“Kehilangan suami kayak langsung patah sebelah kan ibaratnya. Peran istri hilang, kita berganti peran menjadi bapak dan ibu. Jadi, menjalani peran hidup setelah ditinggal meninggal suami itu, menata dirinya lumayan. Kehilangan ibu tetap berat karena tonggak utama juga. Jadi, bisa dibilang ini kehilangan yang paling signifikan. Suami dan ibu itu kan suporter terbesar dalam hidup saya,” kata Karinka saat ditemui IDN Times pada Jumat (25/9/2026) di kawasan Cilandak, Jakarta Selatan.
Kisah Karinka Ngabito Merakit Diri dari Duka, Bangun Grief Center

Karinka Ngabito kehilangan suami pada 2016, ibu pada 2017, dan bapak mertua pada 2018; pengalaman itu mengubah hidupnya sebagai ibu tunggal yang mendampingi putrinya berduka.
Seni, kreativitas, support group, konsultasi psikolog, dan kelas parenting membantu Karinka mengelola duka serta menata rutinitas baru bersama putrinya setelah kehilangan.
Karinka mendirikan Merakit Diri pada 2021, yang kemudian serius menjadi Grief Center Indonesia pada 2023, menyediakan komunitas, sesi seni ekspresif, dukungan daring, konseling, dan coaching.
Jakarta, IDN Times - Bulan Juli yang menjadi penanda pertengahan tahun, punya makna yang berbeda bagi Karinka Ngabito. Juli adalah bulan yang berkali-kali membawa kabar paling berat dalam hidupnya: kepergian suami pada 2016, ibunda pada 2017, dan bapak mertua pada 2018. Kehilangan yang terjadi berturut-turut dan semuanya jatuh di bulan yang sama.
Kala itu, Karinka hidup seperti terombang-ambing di lautan yang tak tahu akan membawanya ke mana. Bukan waktu yang sebentar untuk bisa berdamai dengan kondisi tersebut. Butuh bertahun-tahun untuk perempuan yang akrab disapa Karin ini, tidak lagi berjalan sendirian dalam duka.
Di tahun 2021, Merakit Diri mulai hadir sebagai platform yang ia sebut Grief Center Indonesia. Karinka ingin hadir untuk menemani orang-orang yang sedang kehilangan agar mereka bisa berdamai dan hidup berdampingan dengan duka. Bersama IDN Times, Karinka membagikan bagaimana perjalanan hidupnya berdamai dengan duka, dari hari-hari hampa setelah suaminya berpulang, hingga lahirnya sebuah ruang aman untuk mereka yang berduka.
1. Kehilangan mengubah arah hidupnya

Karinka bersama suami, anak, dan ibunya (dok. Pribadi/Karinka Ngabito) Karinka tidak pernah menyangka bahwa ia akan kehilangan sang belahan jiwa sebelum berusia 40 tahun. Setelah sembilan tahun berjuang melawan penyakit, suaminya berpulang seminggu usai dirawat di ICU. Meskipun sudah terlatih mendampingi orang sakit, nyatanya tidak pernah membuatnya siap merasakan kehilangan.
Belum selesai berduka karena kehilangan suami, Karinka harus menelan pil pahit karena kembali menghadapi momen yang sama. Suaminya berpulang pada Juli 2016, disusul ibunya 11 bulan kemudian pada Juli 2017. Dua orang yang menjadi tempatnya untuk pulang, sudah benar-benar berpulang ke pangkuan Sang Maha Kuasa.
Duka kehilangan suami dan ibu sekaligus mendampingi putrinya yang sedang berduka, merupakan perjalanan yang berat. Bukan persoalan yang mudah untuk menjalani hari demi hari dengan rutinitas yang berbeda. Namun, Karinka justru belajar bagaimana menghadapi kehilangan dari ibunya.
“Mama adalah role model saya dalam menghadapi duka,” begitu tulis Karinka dalam salah satu unggahannya di Instagram.
Bukan cuma dirinya, ibunya juga mengalami banyak luka hidup. Tetapi, ia selalu berusaha mengolah rasa sakit itu dengan hal-hal yang positif. Karinka belajar bahwa luka dan duka bisa dikelola dengan baik melalui seni dan kreativitas.
“Referensinya ketika melihat ibu, ketika mama mengalami suatu kesulitan hidup, dia juga berkarya. Jadi, mungkin di memori saya, kreativitaslah yang membantu untuk mengurai dan menjalani tantangan hidup ini,” katanya.
Sebelum fokus membangun Merakit Diri, Karinka sudah berkecimpung di dunia digital dan kreatif. Lulusan Inholland University of Applied Sciences ini, pernah bekerja sebagai desainer grafis dan membuka usaha kerajinan tangan.
2. Bertahan bukan lagi menjadi opsi, dapur harus tetap ngebul

