Karinka Ngabito, Expressive Arts & Grief Wellness Practitioner dan Founder Merakit Diri (IDN Times/Adyaning Raras))
Sepuluh tahun berlalu, cara memandang duka pun ikut berubah. Duka gak akan berakhir pada satu titik penerimaan. Ketika sudah merasa bisa menerima semuanya, kita akan kembali ke hal-hal yang cukup triggering seperti momen ulang tahun, anniversary, dan segala macamnya.
Secara teori, proses berduka akan melewati beberapa tahapan. Teori dari Kubler-Ross menjelaskan bahwa seseorang pasti akan melewati fase penyangkalan, kemarahan, tawar-menawar, depresi, dan penerimaan. Namun, bukan berarti penerimaan adalah titik terakhir dari proses tersebut.
“Oke, saya menerima suami sudah meninggal. Tapi ketika berjalan, what if dan i wish itu tetap ada sepanjang anak saya masih hidup. Menurut saya, menerima bukan berarti menerima begitu saja. Tapi, kita menerima bahwa duka adalah bagian dari hidup. Gak mungkin hidup selesai dengan menerima, pasti ada struggle yang harus dilalui,” jelas Karinka.
Menurut Karinka, duka merupakan hal yang sangat personal dan tidak bisa disamakan. Ada yang berduka karena kehilangan, tapi ada juga yang berduka karena perpisahan. Kedua hal ini menorehkan luka dan memori yang berbeda sehingga strategi untuk menangani fase grief tersebut juga mungkin berbeda.
Apa pun masalahnya, kalau sudah sampai mengganggu fungsi keseharian, maka seseorang butuh pendampingan profesional. Tidak ada yang salah dengan meminta bantuan profesional seperti psikolog, lho. Justru, mereka yang profesional ini bisa membantu menelaah apa yang sedang terjadi dalam kehidupanmu.
Meski begitu, proses berduka tak hanya bergantung pada pendampingan profesional. Dukungan dari orang-orang terdekat juga memegang peran yang tak kalah penting dalam membantu seseorang merasa ditemani di tengah kehilangan.
Mereka yang berduka terkadang tidak memerlukan kata-kata yang bijak. Mereka hanya perlu orang-orang yang hadir tanpa menghakimi. Bahkan, ucapan turut berduka dan bantuan praktis saja sudah cukup.
Sedangkan untuk siapa pun yang sedang berduka, belajarlah untuk mengakui perasaan dan kenyataan bahwa kamu sedang tidak baik-baik saja. Izinkan perasaan marah, menyesal, atau sedih itu menyelimuti hidupmu. Setelahnya, mari kembali belajar membuka hati dan pikiran untuk berdamai dengan kenyataan pahit itu.
“Bukalah satu pintu buat yang menemani, siapa saja yang dipercaya. Boleh menyendiri, tapi jangan mengisolasi diri seutuhnya,” kata Karinka.
Duka tidak pernah menjadi garis lurus. Hidup berdampingan dengan duka dan merangkulnya merupakan perjalanan sepanjang hidup. Perjalanan panjang yang tidak pernah benar-benar selesai. Bahkan setelah 10 tahun pun, Karinka masih merasakan gelombang-gelombang kesedihan itu hadir pada beberapa waktu.
Mungkin di sinilah letak keindahan perjalanan hidup Karinka Ngabito. Justru dari pengalaman pahitnya, ia memberikan terang bagi orang lain yang merasa hidupnya begitu gelap dan suram.
Setiap hari, kita pasti menyediakan waktu untuk bekerja, belajar, bermain, bersosialisasi, dan sebagainya. Tapi, kapan terakhir kali kamu menyediakan waktu untuk berduka? How’s your grief lately?