Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Kenapa Orang Norwegia Pilih Jalan di Hutan daripada Nongkrong di Mall?
Ilustrasi berjalan di hutan (pexels.com/Tobi)

Di banyak negara, pusat perbelanjaan menjadi tempat favorit untuk menghabiskan waktu luang. Akhir pekan identik dengan nongkrong di kafe, berbelanja, atau sekadar berjalan-jalan di dalam mal yang nyaman. Namun, pemandangan berbeda justru terlihat di Norwegia. Saat memiliki waktu senggang, banyak warga memilih mendaki bukit, berjalan di hutan, bermain ski, atau menikmati danau daripada menghabiskan berjam-jam di pusat perbelanjaan.

Kebiasaan tersebut bukan semata-mata karena Norwegia memiliki bentang alam yang indah, melainkan dipengaruhi oleh sebuah filosofi hidup yang telah diwariskan, yaitu friluftsliv. Apa itu?

1. Friluftsliv: Filosofi yang mengajarkan manusia kembali dekat dengan alam

Ilustrasi bahagia (pexels.com/Photo by Micah Eleazar)

Mengutip jurnal berjudul "Friluftsliv literacy—a contribution to physical literacy for health throughout the life course" dalam National Library of Medicine, secara harfiah friluftsliv berarti "kehidupan di udara terbuka" (free-air life), yaitu cara hidup yang menekankan kedekatan manusia dengan alam sebagai bagian dari kesejahteraan fisik, mental, dan sosial.

"Literasi friluftsliv mempromosikan pengalaman friluftsliv yang 'murni' berdasarkan motivasi dan keinginan internal, kesukarelaan, dan kebebasan. Kami juga berpendapat bahwa sepanjang perjalanan hidup, literasi friluftsliv mempromosikan nilai-nilai sosial yang penting, terutama dalam konteks keluarga, nilai-nilai sosial yang meningkatkan kualitas hidup," kutip dalam jurnal tersebut.

Bagi masyarakat Norwegia, alam bukan sekadar tempat berlibur, melainkan ruang hidup yang membantu mereka merasa lebih sehat, tenang, dan terhubung dengan diri sendiri. Berbeda dengan tren gaya hidup modern yang sering dikaitkan dengan konsumsi dan hiburan di ruang tertutup, friluftsliv mengajak seseorang untuk menghabiskan waktu sebanyak mungkin di alam terbuka.

Aktivitasnya pun tidak harus ekstrem seperti mendaki gunung tinggi. Berjalan santai di hutan, menikmati matahari pagi di taman, memancing, bersepeda, atau sekadar duduk menikmati suara burung sudah dianggap sebagai bentuk menjalankan filosofi ini. Yang terpenting bukan seberapa jauh seseorang menjelajah, melainkan bagaimana ia hadir sepenuhnya saat berada di alam.

2. Berada di alam terbukti membantu menurunkan stres dan menenangkan pikiran

ilustrasi bahagia menjadi jomblo (unsplash.com/Khaled Ali)

Bagi masyarakat Norwegia, berjalan di hutan bukan sekadar kegiatan untuk mengisi waktu luang, tetapi juga cara merawat kesehatan mental. Setelah bekerja atau belajar seharian, banyak orang memilih berjalan kaki di jalur hutan, mendaki bukit, atau duduk di tepi danau tanpa membawa agenda tertentu. Mereka percaya bahwa alam memberi kesempatan bagi pikiran untuk beristirahat dari kebisingan kota, notifikasi ponsel, dan tekanan pekerjaan.

"Berinteraksi dengan alam dikaitkan dengan kesehatan yang lebih baik di beberapa bidang, termasuk penurunan tekanan darah, penurunan variabilitas detak jantung, dan peningkatan kadar vitamin D. Individu yang lebih terhubung dengan lingkungan juga tampaknya mengalami tingkat kepuasan hidup dan pengaruh positif yang lebih tinggi daripada mereka yang kurang terhubung dengan lingkungan," dikutip dari laman News-Medical yang membahas tentang friluftsliv dan telah ditinjau oleh Danielle Ellis, seorang Biological Sciences, B.Sc.