Karinka Ngabito, Expressive Arts & Grief Wellness Practitioner dan Founder Merakit Diri (dok. Pribadi/Karinka Ngabito) Karinka mengaku tidak memiliki resep khusus untuk bangkit dan beradaptasi. Putri semata wayangnya, Ainka, saat itu masih berusia 4 tahun 5 bulan ketika ayahnya meninggal. Sebagai ibu, Karinka tidak bisa larut dalam duka terlalu lama.
“Mau gak mau langsung siap siaga ibaratnya, ya. Udah harus tetap jalan, dapur harus ngebul, kan?” tuturnya.
Meski begitu, ia tak lantas berpura-pura menjadi kuat. Ada masanya Karinka menghabiskan hampir dua minggu beraktivitas di dalam rumah saja sampai guru sekolah Ainka menanyakan kabar putrinya.
“Guru anak saya WhatsApp, nanya kabar anak saya gitu. ‘Apa kabar Ainka? Teman-temannya pada kangen tuh,’ kayak ditampar gitu kan. Hei, anak perlu sosialisasi juga gitu. Akhirnya, besok langsung diantar sekolah. Terus, begitu pulang ke rumah, ya awalnya kayak hampa ya, karena kan biasa ada suami di rumah gitu,” cerita Karin.
Beruntungnya, ia mendapatkan dukungan dari lingkungan sekitar. Ia bertemu dengan ibu-ibu lain di sekolah putrinya yang suka mengajak sarapan setiap pagi. Hal kecil seperti inilah yang membantunya bertahan menjalani hari demi hari.
"Tiap pagi diajak sarapan ketawa haha hihi. Jadi, distraksilah gitu walaupun entar sampai rumah ya balik lagi,” lanjutnya.
Namun, Karinka menyadari bahwa hidup harus terus berjalan meski rasanya berat untuk melangkah. Ia tahu bahwa proses adaptasi ini bukan soal menghilangkan kesedihan, melainkan berusaha hidup dengan rutinitas yang berbeda.
“Pelan-pelan kayak melihat lagi apa yang kita senang gitu. Kalau dulu ya cuman pokoknya kerja aja buat anak,” sambungnya lagi.
3. Tugas berat seorang ibu tunggal: mendampingi anak melalui duka

