Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Kenapa Pakaian saat Melayat Identik Warna Hitam? Ini Alasannya

Kenapa Pakaian saat Melayat Identik Warna Hitam? Ini Alasannya
ilustrasi orang berduka (pexels.com/cottonbro studio)
Intinya Sih
  • Warna hitam telah lama diasosiasikan dengan duka sejak abad ke-14 di Eropa dan makin populer pada era Queen Victoria sebagai simbol kesedihan mendalam.
  • Di budaya Katolik Eropa, Yunani, dan Meksiko, pakaian hitam dipakai janda sebagai tanda kesetiaan, penghormatan pada mendiang suami, serta penanda status sosial berkabung.
  • Hingga kini warna hitam masih digunakan saat melayat, meski durasinya lebih singkat; beberapa daerah seperti Bali justru memakai warna putih dalam prosesi pemakaman.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Seperti sudah menjadi aturan tidak tertulis, jika melayat seseorang yang meninggal, biasanya kita akan memakai pakaian warna hitam. Oleh karena itu, warna hitam sering kali dikaitkan dengan momen berduka cita.

Lantas, bagaimana awal mula orang mulai menggunakan pakaian serba hitam ketika tengah melayat? Ternyata di beberapa kepercayaan dan budaya masyarakat, hal ini sudah lama dilakukan. Berikut penjelasan singkat yang telah dirangkum dari berbagai sumber.

1. Awal mulai hitam dikaitkan dengan warna berkabung

pexels-talharesitoglu-36605653.jpg
ilustrasi patung ratu Victoria (pexels.com/Talha Resitoglu)

Mungkin kamu pernah mendengar kisah tentang Queen Victoria yang berkabung atas meninggalnya sang suami, Pangeran Albert, pada tahun 1861. Sepeninggal suaminya, sang ratu mengenakan pakaian hitam selama 40 tahun sebagai tanda duka cita yang mendalam. Namun ternyata, penggunaan warna hitam sebagai simbol duka cita bukan dimulai pada masa Victoria, tapi sudah jauh sebelumnya.

Dilansir dari Pitt Rivers Museum, University of Oxford, warna hitam telah lama diasosiasikan dengan duka, terutama di Inggris dan Eropa, bahkan sejak abad ke-14. Baru budaya ini berkembang dan menjadi populer di era Queen Victoria, semenjak berpulangnya Pangeran Albert. Selain itu, di beberapa budaya seperti wilayah Eropa Katolik, Yunani, dan Meksiko, pakaian berwarna hitam bisa digunakan dalam jangka waktu lama, bahkan seumur hidup bagi seorang janda.

2. Tradisi di wilayah Eropa Katolik

pexels-deluca-g-412104326-16654001.jpg
ilustrasi gereja di pedesaan (pexels.com/DeLuca G)

Masih dilansir laman Pitt Rivers Museum, University of Oxford, yang dimaksud dengan wilayah Eropa Katolik adalah daerah-daerah di Eropa yang tradisi ritual dan sosialnya dipengaruhi oleh gereja Katolik, seperti Italia, Spanyol, Portugal, dan beberapa wilayah pedesaan di Prancis dan Eropa Tengah. Di kawasan pedesaan, istri yang ditinggal meninggal oleh suaminya, akan mengenakan pakaian serba hitam. Ini sebagai tanda dari kesetiaan dan kesedihan yang mendalam.

Warna hitam di sini bisa menjadi simbol masa berkabung. Pada masa itu, kebiasaan ini berkaitan dengan norma sosial dan agama, yakni :

  • Menunjukkan rasa hormat seorang istri pada suaminya yang telah wafat
  • Menandakan status sesorang sebagai janda
  • Mencerminkan kehidupan yang lebih sederhana dan religius

3. Tradisi Yunani

pexels-areti-kr-537690972-16608052.jpg
ilustrasi patung Yunani (pexels.com/Areti Kr.)

Dalam laman Pitt Rivers Museum, University of Oxford, dijelaskan bahwa di Yunani, para janda (khususnya di wilayah rural) bisa mengenakan pakaian hitam sepanjang sisa hidupnya semenjak sang suami meninggal dunia. Dalam budaya Yunani tradisional, warna hitam tak hanya sebagai simbol duka, melainkan juga penghormatan bagi mendiang suami, kesetiaan pernikahan, hingga identitas seseorang yang kehilangan pasangannya.

Pada masa Yunani kuno, perempuan memiliki peranan penting dalam menghayati duka cita. Di antaranya adalah :

  • Meratap (lament)
  • Merobek pakaian
  • Menarik rambut
  • Mengenakan pakaian sederhana atau gelap

Tradisi meratapi kematian ini sudah ada sejak periode Arkaik dan Homerik. Di Yunani, terutama daerah pedesaan, pakaian hitam dimaknai sebagai simbol kehilangan pasangan, status janda, penghormatan spiritual, dan penanda sosial agar masyarakat sekitar memahami bahwa yang bersangkutan tengah berduka.

4. Meksiko yang dikenal penuh warna, juga memaknai warna hitam sebagai duka cita mendalam

pexels-minimoy-29227747.jpg
ilustrasi Día de los Muertos (pexels.com/Moisés Fonseca)

Di wilayah pedesaan Meksiko, para janda juga akan mengenakan pakaian serba hitam untuk menunjukkan rasa berkabung mereka. Hal ini sangat dipengaruhi oleh tradisi agama Katolik dan keluarga yang kuat. Pemakaian warna hitam oleh seorang janda di Meksiko dalam jangka waktu panjang mengandung makna:

  • Menunjukkan rasa kehilangan yang begitu mendalam
  • Penghormatan pada mendiang suami yang telah meninggal
  • Ikatan spiritual dengan mendiang

Menariknya, meskipun tradisi Día de los Muertos atau Hari Orang Mati ikonik dan identik dengan warna cerah, namun mereka tetap memaknai warna hitam sebagai simbol berduka, terutama untuk keluarga yang ditinggalkan. Ini menunjukkan dua sisi yang bertentangan namun tetap berdampingan.

5. Warna hitam sebagai simbol berduka di masa sekarang

pexels-rdne-6841456.jpg
ilustrasi orang melayat (pexels.com/RDNE Stock project)

Hingga saat ini, orang-orang di beberapa negara masih mengenakan pakaian serba hitam sebagai tanda duka cita saat melayat orang yang meninggal. Termasuk di beberapa wilayah di Indonesia. Namun, tak seperti di zaman dahulu, pakaian serba hitam hanya dikenakan keluarga dan pelayat pada hari pemakaman saja, bukan dipakai puluhan hari bahkan seumur hidup.

Meskipun warna hitam sangat identik dengan pakaian melayat atau simbol duka cita, di beberapa daerah di Indonesia, justru menggunakan warna lain sebagai simbol berduka. Contohnya, tradisi Hindu di Bali yang mengenakan pakaian serba putih pada saat prosesi ngaben.

Entah mau mengenakan warna hitam atau warna lainnya, semua adalah simbol yang mempertegas rasa berkabung dan kehilangan atas orang yang telah tiada. Lebih penting dari itu, adanya rasa empati pada keluarga yang ditinggalkan dan tak lupa mendoakan orang yang telah berpulang agar dosa-dosanya digugurkan, adalah hal yang terpenting.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Febriyanti Revitasari
EditorFebriyanti Revitasari
Follow Us