3. Alam mengajarkan kesederhanaan, bukan konsumsi berlebihan

ilustrasi bahagia saat sendirian (unsplash.com/Bianca Doof)

Salah satu alasan mengapa orang Norwegia lebih memilih mendaki gunung atau berjalan di hutan dibanding nongkrong di mal adalah karena friluftsliv mengajarkan bahwa kebahagiaan tidak selalu berasal dari membeli sesuatu. Dalam budaya ini, pengalaman lebih dihargai daripada kepemilikan barang. Akhir pekan yang menyenangkan bisa diisi dengan membawa bekal kopi panas, roti lapis, lalu menikmati pemandangan pegunungan bersama keluarga atau teman.

Aktivitas tersebut sederhana, tetapi memberikan kepuasan emosional yang sulit digantikan oleh belanja atau hiburan konsumtif. Nilai ini juga berkaitan dengan gaya hidup berkelanjutan (sustainable living). Dengan lebih sering memanfaatkan ruang alam terbuka, masyarakat Norwegia cenderung memiliki hubungan yang lebih kuat dengan lingkungan.

Mereka belajar menghargai alam sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari, sehingga muncul kesadaran untuk menjaga hutan, danau, dan pegunungan tetap lestari. Tidak mengherankan jika Norwegia dikenal sebagai salah satu negara yang memiliki budaya rekreasi luar ruang yang sangat kuat.

4. Berjalan di alam membantu membangun hubungan sosial yang lebih berkualitas

Ilustrasi berjalan di hutan (pexels.com/Tobi)

Meski terdengar seperti aktivitas yang bersifat pribadi, friluftsliv justru sering dilakukan bersama keluarga, teman, atau komunitas. Di Norwegia, bukan hal yang aneh jika akhir pekan diisi dengan mendaki bukit bersama anak-anak, bermain ski lintas alam, atau sekadar berjalan santai di jalur hutan sambil mengobrol.

"Berada di alam dapat membantu melawan hal ini (budaya serba cepat), dan membantu orang merasa tenang sekaligus menurunkan detak jantung dan mengurangi hormon stres. Dan itu akan memberikan manfaat kesehatan yang positif, baik fisik maupun mental,” kata Inga Gentile, seorang psikolog klinis dikutip dari Huffpost.

Tidak ada tuntutan untuk selalu mengunggah momen tersebut ke media sosial. Fokus utamanya adalah menikmati kebersamaan dan membangun hubungan yang lebih dekat tanpa banyak distraksi. Aktivitas di alam juga menciptakan percakapan yang lebih alami. Ketika tidak ada layar ponsel, musik yang terlalu keras, atau keramaian pusat perbelanjaan, orang cenderung lebih mudah mendengarkan satu sama lain.

5. Friluftsliv mengajarkan bahwa kebahagiaan tidak harus mahal

Ilustrasi merasa bahagia (pexels.com/Mattia De Vercelli)

Salah satu daya tarik terbesar dari filosofi friluftsliv adalah kesederhanaannya. Untuk menikmatinya, seseorang tidak membutuhkan tiket masuk yang mahal, pakaian bermerek, atau peralatan canggih. Berjalan kaki di taman kota, menikmati matahari terbit, duduk di tepi danau, atau menjelajahi jalur hutan sudah dianggap sebagai aktivitas yang bermakna.

Filosofi ini mengingatkan bahwa kebahagiaan sering kali hadir dari hal-hal sederhana yang mudah diakses oleh siapa saja. Cara pandang tersebut sangat relevan di era media sosial, ketika banyak orang merasa harus terus mengikuti tren atau membeli sesuatu agar terlihat bahagia. Friluftsliv justru mengajak seseorang memperlambat ritme hidup, menikmati momen saat ini (being present), dan membangun rasa syukur melalui interaksi dengan alam.

Bagi masyarakat Norwegia, berjalan di hutan bukan sekadar alternatif dari nongkrong di mal, melainkan bagian dari filosofi hidup yang dikenal sebagai friluftsliv. Cara hidup ini mengajarkan bahwa kesehatan, ketenangan, hubungan sosial, dan kebahagiaan dapat tumbuh dari kedekatan dengan alam, bukan semata-mata dari konsumsi atau hiburan modern.

Curated For You

Editorial Team

Related Article