Awalnya, Mbah Leginah mungkin hanyalah sosok nenek yang muncul sesekali di layar ponsel. Candaan-candaannya bersama Refido, tingkah polosnya, dan interaksi mereka yang terasa begitu natural perlahan membuat sosok Mbah Leginah terasa akrab bagi banyak orang. Sampai akhirnya, pada Sabtu (3/10/2026), kabar kepergiannya datang dan membuat banyak warganet ikut terdiam.
Refido mengumumkan kabar duka tersebut melalui media sosial, dan kolom komentar pun dipenuhi ucapan belasungkawa. Ada yang mengaku sedih, ada yang merasa seperti kehilangan nenek sendiri, bahkan tak sedikit yang menyebut dirinya sebagai “cucu online” Mbah Leginah. Padahal, mereka belum pernah bertemu, apalagi berbincang langsung dengannya. Lantas, mengapa kepergian seseorang yang hanya kita kenal lewat layar bisa terasa begitu personal?
