“Kita merasa bersalah. Kita berpikir seharusnya kita bisa melakukan lebih banyak dan menemukan solusinya,” jelas Pooja Lakshmin, psikiater dan penulis buku Real Self-Care, dikutip dari SELF.
5 Tanda Self-Caremu Sudah Gak Sehat, Jangan Sampai Jadi Beban!

Self-care sering dianggap sebagai cara terbaik untuk menjaga kesehatan mental dan emosional. Mulai dari journaling, olahraga, meditasi, sampai me time di rumah, semua terlihat positif selama dilakukan demi diri sendiri. Namun, tanpa disadari, self-care juga bisa berubah menjadi sesuatu yang melelahkan kalau dijalani dengan tekanan dan ekspektasi berlebihan.
Alih-alih membuat hidup terasa lebih tenang, praktik self-care yang gak sehat justru bisa menambah rasa stres, bersalah, bahkan membuatmu makin keras pada diri sendiri. Kalau sudah seperti itu, mungkin sudah waktunya mengevaluasi lagi apakah self-care yang kamu lakukan benar-benar membantu atau malah menjadi beban baru. Berikut beberapa tandanya!
1. Kamu merasa bersalah kalau melewatkannya

Self-care seharusnya menjadi sesuatu yang membantu tubuh dan pikiranmu beristirahat. Namun, kalau kamu justru merasa bersalah ketika melewatkan satu sesi workout, journaling, atau skincare routine, itu bisa menjadi tanda bahwa aktivitas tersebut sudah berubah menjadi kewajiban yang menekan. Bukannya membuat tenang, kamu malah merasa seperti gagal ketika tidak melakukannya.
Perasaan bersalah ini biasanya muncul karena kamu mulai menghubungkan nilai diri dengan seberapa produktif self-care yang dilakukan. Akibatnya, kamu merasa harus selalu konsisten tanpa memberi ruang untuk beristirahat atau berubah sesuai kondisi tubuh. Padahal, kebutuhan emosional dan fisik setiap hari bisa berbeda-beda.
2. Kamu terlalu fokus pada pencapaian

Awalnya mungkin kamu olahraga untuk menjaga kesehatan atau meditasi supaya lebih rileks. Namun lama-kelamaan, fokusmu justru berubah pada angka, target, dan validasi dari aplikasi kesehatan atau smartwatch. Kamu mulai sibuk mengejar streak, jumlah langkah kaki, atau posisi leaderboard dibanding menikmati prosesnya.
Kalau self-care sudah terasa seperti kompetisi, manfaat emosionalnya biasanya mulai hilang. Aktivitas yang seharusnya membantu melepas stres malah berubah menjadi sumber tekanan baru. Pada akhirnya, kamu jadi lebih sibuk membuktikan sesuatu daripada benar-benar merawat diri sendiri.
3. Kamu melakukan self-care demi validasi orang lain

Tidak sedikit orang menjalani self-care karena terpengaruh tren media sosial. Misalnya, ikut kelas yoga demi terlihat aesthetic, membeli banyak produk wellness supaya terlihat healing, atau rutin upload rutinitas self-care agar mendapat pujian dari orang lain. Padahal, belum tentu semua itu benar-benar kamu butuhkan.
Kalau motivasi utamanya berasal dari validasi eksternal, self-care biasanya terasa cepat melelahkan. Kamu jadi lebih fokus pada bagaimana orang lain melihat hidupmu dibanding bagaimana perasaanmu sendiri. Akibatnya, aktivitas tersebut kehilangan fungsi utamanya sebagai bentuk perhatian terhadap diri sendiri.
“Kalau motivasimu datang dari rasa menikmati aktivitas tersebut secara tulus, kemungkinan besar kamu akan merasa lebih segar setelah melakukannya,” jelas Pooja Lakshmin.
4. Kamu terlalu terobsesi mengoptimalkan hidup

Sekarang banyak praktik self-care yang dipasarkan sebagai cara untuk membuat hidup lebih produktif dan efisien. Mulai dari bullet journal, meal prep, sampai morning routine super ketat sering dianggap sebagai jalan menuju hidup ideal. Tidak ada yang salah dengan hal itu, tetapi semuanya bisa berubah melelahkan ketika dilakukan secara obsesif.
Alih-alih memberi ruang untuk istirahat, kamu justru sibuk mengejar versi diri yang lebih baik setiap saat. Kamu merasa harus selalu maksimal dan sulit menikmati waktu santai tanpa rasa bersalah. Pada titik tertentu, self-care malah terasa seperti pekerjaan tambahan yang tidak ada habisnya.
5. Self-care membuatmu makin stres, bukan lebih tenang

Tanda paling jelas bahwa self-care sudah tidak sehat adalah ketika aktivitas tersebut justru membuatmu makin lelah secara emosional. Kamu mungkin tetap memaksakan olahraga intens saat tubuh sedang tidak fit atau memaksa tetap produktif padahal mentalmu sedang penuh. Semua dilakukan hanya karena takut dianggap malas atau tidak disiplin.
Padahal, self-care yang sehat seharusnya fleksibel dan menyesuaikan kebutuhanmu saat itu. Ada hari ketika tubuhmu membutuhkan aktivitas, tetapi ada juga hari ketika yang paling dibutuhkan hanyalah tidur cukup dan benar-benar beristirahat. Mendengarkan kondisi diri sendiri jauh lebih penting daripada memaksakan rutinitas demi terlihat ideal.
Self-care bukan tentang seberapa sempurna rutinitas yang kamu jalani setiap hari. Pada akhirnya, self-care yang sehat adalah tentang membantu dirimu merasa lebih baik, bukan menambah tekanan baru dalam hidupmu.


















