ilustrasi membayangkan hal positif (pexels.com/Los Muertos Crew)
Meski sering dikaitkan dengan overthinking, membayangkan kemungkinan lain sebenarnya juga gak selalu buruk. Pertanyaan “kalau tadi aku melakukan hal berbeda, apa yang akan terjadi?” juga bisa membantu kita melihat sesuatu yang memang perlu diperbaiki. Bedanya, kita gak berhenti pada penyesalan, tetapi mengambil sesuatu tindakan dari skenario tersebut.
Terapis berlisensi, Mike Verano, LPC, LMFT, dalam Psychology Today menyebut bahwa menerima pikiran, termasuk berbagai kemungkinan ‘what if’ yang gak nyaman, berarti berhenti melawannya terus-menerus dalam kepala. Dengan begitu, energi kita bisa dialihkan untuk menghadapi keadaan, memulihkan diri, dan mencari jalan keluar.
Misalnya, daripada terus berpikir, “Kenapa dulu aku gak ngomong begitu?”, kita bisa mengubahnya menjadi, “Kalau situasi seperti itu terjadi lagi, aku harus ngomong apa?” Pertanyaannya masih sama-sama berangkat dari “what if”, tetapi hasil dari pikiran tersebut yang berbeda. Yang satu membuat kita sibuk mengulang masa lalu, sedangkan yang lain bisa membantu kita menentukan tindakan selanjutnya.
Jadi, gak semua pikiran “what if” perlu dilawan atau langsung dianggap sebagai overthinking. Sesekali membayangkan skenario lain bisa membantu kita memahami keputusan yang sudah dibuat. Yang penting, jangan sampai kehidupan alternatif di kepala terasa lebih nyata daripada kehidupan yang sedang dijalani.