ilustrasi nongkrong (pexels.com/RDNE Stock project)
Budaya nongkrong sebenarnya bukan hal baru. Bahkan dalam banyak penelitian, nongkrong dianggap bagian penting dari hubungan sosial dan cara melepas stres. Jurnal dari Universitas Negeri Makassar berjudul "Nongkrong as a Form of Stress Coping among Teenagers in Makassar City" oleh Dyan Paramitha Darmayanti menyebut nongkrong menjadi salah satu bentuk coping stress bagi remaja dan anak muda karena memberi ruang untuk bercerita dan mendapat dukungan emosional.
"Nongkrong memberikan dukungan sosial yang penting, memungkinkan remaja untuk berbagi pengalaman dan perasaan mereka dalam lingkungan yang santai dan mendukung. Interaksi sosial yang terjadi saat nongkrong membantu mengurangi tekanan akademis dan sosial sekaligus meningkatkan kemampuan sosial dan emosional," tulis dalam jurnal tersebut.
"Nongkrong dapat menjadi cara yang efektif bagi remaja untuk mengatasi stres selama dilakukan dengan bijak dan dalam lingkungan yang positif," lanjutnya.
Namun, situasinya berubah ketika nongkrong mulai identik dengan coffee shop modern, tempat estetik, menu mahal, dan tuntutan gaya hidup hingga bentuk aktualisasi diri. "Fenomena Ngopi di Coffee Shop Pada Gen Z" oleh Marsha Azzahra1, Ade Irfan Abdurahman, Alamsyah dari Universitas Islam Syekh Yusuf Tangerang, menyebutkan selain faktor kenyamanan, bentuk aktualisasi diri juga merupakan bagian dari satu kebutuhan yang wajib dipenuhi. Salahnya satunya adalah kebiasan anak muda khususnya generasi Z untuk ngopi di coffee shop yang erat kaitannya dengan bagian dari kebutuhan aktualisasi diri mereka.
Akibatnya, aktivitas yang dulu sederhana jadi terasa lebih mahal secara tidak langsung. Sekali nongkrong bisa habis Rp50 ribu sampai Rp100 ribu tanpa terasa. Kalau dilakukan beberapa kali seminggu, jumlahnya mulai mengganggu pengeluaran bulanan, terutama untuk anak muda dengan gaji pas-pasan.