Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Kenapa Kita Sedih saat Selebritas yang Disukai Punya Pasangan?
ilustrasi perempuan sedang patah hati (pexels.com/undefined mikoto.raw Photographer)
  • Kedekatan emosional satu arah atau hubungan parasosial membuat penggemar merasa mengenal selebritas melalui karya, konten, dan cerita pribadinya.
  • Kabar pasangan dapat membuyarkan fantasi menyenangkan tentang idola, sehingga yang terasa hilang adalah kemungkinan imajiner, bukan hubungan nyata.
  • Rasa sedih tidak selalu berarti obsesif, tetapi penggemar perlu menghormati privasi selebritas dan tidak melampiaskannya lewat tindakan negatif.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Bagi sebagian orang, kabar selebritas punya pasangan terasa seperti kabar yang seharusnya biasa saja. Alasannya, mereka juga manusia yang punya kehidupan pribadi dan berhak menjalin hubungan dengan siapa pun. Namun, entah kenapa, saat melihat idola mengumumkan hubungan atau tertangkap sedang berkencan, sebagian penggemar justru merasa sedih, kecewa, bahkan seperti kehilangan sesuatu.

Perasaan tersebut mungkin terdengar berlebihan kalau dipikir secara logis. Bagaimana bisa merasa patah hati karena seseorang yang bahkan belum pernah ditemui secara langsung? Namun, kedekatan dengan figur publik memang bisa terasa nyata kendati hubungan tersebut hanya berlangsung satu arah. Ada ikatan emosional yang terbentuk melalui lagu, film, konten media sosial, wawancara, hingga berbagai cerita tentang kehidupan sang selebritas. Lantas, kenapa kita sedih saat selebritas yang disukai punya pasangan?

1. Kita sudah terbiasa merasa dekat dengan sang selebritas

ilustrasi menyimak gosip di media sosial (unsplash.com/Rasheed Kemy)

Salah satu alasan paling masuk akal adalah karena kita memang bisa merasa dekat dengan seseorang yang sebenarnya tidak mengenal kita. Kondisi ini dikenal sebagai hubungan parasosial, yaitu hubungan satu arah saat seseorang merasa memiliki kedekatan emosional dengan figur publik. Coba bayangkan berapa banyak hal yang kita lihat dari seorang selebritas. Mulai dari wawancara, video di balik layar, unggahan Instagram, vlog, podcast, sampai cerita soal kehidupan sehari-harinya. Semakin sering melihat sosok yang sama, semakin familiar pula rasanya.

Lama-lama, selebritas tersebut bisa terasa seperti seseorang yang kita kenal. Kita tahu makanan kesukaannya, tahu kebiasaannya, bahkan mungkin tahu tipe pasangan yang katanya dia sukai. Padahal, kedekatan itu tidak berlangsung dua arah. Sang idola bisa saja sama sekali tidak tahu bahwa kita ada. Nah, ketika tiba-tiba muncul kabar dia punya pasangan, rasa dekat yang selama ini terbentuk bisa membuat kabar tersebut terasa lebih personal.

2. Ada sedikit fantasi yang ikut runtuh

Ilustrasi patah hati (Pexels.com/ RDNE Stock project)

Mengidolakan seseorang juga bisa memberikan ruang untuk berfantasi. Tidak harus sampai benar-benar ingin menjalin hubungan dengannya. Kadang, sekadar bercanda menyebutnya sebagai “suami”, membayangkan bisa bertemu di konser, atau merasa cocok kalau jadi pasangan pun sudah cukup menyenangkan.

Fantasi semacam itu sebenarnya bisa menjadi bagian dari kesenangan menjadi penggemar. Kita tahu itu tidak realistis, tetapi justru karena tidak perlu benar-benar terjadi, fantasi tersebut terasa aman untuk dinikmati. Kabar soal hubungan sang selebritas kemudian langsung membuyarkan fantasi yang sudah terbentuk. Ini seperti memberikan pengingat bahwa fantasi tersebut memang sekadar fantasi.

Itulah kenapa seseorang bisa merasa sedih meskipun sejak awal tahu bahwa peluang untuk bersama sang idola hampir tidak ada. Yang terasa hilang bukan hubungan nyata, melainkan kemungkinan yang selama ini menyenangkan untuk dibayangkan. Fantasi kecil tersebut mungkin tidak pernah dianggap serius, tetapi tetap bisa menimbulkan rasa kecewa ketika realitas tiba-tiba mengingatkan bahwa sang idola memiliki kehidupan sendiri.

3. Reaksi fans lain juga bisa membuat rasa kecewa makin besar

ilustrasi dua orang sedang sedih (pexels.com/THIS IS ZUN)

Coba buka media sosial setelah seorang selebritas mengumumkan hubungan. Hampir selalu ada berbagai macam reaksi. Ada yang ikut senang, ada yang membuat meme, ada yang pura-pura patah hati, sampai ada yang benar-benar marah.

Saat melihat banyak orang memberikan reaksi serupa, perasaan kita bisa ikut menjadi lebih kuat. Apalagi kalau berada di komunitas penggemar yang sudah lama mengikuti selebritas tersebut. Pembicaraan soal pasangan baru juga bisa membuat kabar tersebut terus muncul di timeline. Akhirnya, kita yang tadinya hanya sedikit kecewa malah terus-terusan terpapar informasi tentang hubungan tersebut. Di titik ini, media sosial ikut memperpanjang proses menerima kenyataan baru.

4. Jadi, apakah merasa sedih itu berarti kita terlalu obsesif?

ilustrasi media sosial (pexels.com/Pixabay)

Belum tentu. Merasa kecewa atau sedih saat selebritas yang disukai punya pasangan pada dasarnya bukan sesuatu yang aneh. Perasaan bisa muncul tanpa kita sengaja dan tidak selalu mencerminkan seberapa sehat atau tidak sehat hubungan kita dengan seorang idola.

Yang lebih penting adalah apa yang dilakukan setelah perasaan itu muncul. Kalau hanya merasa “yah, kok aku sedih ya” lalu beberapa hari kemudian kembali menikmati karya sang selebritas, mungkin tidak ada masalah besar. Namun, situasinya berbeda ketika rasa kecewa membuat seseorang membenci idolanya atau tidak fokus mengerjakan tugas sehari-hari.

Menyerang pasangan sang selebritas, menyebarkan data pribadi, menyebarkan hoaks, atau memaksa sang idola untuk putus tentu sudah melewati batas. Bagaimanapun juga, menjadi penggemar tidak otomatis membuat kita punya tempat dalam kehidupan pribadi seorang selebritas. Jadi, kamu bisa memvalidasi perasaanmu, tapi jangan sampai melakukan hal negatif.

Wajar kalau kita sedih saat selebritas yang disukai punya pasangan. Meski begitu, setelah rasa kecewa itu lewat, kita tetap bisa mengingat satu hal: kita menyukai seorang selebritas karena karya dan sosok yang dia tunjukkan kepada publik, tetapi kehidupan pribadinya tetap menjadi haknya sendiri.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article