Karinka bersama putrinya, Ainka (dok. Pribadi/Karinka Ngabito) Untuk membantunya menjalani hidup, Karinka banyak mengikuti berbagai support group dari komunitas Single Moms Indonesia hingga Grief Talk. Menurutnya, seseorang perlu mencari support system, baik dari lingkungan internal maupun eksternal. Dengan begitu, ia bisa mendapatkan referensi atau tips dari orang-orang dengan pengalaman yang sama dengannya.
Di tengah duka pribadinya, Karinka juga harus memikirkan kondisi putrinya yang sudah kehilangan figur ayah. Menurutnya, butuh usaha yang lebih untuk belajar memahami dan mendampingi anak melewati fase ini.
“Di Indonesia, 10 tahun lalu, belum banyak membahas grief. Jadi, cari-cari di luar gimana caranya menemani anak. Salah satunya lewat kreativitas, untungnya hobi kita berdua itu sama,” kata Karin.
Selain membaca artikel atau buku, ia juga berkonsultasi dengan psikolog dan mengikuti banyak kelas parenting. Karinka ingin tahu bagaimana ia bisa hadir sepenuhnya menemani putrinya dan supaya bisa mengenali tanda-tanda kapan anak perlu berkonsultasi ke psikolog. Menurutnya, anak punya pattern tersendiri ketika berduka. Mereka bisa menangis lima menit lalu, setelah itu kembali bermain seolah tak terjadi apa pun.
“Jadi, banyak gelombang-gelombang kecil yang memang harus kita arungi. Harus cari cara buat mengatasi itu karena akan datang kapan saja. Sampai dia (putrinya) besar pun, ombak dukanya juga masih akan berasa, tapi bukan berarti lupa,” ucapnya.
Bahkan di usianya yang sekarang sudah menginjak 14 tahun pun, duka itu masih menyapa dengan cara yang tak terduga.
“Momski masih ingat gak Popski pelukannya kayak apa?” tanya Ainka kepada Karinka.
“Masih, sih”, jawabnya.
“Oh, Ainka gak,” sebut putrinya.
Bukan hal yang mudah dilalui sebagai ibu tunggal dengan peran ganda. Karinka mengaku ada momen-momen di mana ia kesulitan untuk melakukan ini dan itu. Tapi, ia menyadari bahwa dirinya tidak bisa bergerak sendirian.
“Saya jadi belajar memprioritaskan apa yang memang bisa dikontrol. Berat bukan berarti berat, tapi gak bisa dijalanin. Harus dijalanin, makanya kita cari cara-cara buat biar gak terlalu berat,” imbuhnya.
4. Coretan yang membawa kebahagiaan

Karinka Ngabito (dok. Pribadi/Karinka Ngabito) Kehilangan suaminya membawa kehampaan di hidup Karinka. Ia kemudian mengikuti kelas mixed media painting. Awalnya, ia tidak berekspektasi apa pun, tapi justru dari corat-coret itulah Karinka mulai merasakan kebahagiaan.
“Sempat ngerasanya 7 bulan tuh kayak gak happy, gak kayak semua hampa gitu-gitu. Nah, ketika habis ngerjain si artwork itu, kayak ngerasa bahagia kayak di-support-nya kayak berasa lagi gitu,” ceritanya.
Sejak saat itu, Karinka mulai kembali aktif menjalankan bisnisnya di bidang kriya dari 2016 hingga 2020. Namun setelah pandemik, Karinka berpindah haluan dengan belajar kelas menulis dan membuat buku.
“Akhirnya tertarik dengan ilmu seni ekspresif, dulu mungkin lebih kenalnya art therapy, writing therapy. Dari sini kayak merasa, ‘oh buat diri sendiri sama anakku, kreativitas itu sangat membantu kita mengolah duka,” ucapnya.
Bukan sekadar menulis atau corat-coret biasa, Karinka mendalami ilmunya sambil belajar refleksi diri. Buatnya, corat-coret sama dengan mencari makna supaya bisa melangkah maju dan menenangkan diri.
“Ketika kita gak berekspektasi apa-apa, ternyata seni ekspresif itu membantu kita mengeluarkan apa yang mungkin tadinya sulit diucapkan… Jadi, (beban) berat itu bisa dituangkan dalam bentuk tulisan yang akhirnya memberi ruang kita untuk bernapas,” sambung Karinka.
5. Merakit Diri lahir untuk menemani orang-orang yang sedang berjuang melewati kedukaan

