Ilustrasi bahagia (pexels.com/Photo by Micah Eleazar)
Mengutip jurnal berjudul "Friluftsliv literacy—a contribution to physical literacy for health throughout the life course" dalam National Library of Medicine, secara harfiah friluftsliv berarti "kehidupan di udara terbuka" (free-air life), yaitu cara hidup yang menekankan kedekatan manusia dengan alam sebagai bagian dari kesejahteraan fisik, mental, dan sosial.
"Literasi friluftsliv mempromosikan pengalaman friluftsliv yang 'murni' berdasarkan motivasi dan keinginan internal, kesukarelaan, dan kebebasan. Kami juga berpendapat bahwa sepanjang perjalanan hidup, literasi friluftsliv mempromosikan nilai-nilai sosial yang penting, terutama dalam konteks keluarga, nilai-nilai sosial yang meningkatkan kualitas hidup," kutip dalam jurnal tersebut.
Bagi masyarakat Norwegia, alam bukan sekadar tempat berlibur, melainkan ruang hidup yang membantu mereka merasa lebih sehat, tenang, dan terhubung dengan diri sendiri. Berbeda dengan tren gaya hidup modern yang sering dikaitkan dengan konsumsi dan hiburan di ruang tertutup, friluftsliv mengajak seseorang untuk menghabiskan waktu sebanyak mungkin di alam terbuka.
Aktivitasnya pun tidak harus ekstrem seperti mendaki gunung tinggi. Berjalan santai di hutan, menikmati matahari pagi di taman, memancing, bersepeda, atau sekadar duduk menikmati suara burung sudah dianggap sebagai bentuk menjalankan filosofi ini. Yang terpenting bukan seberapa jauh seseorang menjelajah, melainkan bagaimana ia hadir sepenuhnya saat berada di alam.