya
ilustrasi anak dan gurunya (pexels.com/Ahmet Kurt)

Sebelum orangtua mendaftarkan anak ke sekolah tentu mereka sudah melakukan survei mendalam. Terutama terkait kualitas tenaga pengajar dan lulusannya di samping biayanya. Orangtua ingin segala yang terbaik buat anak.

Sayangnya, orangtua yang suka flexing menjadikan hasil surveinya buat membanggakan diri secara berlebihan. Seakan-akan mereka yakin sekali kualitas pengajar serta lulusan di sekolah tersebut otomatis membuat anaknya bermasa depan lebih cerah daripada murid di sekolah lain.

7. Mengumbar les-les berbiaya tinggi yang diikuti anak

latihan bela diri
ilustrasi latihan bela diri (pexels.com/cottonbro studio)

Anak tentu membutuhkan tambahan kegiatan yang positif di luar sekolah. Berbagai les untuk anak sekarang tersedia. Bukan cuma les pelajaran. Ada pula les olahraga, bela diri, musik, dan sebagainya. Ini bagus sekali buat meningkatkan kemampuan belajar anak.

Juga memfasilitasi bakat serta minatnya. Biaya les bermacam-macam. Gak semua les berbiaya tinggi lebih baik daripada les yang lebih murah. Akan tetapi, beberapa orangtua menjadikan tingginya biaya les anaknya buat mencari validasi di media sosial. Makin mahal ongkosnya, makin mereka suka memamerkannya.

Semangat orangtua mendampingi anak di tahun ajaran baru sebaiknya jangan melenceng menjadi aksi pamer sana sini. Nanti orangtua justru gak fokus dalam membimbing anak yang masih proses adaptasi. Anak juga dapat kurang nyaman jika tahu orangtua suka flexing terkait pendidikannya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More