Karinka Ngabito, Expressive Arts & Grief Wellness Practitioner dan Founder Merakit Diri (dok. Pribadi/Karinka Ngabito) Merakit Diri bermula pada tahun 2021 dengan cara yang sederhana. Karinka hanya ingin berbagi aktivitasnya tentang manfaat membuat scrapbook dan bagaimana kreativitas sangat memengaruhi kondisi mentalnya kala itu. Nama itu pun lahir dari pengalamannya yang sangat personal.
“Setelah kehilangan, saya harus merakit diri kembali. Sesimpel itu sebenarnya,” sebut Karinka.
Lewat Merakit Diri, Karinka merasa banyak jiwa-jiwa yang harus dibangkitkan kembali. Jiwa yang tadinya hancur, perlu ditata kembali. Ia berkaca dari filosofi keramik yang pecah dari Jepang, yang dikenal dengan Kintsugi.
“Ketika disatukan lagi, (keramik) itu udah gak sama. Tapi, kita bisa lukis pakai emas yang bikin kelihatan cantik. Sama seperti kehilangan, mau gak mau kan harus menata ulang hidup,” tuturnya.
Karinka melihat Merakit Diri ini sebagai grief center. Di dalamnya juga ada komunitas yang terdiri dari orang-orang yang kehilangan pasangan, anak, orangtua, dan segala macamnya. Namun, Merakit Diri juga memberikan sesi-sesi belajar merangkul duka melalui proses kreatif.
“Duka seseorang itu kan beda-beda kebutuhannya. Kita pengen provide dari berbagai aspek,” ucapnya.
Hadirnya Merakit Diri ini juga berkaca dari grief center yang ada di luar negeri. Menurut Karinka, grief center di luar negeri banyak memfasilitasi seseorang untuk bisa melalui duka dengan baik. Selain artikel, mereka juga menyediakan berbagai sesi dan support group.
Dari yang awalnya wadah sharing tentang seni dan kreativitasnya, perlahan fokus Merakit Diri mengerucut pada duka. Di tahun 2023, Karinka baru menjalankan dengan serius Merakit Diri sebagai Grief Center Indonesia.
6. Merakit Diri bukan sekadar komunitas, melainkan ruang aman

