Menurut Florence Van Herreweghen dari Center for Microbial Ecology and Technology (CMET), Ghent University, “Bau pakaian yang tetap ada meskipun dicuci berasal dari metabolisme bakteri pada keringat dan sebum, yang menghasilkan senyawa volatil (volatile organic compounds/VOCs) penyebab bau," dikutip dari jurnal berjudul Biological and Chemical Processes that Lead to Textile Malodour Development.
Kenapa Bau Keringat Masih Nempel Padahal Baju Sudah Dicuci?

- Bau keringat yang tetap menempel setelah dicuci disebabkan oleh bakteri yang membentuk biofilm di serat kain, terutama pada bahan sintetis seperti poliester.
- Keringat mengandung protein dan lipid yang menjadi makanan bakteri; residunya sulit hilang dari kain sintetis meski sudah dicuci dengan deterjen biasa.
- Mesin cuci kotor atau cara mencuci yang salah dapat memperparah bau; membersihkan mesin dan mencuci sesuai kapasitas membantu menjaga pakaian tetap segar.
Pernahkah kamu merasa kesal karena baju yang baru dicuci ternyata masih meninggalkan aroma tak sedap? Padahal, kita sudah mencuci dengan deterjen wangi dan air bersih. Hal ini ternyata lebih umum daripada yang dibayangkan. Bau keringat yang “menempel” setelah dicuci biasanya bukan karena kita malas mencuci, melainkan karena beberapa faktor ilmiah yang tersembunyi di balik kain dan keringat itu sendiri.
Menyadari penyebabnya penting agar kita bisa tetap percaya diri memakai pakaian favorit tanpa harus mencucinya berkali-kali. Mari kita ulas beberapa alasan mengapa bau keringat tetap ada dan cara mengatasinya!
1. Sisa bakteri di serat pakaian

Meskipun baju tampak bersih, bakteri dari kulit sangat memungkinkan menempel pada serat kain bahkan setelah dicuci. Bakteri ini membentuk biofilm, yaitu komunitas yang saling melindungi dan menyimpan residu keringat.
Menghandari hal ini jenis kain sintetis seperti poliester lebih mudah menahan bakteri dan VOC dibandingkan kain alami seperti katun atau wol, sehingga bau lebih sulit dihilangkan. Struktur serat sintetis yang rapat memerangkap bakteri dan senyawa volatil lebih kuat, sementara kain alami memiliki pori-pori yang lebih longgar sehingga lebih mudah dilepaskan saat dicuci.
2. Keringat yang meresap ke kain

Keringat sebenarnya hampir tidak berbau, tetapi mengandung protein, garam, dan lipid yang menjadi makanan bagi bakteri. Ketika molekul ini terserap ke serat kain, terutama pada kain sintetis, residu ini bisa tetap ada setelah pencucian biasa.
Rachel H. McQueen dan Sara Vaezafshar menjelaskan, “VOC yang berasal dari keringat dan metabolit bakteri dapat teradsorpsi kuat pada kain, sehingga pencucian standar tidak selalu menghilangkan bau sepenuhnya," dikutip dari penelitian Odor in textiles: A review of evaluation methods, fabric characteristics, and odor control technologies.
Untuk mengurangi bau, rendam pakaian sebentar dengan air hangat. Menambahkan baking soda atau cuka juga bisa membantu melarutkan residu keringat dan mengurangi senyawa penyebab bau (VOC).
3. Mesin cuci atau cara mencuci yang kurang tepat

Mesin cuci yang jarang dibersihkan bisa menjadi sumber bau tersendiri, karena kotoran, residu deterjen, dan sisa pakaian sebelumnya bisa menempel dan menimbulkan aroma pada pakaian yang dicuci berikutnya. Mencuci terlalu banyak pakaian sekaligus atau menggunakan siklus cepat tanpa bilasan tambahan membuat deterjen tidak meresap sempurna, sehingga sisa keringat dan senyawa penyebab bau tetap tertinggal di serat kain.
Untuk mengatasinya, rutin membersihkan mesin cuci, mencuci sesuai kapasitas yang dianjurkan, dan memilih siklus yang tepat sangat penting. Langkah-langkah ini tidak hanya membantu mengurangi bau, tetapi juga menjaga pakaian tetap bersih, segar, dan lebih tahan lama.
Bau keringat yang tetap menempel setelah dicuci bukan hanya karena pakaian terlihat kotor, tetapi merupakan hasil interaksi antara mikroba, sisa keringat, senyawa volatil, dan serat kain. Dengan memahami penyebabnya, kita bisa menerapkan cara mencuci dan merawat pakaian yang lebih efektif sehingga pakaian tetap bersih, segar, dan nyaman dipakai setiap hari.