Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Kenapa Korban Child Grooming Sering Tak Sadar Dirinya Dimanipulasi?
ilustrasi grooming (pexels.com/Marina Abrosimova)

Fenomena child grooming kerap menyelip di berbagai ruang hidup tanpa disadari, mulai dari grup pesan sampai kenalan yang terasa “dekat”. Banyak orang memandang kasusnya dari jauh dan merasa pasti bisa mengenali tanda-tandanya, padahal korban sering kali justru tidak merasa sedang diarahkan.

Prosesnya tidak meledak seperti konflik besar, malah tumbuh pelan lewat komunikasi ramah dan perhatian yang tampak tulus. Di sisi lain, hidup sekarang penuh distraksi sehingga sulit memilah mana relasi tulus dan mana yang berkepentingan. Berikut lima hal yang menjelaskan kenapa situasi child grooming kerap terjadi tanpa disadari.

1. Pelaku menyamarkan niat sejak awal

ilustrasi grooming (pexels.com/Mikhail Nilov)

Pelaku tidak mendekat sambil membawa sikap mencurigakan, melainkan lewat sapaan santai, berbagi cerita ringan, hingga komentar yang terasa mendukung. Banyak korban mengira ia sekadar berhadapan dengan sosok yang mengerti, apalagi ketika sedang membutuhkan telinga untuk didengar. Waktu perlahan menciptakan rasa nyaman yang tampak wajar, sementara pelaku menyusun langkah secara perlahan.

Setelah kedekatan dianggap mapan, permintaan kecil mulai muncul dan terasa masuk akal karena sudah ada rasa percaya. Batas kewaspadaan turun sedikit demi sedikit, bukan hilang sekaligus sehingga sulit disadari. Korban menganggap prosesnya sebagai bagian dari kedekatan, bukan jalan masuk untuk diarahkan ke tujuan tertentu. Dengan metode perlahan, pelaku berhasil menghindari alarm bahaya yang biasanya muncul pada manipulasi terang-terangan.

2. Korban merasa mendapat perhatian yang jarang ditemui

ilustrasi grooming (pexels.com/Pavel Danilyuk)

Perhatian konsisten sering dianggap tanda kepedulian murni, apalagi ketika keseharian terasa melelahkan atau kurang apresiasi. Sosok pelaku muncul sebagai tempat berbagi cerita, validasi, atau dukungan kecil yang terasa menyegarkan. Di kondisi seperti ini, pikiran memilih percaya karena rasa nyaman lebih mudah diterima daripada keraguan.

Ketika perhatian datang terus-menerus, muncul rasa seolah ada seseorang di pihak korban. Pelaku memanfaatkan momen ini dengan memposisikan diri sebagai orang yang mengerti dan sulit digantikan. Semakin korban merasa diterima, semakin sedikit keberanian untuk bertanya tujuan sebenarnya. Pada akhirnya, korban mengira bahwa ia memiliki koneksi tulus, padahal itu pintu masuk manipulasi.

3. Proses terjadi sangat pelan sampai tidak terasa

ilustrasi grooming (pexels.com/Antoni Shkraba Studio)

Grooming tidak berlangsung dalam satu percakapan, tetapi melalui banyak peristiwa kecil yang terlihat biasa. Tiap langkah disusun sedemikian halus sehingga tidak memancing resistensi. Awalnya berupa basa-basi, lalu berubah menjadi obrolan pribadi, sebelum berkembang ke arah kepentingan tertentu. Karena semuanya terjadi sedikit demi sedikit, korban kehilangan konteks sesungguhnya.

Pengalaman ini seperti berada di ruangan dengan lampu yang meredup perlahan. Seseorang di dalamnya tidak sadar sampai benar-benar gelap. Korban hanya menyadari setelah posisi sudah jauh terjebak pengaruh pelaku.

4. Korban tidak mau terlihat “curiga berlebihan”

ilustrasi grooming (pexels.com/cottonbro studio)

Ada tekanan untuk selalu berpikir positif dan menilai orang berdasarkan sikap luarnya. Banyak korban takut dianggap ribut sendiri kalau menaruh curiga pada orang yang tampaknya baik. Mereka memilih menormalkan kejanggalan agar suasana tetap tenang. Keinginan menjaga keharmonisan membuat peringatan kecil diabaikan. Pelaku bersandar pada sikap ini dan mendorong korban untuk terus merasa kebanyakan mikir.

Ketika tanda peringatan muncul, korban mudah membantah dirinya sendiri. Ia merasa belum punya bukti jelas, sehingga takut salah menuduh. Alhasil, langkah aman seperti menjaga jarak tidak pernah dilakukan. Dalam kondisi itu, pelaku semakin leluasa menguji kenyamanan korban. Keengganan terlihat curiga akhirnya membuka pintu lebih lebar untuk diarahkan tanpa sadar.

5. Lingkungan sering meromantisasi pendekatan manis dari pelaku

ilustrasi grooming (unsplash.com/Candelario Gómez López)

Budaya populer kerap mengangkat sosok misterius penyayang sebagai fantasi yang diidolakan. Banyak narasi membuat perhatian intens tampak ideal, tanpa menjelaskan konsekuensi di baliknya. Akhirnya, korban mengira pengalaman yang ia alami merupakan sesuatu yang spesial. Imajinasi ini menutup akal sehat, karena referensi yang dikonsumsi sudah menanamkan harapan manis sejak awal. Pelaku tahu cara memanfaatkan impian tersebut.

Ketika realitas dan fantasi bercampur, sulit membedakan mana sinyal waspada dan mana sekadar rasa berbunga. Korban merasa keberatannya tampak berlebihan, sebab apa yang ia alami mirip cerita favoritnya. Dengan ekspektasi itu, banyak korban tetap bertahan meski situasi mulai tidak sehat. Di sinilah manipulasi bekerja.

Child grooming bisa tidak terasa karena hadir dalam bentuk perhatian lembut, kedekatan pelan, dan narasi manis yang sudah lama menempel di kepala banyak orang. Sikap hati-hati diperlukan bukan untuk mencurigai semua orang, tetapi agar kemampuan membaca situasi makin tajam. Kalau sinyal-sinyal halus ini muncul di sekitar kita, apakah kita cukup berani berhenti sejenak dan menilai ulang tanpa terburu-buru?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team