Karinka Ngabito, Expressive Arts & Grief Wellness Practitioner dan Founder Merakit Diri (dok. Pribadi/Karinka Ngabito) Pasca kehilangan, seni dan kreativitaslah yang membantu Karinka serta putrinya menjalani hidup. Kreativitas yang mengajarkannya bahwa duka tidak perlu dihilangkan atau dihindari. Maka dari itu, Merakit Diri ingin menjadi ruang aman untuk berduka.
Merakit Diri bisa menjadi wadah yang aman di mana tidak ada judging, tidak ada deadline untuk move on. Justru, Karinka ingin Merakit Diri hadir untuk mendengar dan menemani seseorang dalam berproses.
Tema-tema yang dibahas oleh Merakit Diri kerap kali menyentuh hal-hal yang luput dari perhatian seseorang. Contohnya, seperti gimana caranya mengolah rasa penyesalan, apa saja hak untuk berduka, dan lain sebagainya.
Ia sempat menulis buku berjudul Pesan Cinta. Buku ini menjadi awal perjalanan Karinka mendalami ilmu expressive arts therapy yang ternyata membantu proses pemulihan emosi. Seni ekspresif adalah gabungan dari beberapa bentuk seni seperti gambar, musik, gerak, tulisan, atau drama.
Sebagai Expressive Arts & Grief Wellness Practitioner, Karinka menyediakan beberapa fasilitas dari online grief support group, konseling dan coaching, maupun sesi-sesi seni ekspresif untuk duka dan kehilangan.
“Seni ekspresif fokus pada prosesnya. Prosesnya, kita harus belajar menyadari apa yang kita rasakan, apa yang kita pikirkan. Setelah dituangkan secara visual, kita jadi terlihat lebih jelas dan jadi tahu apa yang harus kita lakukan. Itu kayak ngebantu untuk menjalani duka ini sih. Karena ternyata, duka kan adalah proses panjang,” jelasnya.
Metode yang ia pakai memadukan coretan, tulisan, gerakan, dan latihan napas. Mengapa seni? Seni akan membuat otak mengelola emosi dengan cara yang lebih sehat. Sistem saraf akan lebih rileks sehingga hormon dopamin mengeluarkan perasaan senang dan bahagia. Stres jadi lebih menurun.
Karinka mengatakan bahwa otak punya fungsi neuroplastisitas di mana bisa beradaptasi dengan berbagai perubahan. Dengan seni, ia merasakan bagaimana hal tersebut bisa mengubah mindset dan membantu menguraikan pikiran-pikiran yang selama ini tertahan.
“Ibaratnya duka udah intens banget, lewat seni saya merasakan kayak ini adalah cara yang menyenangkan dan menenangkan saya dalam mengarungi ombak duka gitu ibaratnya,” pungkasnya.
Karinka tegas soal batasnya. Merakit Diri bukan pengganti terapi. Karena itulah, ia menghindari kata terapi dan memakai istilah seperti creative emotional wellness. Menurutnya, seni ekspresif ini hanya salah satu amunisi dalam menjalani duka.
“Merakit Diri bukan terapi melainkan kelas belajar, personal growth,” sebutnya.
Banyak perubahan yang Karinka lihat dari seni ekspresif ini. Tiap orang pasti punya perjalanan duka yang berbeda-beda. Ada seorang ibu asal Palembang kehilangan anaknya yang berusia 22 tahun. Rindu yang selama ini terpendam, diluapkannya melalui scrapbook.
Karinka bercerita, “Bahkan dia punya satu scrapbook khusus untuk teman-temannya yang kuliah kasih entah testimonial atau cerita tentang kesehariannya dulu anaknya kuliah gimana. Kan dia gak tahu seharian kuliah anaknya ngapain aja gitu kan. Jadi, dari cerita teman-temannya yang nulis itu, jadi kayak obat ya, obat rindunya dia gitu. Jadi, dia ngerasa dengan kreativitas, ngebantu dia banget buat mengelola duka kehilangan anak.”
7. Duka tidak akan pernah selesai. Tugas kita hanya belajar hidup berdampingan dengan duka

