Kenapa Kita Sering Kepikiran ‘What If’? Ini yang Terjadi

- Pikiran “what if” atau counterfactual thinking umum muncul setelah keputusan, saat seseorang membandingkan kejadian nyata dengan kemungkinan lain yang tidak terjadi.
- Skenario alternatif dapat melelahkan ketika berkembang menjadi banyak kemungkinan dan membuat seseorang terus membandingkan kenyataan dengan versi hidup yang dianggap lebih baik.
- Pikiran “what if” bisa membantu belajar jika diarahkan pada tindakan berikutnya, menerima keadaan, dan menyiapkan respons yang lebih baik untuk situasi serupa.
Pernah gak kamu tiba-tiba kepikiran, “Kalau waktu itu aku pilih yang satunya, gimana, ya?”. Pikiran seperti ini bisa muncul setelah kita mengambil keputusan kecil maupun besar, mulai dari memilih pekerjaan, mengirim pesan, sampai memutuskan ketika ingin datang atau tidak ke sebuah acara. Kita membayangkan versi lain dari kejadian yang sebenarnya sudah terjadi.
Pikiran tersebut bisa muncul ketika kita sedang mengevaluasi masa lalu, memikirkan masa depan, atau sekadar penasaran dengan jalan hidup yang berbeda. Ternyata, “what if” gak selalu berarti kita sedang overthinking. Cara kita menggunakan pikiran itu yang bisa membuatnya membantu atau justru bikin kita terjebak.
1. Sering muncul setelah kita mengambil keputusan

ilustrasi membayangkan alternatif lain (pexels.com/Alex Green) Salah satu momen paling gampang yang bisa memunculkan pikiran “what if” adalah setelah kita membuat keputusan. Kita mungkin sudah memilih satu pilihan, tetapi tetap penasaran dengan pilihan yang ditinggalkan. Setelah menonton film yang bagus, misalnya, kamu bisa saja tiba-tiba membayangkan bagaimana ceritanya kalau tokoh utamanya mengambil keputusan berbeda. Hal yang sama bisa terjadi pada kehidupan sendiri, terutama ketika hasil dari pilihan kita ternyata tidak sesuai harapan.
Seorang Psikolog, Eva M. Krockow, Ph.D., menjelaskan dalam Psychology Today bahwa pikiran semacam ini sebenarnya cukup umum dalam keseharian. Ia menyebut bahwa kebanyakan orang mengalami bentuk counterfactual thinking setiap hari. Counterfactual thinking mungkin terdengar seperti istilah yang rumit, padahal sebenarnya dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Kebanyakan orang mengalaminya dalam beberapa bentuk setiap hari, terutama lewat pikiran seperti ‘seandainya tadi begini’, ‘harusnya aku melakukan itu’, atau ‘coba waktu itu aku pilih yang lain’. Semua itu merupakan bentuk ketika kita membayangkan kemungkinan lain dari sesuatu yang sebenarnya sudah terjadi.
Jadi kalau sesekali kamu membayangkan versi lain dari sebuah kejadian, itu bukan berarti ada yang aneh dengan pikiranmu. Kita memang suka membandingkan apa yang benar-benar terjadi dengan kemungkinan lain.
2. Bisa bikin kita terjebak di versi hidup yang tidak terjadi

ilustrasi membayangkan keputusan lain (pexels.com/Andrea Piacquadio) Masalahnya, skenario “what if” kadang gak berhenti di satu pertanyaan saja. Skenario yang ada di pikiran bisa berkembang menjadi kemungkinan lain, lalu berlanjut lagi ke puluhan kemungkinan berikutnya. Kita akhirnya sibuk membangun kehidupan alternatif yang sebenarnya gak pernah benar-benar terjadi.
Profesor Emeritus Psikologi dengan gelar Cornelia H. Dudley di Knox College, T. McAndrew, Ph.D., dalam Psychology Today menuliskan bahwa membayangkan hasil yang berbeda dari apa yang sebenarnya terjadi dalam hidup kita memang punya daya tarik tersendiri, bahkan ketika hal itu justru membuat kita merasa gak bahagia.
Karena itu, “what if” bisa terasa melelahkan kalau isinya hanya membandingkan kenyataan dengan versi hidup yang menurut kita lebih baik. Kita gak pernah benar-benar tahu apa yang akan terjadi kalau dulu memilih jalan berbeda. Bisa saja hasilnya memang lebih baik, tetapi bisa juga justru sebaliknya.
3. Bisa dipakai untuk belajar dari pilihan sebelumnya

ilustrasi membayangkan hal positif (pexels.com/Los Muertos Crew) Meski sering dikaitkan dengan overthinking, membayangkan kemungkinan lain sebenarnya juga gak selalu buruk. Pertanyaan “kalau tadi aku melakukan hal berbeda, apa yang akan terjadi?” juga bisa membantu kita melihat sesuatu yang memang perlu diperbaiki. Bedanya, kita gak berhenti pada penyesalan, tetapi mengambil sesuatu tindakan dari skenario tersebut.
Terapis berlisensi, Mike Verano, LPC, LMFT, dalam Psychology Today menyebut bahwa menerima pikiran, termasuk berbagai kemungkinan ‘what if’ yang gak nyaman, berarti berhenti melawannya terus-menerus dalam kepala. Dengan begitu, energi kita bisa dialihkan untuk menghadapi keadaan, memulihkan diri, dan mencari jalan keluar.
Misalnya, daripada terus berpikir, “Kenapa dulu aku gak ngomong begitu?”, kita bisa mengubahnya menjadi, “Kalau situasi seperti itu terjadi lagi, aku harus ngomong apa?” Pertanyaannya masih sama-sama berangkat dari “what if”, tetapi hasil dari pikiran tersebut yang berbeda. Yang satu membuat kita sibuk mengulang masa lalu, sedangkan yang lain bisa membantu kita menentukan tindakan selanjutnya.
Jadi, gak semua pikiran “what if” perlu dilawan atau langsung dianggap sebagai overthinking. Sesekali membayangkan skenario lain bisa membantu kita memahami keputusan yang sudah dibuat. Yang penting, jangan sampai kehidupan alternatif di kepala terasa lebih nyata daripada kehidupan yang sedang dijalani.






















