“Kemiripan itu bisa terlihat dari penampilan, cara benda tersebut berperilaku atau bertindak, maupun petunjuk atau kesamaan lain yang membuat kita memperlakukan sesuatu yang bukan manusia seperti manusia,” ujar Nicholas, dikutip dari The Cut.
Kenapa Kita Suka Kasih Nama ke Barang Kesayangan? Ini Penjelasannya!

- Memberi nama pada barang membuatnya terasa berkepribadian melalui anthropomorphism, yaitu kecenderungan manusia memberi sifat atau karakter layaknya manusia pada benda.
- Nama memperkuat rasa memiliki dan keterikatan emosional, terutama pada barang yang menyimpan riwayat pengalaman seperti laptop, kamera, kendaraan, atau boneka.
- Saat koneksi sosial terasa kurang, sebagian orang dapat membangun rasa terhubung dengan benda atau hewan; namun kebiasaan menamai barang juga dipengaruhi attachment dan pengalaman pribadi.
Kamu punya barang kesayangan yang sampai dikasih nama sendiri? Misalnya, laptop punya panggilan “Lala” atau bahkan motor juga diberi nama panggilan. Kebiasaan ini cukup sering dilakukan pada benda yang sudah terasa dekat dengan pemiliknya. Padahal, kita tahu barang tersebut tidak bisa menjawab ketika diajak ngobrol. Kebiasaan ini berkaitan dengan cara manusia memberi karakter dan makna pada benda di sekitarnya.
Nama membuat sebuah barang terasa lebih personal dibanding hanya sekadar menjadi benda yang dibeli dan digunakan. Kebiasaan tersebut juga bisa muncul karena barang tertentu sudah menemani banyak momen dalam hidup. Dari benda yang awalnya biasa saja, lama-lama ada cerita yang membuatnya terasa spesial. Lalu, apa sebenarnya yang membuat kita senang memberi nama pada barang kesayangan kita?
1. Nama membuat barang terasa seperti punya kepribadian

ilustrasi berfoto dengan mobil kesayangan (unsplash.com/leah hetteberg) Coba perhatikan barang yang sering kamu beri nama. Biasanya ada sesuatu dari benda tersebut yang membuatnya terasa punya “karakter”, entah karena bentuknya, cara digunakannya, atau pengalaman yang melekat padanya. Mobil yang sering mogok bahkan bisa terasa seperti punya sifat sendiri karena tingkahnya yang bikin pemiliknya geleng-geleng kepala.
Fenomena ketika manusia memberikan karakteristik seperti manusia kepada benda ini dikenal sebagai anthropomorphism. Sederhananya, kita memperlakukan benda seolah-olah punya sifat, perasaan, atau karakter seperti manusia. Seorang Psikolog, Nicholas Epley dari University of Chicago Booth School of Business menjelaskan bahwa manusia dapat memperlakukan benda seperti manusia karena ada kemiripan tertentu.
Itu sebabnya barang tertentu bisa terasa lebih “punya karakter” dibanding yang lain. Setelah karakter tersebut terbentuk di kepala, memberi nama jadii terasa lebih masuk akal. Bukan berarti kita benar-benar mengira laptop atau motor punya pikiran sendiri, tetapi kita sedang membuat hubungan dengan benda tersebut terasa lebih personal.
2. Memberikan rasa “memiliki” yang bikin kita lebih terikat

ilustrasi mengendarai motor kesayangan (unsplash.com/John Fornander) Biasanya, benda yang diberi nama sudah terasa sebagai “punya kita”. Rasa memiliki ini tidak cuma muncul karena kita membeli atau menggunakan benda tersebut, tetapi juga karena ada pengalaman yang ikut menempel di bersama benda tersebut.
David Peterson, seorang linguist yang menciptakan bahasa Dothraki dan Valyrian untuk serial HBO Game of Thrones, dalam The Cut menjelaskan bahwa pada benda pribadi, hal tersebut berkaitan dengan seberapa penting seseorang menganggap benda tersebut dan seberapa besar keterikatan emosional yang mungkin muncul.
Jadi, itu kenapa barang yang sudah lama menemani kita bisa terasa berbeda dari barang baru meskipun fungsinya sama. Laptop yang dipakai sejak masa kuliah, kamera yang dibawa ke berbagai perjalanan, atau boneka sejak kecil punya riwayat yang tidak dimiliki benda lain. Memberinya nama menjadi salah satu cara untuk menandai rasa kepemilikan dan kedekatan.
3. Bisa jadi karena kita sedang merasa kesepian

ilustrasi boneka kesayangan (pexels.com/Dan Girsh) Memberi nama pada barang tidak selalu soal seberapa bagus atau mahal benda tersebut. Dalam situasi tertentu, kebiasaan itu bisa berkaitan dengan kebutuhan manusia untuk merasa terhubung dengan sesuatu. Ketika hubungan sosial sedang terasa kurang, kita bisa lebih mudah mencari bentuk koneksi lain, termasuk melalui hewan atau benda yang ada di sekitar kita.
Dalam artikel The Cut, psikolog Nicholas Epley merujuk penelitian yang diterbitkan di Psychological Science pada 2008, menemukan bahwa orang yang merasa kurang memiliki koneksi sosial dapat mencoba mengimbanginya dengan membangun hubungan dengan hewan atau benda non manusia. Ia bahkan menggunakan karakter Tom Hanks dalam film Cast Away, yang memberi nama “Wilson” pada bola voli yang kemudian dianggap sebagai teman, sebagai contoh dari kecenderungan tersebut.
Namun, bukan berarti setiap orang yang memberi nama pada motor atau boneka sedang merasa kesepian. Kebiasaan tersebut bisa muncul karena banyak alasan, termasuk attachment dan pengalaman pribadi dengan benda tersebut. Ketika seseorang sedang membutuhkan rasa terhubung, benda yang selalu ada di dekatnya bisa menjadi salah satu tempat untuk membangun koneksi tersebut.
Jadi kalau kamu pernah memberi nama pada laptop, kendaraan, boneka, atau barang kesayangan kamu lainnya, kebiasaan itu bukan hal yang aneh. Kita memang cenderung memberi makna pada benda yang sudah menjadi bagian dari keseharian. Pada akhirnya, satu nama kecil bisa membuat benda punya cerita tersendiri.
![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)























