Ilustrasi memilih istirahat sejenak (pexels.com/Andrea Piacquadio)
Biasanya, Rabu pagi berarti alarm berbunyi, buru-buru bersiap, lalu mengecek pekerjaan yang sudah menunggu. Kali ini mungkin berbeda. Kamu bangun tanpa harus memikirkan meeting atau deadline yang mengejar. Mau sarapan lama-lama bisa. Mau keluar rumah juga gak perlu menunggu jam pulang kantor. Bahkan kalau akhirnya menghabiskan pagi dengan rebahan, tidak ada yang perlu dikejar.
Ada rasa lega karena satu hari ini tidak diatur oleh jadwal kerja. Kamu yang menentukan mau melakukan apa dan kapan melakukannya. Rasa punya kendali seperti ini ternyata bisa membuat waktu terasa lebih berharga.
Ruth Ogden, psikolog, menjelaskan, “Ketika kita memiliki lebih banyak kendali atas waktu, kita cenderung lebih menghargainya dan merasa bahwa kita menggunakannya dengan baik,” dilansir American Psychological Association.
Dengan begitu, satu hari libur terasa lebih menyegarkan. Untuk sementara, kamu tidak perlu mengikuti waktu yang sudah ditentukan. Kamu yang punya kendali atas bagaimana hari itu berjalan.
Rabu pagi itu, alarm tidak berbunyi seperti biasanya. Tidak ada alasan untuk buru-buru bangun, tidak ada meeting yang harus dikejar, dan untuk beberapa jam, laptop bisa tetap tertutup. Kamu akhirnya punya waktu untuk sarapan tanpa melihat jam atau sekadar duduk sambil membiarkan pagi berjalan begitu saja.
Menjelang sore, baru terasa kalau hari itu memang berbeda. Bukan karena kamu melakukan sesuatu yang istimewa, tetapi karena untuk sekali ini, waktumu tidak dipenuhi dengan kewajiban. Besok rutinitas memang akan kembali seperti biasa, tetapi setidaknya kamu sudah punya satu hari untuk berhenti sejenak. Itu yang membuat libur di tengah minggu terasa lebih menyegarkan karena kamu tidak perlu menunggu akhir pekan untuk bisa merasa hidup lagi.