Karinka Ngabito, Expressive Arts & Grief Wellness Practitioner dan Founder Merakit Diri (IDN Times/Adyaning Raras)) Sepuluh tahun berlalu, cara memandang duka pun ikut berubah. Duka gak akan berakhir pada satu titik penerimaan. Ketika sudah merasa bisa menerima semuanya, kita akan kembali ke hal-hal yang cukup triggering seperti momen ulang tahun, anniversary, dan segala macamnya.
Secara teori, proses berduka akan melewati beberapa tahapan. Teori dari Kubler-Ross menjelaskan bahwa seseorang pasti akan melewati fase penyangkalan, kemarahan, tawar-menawar, depresi, dan penerimaan. Namun, bukan berarti penerimaan adalah titik terakhir dari proses tersebut.
“Oke, saya menerima suami sudah meninggal. Tapi ketika berjalan, what if dan i wish itu tetap ada sepanjang anak saya masih hidup. Menurut saya, menerima bukan berarti menerima begitu saja. Tapi, kita menerima bahwa duka adalah bagian dari hidup. Gak mungkin hidup selesai dengan menerima, pasti ada struggle yang harus dilalui,” jelas Karinka.
Menurut Karinka, duka merupakan hal yang sangat personal dan tidak bisa disamakan. Ada yang berduka karena kehilangan, tapi ada juga yang berduka karena perpisahan. Kedua hal ini menorehkan luka dan memori yang berbeda sehingga strategi untuk menangani fase grief tersebut juga mungkin berbeda.
Apa pun masalahnya, kalau sudah sampai mengganggu fungsi keseharian, maka seseorang butuh pendampingan profesional. Tidak ada yang salah dengan meminta bantuan profesional seperti psikolog, lho. Justru, mereka yang profesional ini bisa membantu menelaah apa yang sedang terjadi dalam kehidupanmu.
Meski begitu, proses berduka tak hanya bergantung pada pendampingan profesional. Dukungan dari orang-orang terdekat juga memegang peran yang tak kalah penting dalam membantu seseorang merasa ditemani di tengah kehilangan.
Mereka yang berduka terkadang tidak memerlukan kata-kata yang bijak. Mereka hanya perlu orang-orang yang hadir tanpa menghakimi. Bahkan, ucapan turut berduka dan bantuan praktis saja sudah cukup.
Sedangkan untuk siapa pun yang sedang berduka, belajarlah untuk mengakui perasaan dan kenyataan bahwa kamu sedang tidak baik-baik saja. Izinkan perasaan marah, menyesal, atau sedih itu menyelimuti hidupmu. Setelahnya, mari kembali belajar membuka hati dan pikiran untuk berdamai dengan kenyataan pahit itu.
“Bukalah satu pintu buat yang menemani, siapa saja yang dipercaya. Boleh menyendiri, tapi jangan mengisolasi diri seutuhnya,” kata Karinka.
Duka tidak pernah menjadi garis lurus. Hidup berdampingan dengan duka dan merangkulnya merupakan perjalanan sepanjang hidup. Perjalanan panjang yang tidak pernah benar-benar selesai. Bahkan setelah 10 tahun pun, Karinka masih merasakan gelombang-gelombang kesedihan itu hadir pada beberapa waktu.
Mungkin di sinilah letak keindahan perjalanan hidup Karinka Ngabito. Justru dari pengalaman pahitnya, ia memberikan terang bagi orang lain yang merasa hidupnya begitu gelap dan suram.
Setiap hari, kita pasti menyediakan waktu untuk bekerja, belajar, bermain, bersosialisasi, dan sebagainya. Tapi, kapan terakhir kali kamu menyediakan waktu untuk berduka? How’s your grief lately?
![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)
![[QUIZ] Dari Kartun SpongeBob, Temukan Kebiasaan Kamu saat Berduka dan Bersedih](https://image.idntimes.com/post/20260920/1000020680_210133e6-fea1-4f78-b5f3-6f67bf997cb1.jpg)

![[QUIZ] Dari Kartun Masha and The Bear, Cari Tahu Cara Kamu melalui Duka](https://image.idntimes.com/post/20260916/screenshot-2026-09-16-235510_8500521e-b0a3-4f5d-a018-1e14028d410e.png)

![[QUIZ] Pilih Adegan di Upin Ipin, Ini Cara Kamu Healing dari Circle Toxic](https://image.idntimes.com/post/20251009/pexels-yankrukov-7640791_d059a579-bc2c-4df0-9b01-79a8008deb5e.jpg)
![[QUIZ] Masihkah Kamu Menyesali Masa Lalu, Jika Dilihat dari Kenangan Ini?](https://image.idntimes.com/post/20250327/pexels-shvets-production-7176220-ec4aa92aa557b03fed737914fdd8262e-89a324cae5f15dd10857ea8a580eaf2f.jpg)





![[QUIZ] Dari Tempat Healing yang Paling Tenang, Temukan Hal yang Menguras Energi](https://image.idntimes.com/post/20241218/1000059754-99a83272f9010317982b89aac9ec1a00-848d78dae0884cb66761a8a80e9d288d.jpg)
![[QUIZ] Pilih Episode SpongeBob untuk Tahu Level Stresmu Minggu Ini](https://image.idntimes.com/post/20260209/pexels-karola-g-6028573_baff28f3-dd41-48f4-8e7c-ee6ac22148ed.jpg)







![[QUIZ] Dari Suasana Hujan, Terungkap Alasan Kamu Sulit Move On](https://image.idntimes.com/post/20250102/pexels-shkrabaanthony-67361181-603df6f641b54ac4de18f293915a6c9d-137cbdd15058b32314f9134b783f9046.jpg)

