Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Situationship Bikin Capek Mental? Ini 5 Alasannya

Situationship Bikin Capek Mental? Ini 5 Alasannya
ilustrasi mengapa anak muda mulai jenuh dengan situationship (pexels.com/Esma Nur)
Intinya Sih
  • Tren situationship makin populer di kalangan Gen Z dan Milenial, tapi banyak yang mulai merasa lelah secara mental karena hubungan tanpa status bikin cemas dan overthinking.
  • Anak muda sadar bahwa situationship menguras energi, waktu, serta membuat mereka kehilangan hak untuk menuntut kejelasan atau validasi dalam hubungan.
  • Kesadaran akan self-worth dan kebutuhan rasa aman mendorong generasi muda meninggalkan situationship demi hubungan yang lebih sehat, jelas, dan berkomitmen.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Hubungan tanpa status alias situationship belakangan ini emang lagi menjamur di kalangan Gen Z dan Milenial. Awalnya sih terasa seru dan bebas karena kamu gak perlu pusing sama komitmen yang mengikat. Namun, lama-kelamaan rasanya malah bikin capek mental, kan? Guys, banyak anak muda mulai jenuh dengan tren situationship karena sadar kalau hubungan gantung kayak gini malah bikin energi terkuras habis.

Kalau kamu terus-terusan bertahan di zona abu-abu ini, pelan-pelan kesehatan mentalmu bisa ikutan terganggu, lho. Kamu bakal merasa cemas, insecure, dan selalu bertanya-tanya tentang kejelasan masa depan kalian. Biar kamu gak galau dalam hubungan cinta yang membingungkan ini, simak alasan anak muda mulai jenuh sama tren situationship ini, ya.


1. Capek tebak-tebakan emosi terus

ilustrasi mulai lelah dengan hubungan situationship
ilustrasi mulai lelah dengan hubungan situationship (pexels.com/cottonbro studio)

Menjalani hubungan tanpa status itu melelahkan karena kamu dituntut untuk jadi pembaca pikiran yang andal. Setiap chat yang dibalas lama atau perubahan nada bicara dikit aja bisa langsung bikin kamu overthinking seharian. Kamu gak pernah tahu pasti apakah dia beneran sayang atau cuma kesepian saja.

Kondisi ini dalam psikologi sering disebut dengan ambiguous loss, di mana kamu merasakan kecemasan akibat ketidakjelasan hubungan. Contohnya, mau cemburu saat dia jalan sama orang lain tapi sadar diri kalau kalian gak ada status apa-apa. Ujung-ujungnya kamu cuma bisa mendem dongkol, sedih banget kan?


2. Ingin validasi tapi gak berhak

ilustrasi validasi dalam pasangan menjadi hal yang penting
ilustrasi validasi dalam pasangan menjadi hal yang penting (pexels.com/Seljan Salimova)

Salah satu konsekuensi paling menyebalkan dari tren ini adalah hilangnya hak kamu untuk menuntut sesuatu. Kamu ingin dapat perhatian lebih, ingin dikenalin ke teman-temannya, atau sekadar ingin divalidasi sebagai pacar. Sayangnya, semua keinginan itu langsung terpatahkan oleh benteng tinggi bernama "kan, kita gak pacaran".

Guys, kamu dituntut buat selalu ada saat dia butuh, tapi kamu gak punya hak buat protes pas dia tiba-tiba menghilang atau ghosting. Gak heran kalau banyak anak muda mulai jenuh dengan tren situationship yang bikin posisi mereka serba salah begini, kan.


3. Boros waktu dan energi mental

ilustrasi upgrading diri dengan belajar
ilustrasi upgrading diri dengan belajar (pexels.com/RDNE Stock project)

Sadar atau gak, menjaga hubungan yang gak punya arah tujuan itu butuh energi yang gede banget, lho. Waktu yang harusnya bisa kamu pakai buat upgrading diri, nongkrong seru bareng circle kamu, atau fokus ke karier malah habis buat mikirin dia yang gak jelas. Kamu terjebak dalam siklus menunggu kabar yang gak pasti setiap hari.

Secara gak langsung, kamu lagi melakukan investasi emosional negatif, yang timbal baliknya gak sebanding atau bahkan nol besar. Daripada kuota internet dan energi energimu habis buat hubungan yang jalan di tempat, mending dialokasikan buat hal lain yang lebih produktif, setuju?


4. Sadar kalau kamu layak dihargai

ilustrasi seseorang yang bangga dengan pasangan
ilustrasi seseorang yang bangga dengan pasangan (pexels.com/Tài Đặng)

Ada momen growth spurt spiritual di mana anak muda tiba-tiba dapat pencerahan dan sadar akan self-worth mereka. Tren situationship perlahan mulai ditinggalkan karena Gen Z semakin melek soal pentingnya self-love. Kamu mulai paham kalau mencintai orang lain gak boleh sampai mengorbankan harga diri sendiri.

Kamu itu bukan pilihan cadangan yang cuma dihubungi pas dia lagi gabut atau butuh teman curhat doang. Kamu berhak mendapatkan seseorang yang bangga bilang ke dunia kalau kamu adalah pasangannya. Begitu kamu sadar kalau nilai dirimu jauh lebih tinggi dari sekadar hubungan abu-abu, saat itulah kamu bakal langsung illfeel dengan hubungan situationship.


5. Butuh rasa aman yang nyata

ilustrasi merasa aman saat bersama pasangan (pexels.com/Helena Lopes)
ilustrasi merasa aman saat bersama pasangan (pexels.com/Helena Lopes)

Mau sekeren apa pun konsep kebebasan yang ditawarkan, pada hakikatnya manusia itu butuh rasa aman dalam sebuah hubungan. Kamu butuh kepastian bahwa ada seseorang yang bakal selalu ada, baik di hari yang baik maupun di masa-masa sulit. Rasa aman ini gak bakal pernah bisa kamu temukan di dalam kamus situationship.

Anak muda zaman sekarang sudah makin realistis dan gak mau lagi termakan ego "jalanin saja dulu" yang gak ada ujungnya. Kamu butuh stabilitas emosional biar bisa menjalani hidup dengan lebih tenang tanpa drama yang gak perlu. Jadi, kalau dia cuma bisa menjanjikan kenyamanan sesaat tanpa kepastian, wajar banget kalau kamu milih buat mundur perlahan, kok.

Pada akhirnya, keluar dari zona abu-abu dan mengakui kalau kamu butuh kepastian merupakan bentuk tertinggi dari menyayangi diri sendiri. Gak usah takut rugi atau kesepian, karena banyak anak muda yang mulai jenuh dengan tren situationship dan memilih jalan yang sama demi kedamaian pikiran mereka. Kamu berhak mendapatkan hubungan cinta yang sehat, jelas, dan penuh komitmen, kok. 

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Curated For You
Topics
Editorial Team
Siantita Novaya
EditorSiantita Novaya

Related Articles

See More