Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Kenapa Stroller Gak Boleh Naik Eskalator? Ini Alasannya!
ilustrasi stroller (unsplash.com/Jim Luo)
  • Eskalator dirancang hanya untuk manusia, bukan benda beroda seperti stroller, karena roda mudah kehilangan keseimbangan dan bisa menyebabkan bayi terjatuh.
  • Perubahan gravitasi dan tambahan beban di stroller meningkatkan risiko terguling, terutama saat memasuki ujung eskalator yang permukaannya berubah.
  • Roda stroller dapat tersangkut di celah eskalator hingga membuatnya terhenti mendadak, menimbulkan bahaya serius bagi bayi dan pengguna lain.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Saat sedang berada di mal, stasiun, atau bandara, kamu mungkin pernah melihat orang tua membawa stroller menaiki eskalator. Bahkan, tidak sedikit yang melakukannya sambil tetap membiarkan bayi duduk di dalam stroller. Sekilas memang terlihat praktis karena tidak perlu mencari lift yang kadang lokasinya jauh atau harus antre cukup lama.

Padahal, hampir semua pengelola pusat perbelanjaan dan produsen stroller justru melarang penggunaan stroller di eskalator. Larangan ini bukan sekadar aturan formalitas atau untuk mempersulit pengunjung, melainkan karena ada risiko kecelakaan yang cukup serius. Jadi, kenapa stroller tidak boleh naik eskalator? Ini dia jawabannya!

1. Eskalator dirancang untuk manusia, bukan kendaraan beroda

ilustrasi eskalator (unsplash.com/Jiachen Lin)

Meski ukurannya kecil, stroller pada dasarnya tetap termasuk benda beroda. Sementara itu, anak tangga eskalator dibuat untuk menopang berat tubuh manusia yang berdiri stabil di atas permukaan datar.

Roda stroller memiliki titik tumpu yang sangat kecil. Saat roda berada di atas anak tangga yang bergerak, posisi stroller bisa menjadi kurang stabil, terutama ketika eskalator mulai bergerak naik atau turun. Sedikit saja kehilangan keseimbangan, stroller bisa miring atau tergelincir. Jika di dalamnya ada bayi, bayi bisa terlempar keluar dan akibatnya bisa fatal.

2. Risiko terguling jauh lebih besar daripada yang dibayangkan

ilustrasi stroller (unsplash.com/Tamara Govedarovic)

Banyak orang mengira bahwa selama pegangan stroller dipegang dengan kuat, semuanya akan aman. Padahal nyatanya tidak selalu demikian. Saat eskalator bergerak, pusat gravitasi stroller ikut berubah. Risiko ini semakin besar jika stroller membawa tas belanja, tas bayi, atau barang lain yang digantung di bagian belakang pegangan.

Tambahan beban tersebut dapat membuat stroller menjadi berat sebelah dan lebih mudah terbalik, terutama saat memasuki bagian ujung eskalator yang permukaannya berubah dari miring menjadi datar. Banyak kecelakaan stroller di eskalator justru terjadi di titik ini karena roda depan tersangkut atau posisi stroller tiba-tiba berubah arah.

3. Roda stroller bisa tersangkut di sela-sela eskalator

ilustrasi eskalator (unsplash.com/Marcus Reubenstein)

Celah kecil di ujung eskalator memang terlihat sepele, tetapi cukup untuk membuat roda kecil pada stroller tersangkut. Jika hal ini terjadi, stroller dapat berhenti mendadak sementara eskalator tetap bergerak. Akibatnya, stroller bisa terjungkal atau terdorong ke belakang. Pada beberapa kasus, roda bahkan dapat rusak atau terjepit cukup parah hingga sulit dilepaskan dengan cepat. Situasi seperti ini tentu sangat berbahaya apabila bayi masih berada di dalam stroller.

4. Bayi tidak dapat melindungi dirinya sendiri

ilustrasi stroller (unsplash.com/Trung Nhan Tran)

Orang dewasa yang kehilangan keseimbangan di eskalator masih bisa berpegangan pada handrail atau melompat untuk menghindari jatuh. Sementara itu, bayi tidak memiliki kemampuan tersebut. Ketika stroller terguling, bayi hanya bergantung sepenuhnya pada sabuk pengaman dan perlindungan dari rangka stroller.

Sayangnya, sabuk pengaman stroller dibuat untuk menjaga bayi tetap duduk saat berjalan di permukaan datar, bukan untuk menahan benturan akibat jatuh dari tangga bergerak. Jika kecelakaan semacam ini terjadi, bayi berisiko mengalami cedera yang parah.

5. Keadaan darurat membuat orang sulit bereaksi

ilustrasi stroller (unsplash.com/Jim Luo)

Bayangkan sebuah stroller mulai kehilangan keseimbangan di tengah eskalator yang penuh orang. Ruang gerak sangat terbatas. Orang tua mungkin panik, sementara penumpang lain tidak memiliki cukup waktu untuk membantu.

Dalam sekejap, stroller dapat terguling dan menabrak beberapa orang sekaligus sebelum akhirnya berhenti di bagian bawah eskalator. Kecelakaan seperti ini tidak hanya membahayakan bayi, tetapi juga pengguna eskalator lainnya.

Kesimpulannya, larangan membawa stroller ke eskalator bukanlah aturan tanpa alasan. Karena itu, kalau kamu membawa stroller ke mal, usahakan selalu menggunakan lift saat berpindah lantai. Mungkin sedikit lebih merepotkan, tapi langkah kecil ini bisa membantu mencegah risiko kecelakaan yang tidak diinginkan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article