Comscore Tracker

Dulu Diolok & Dibully, Irma Kini Dipuji Berkat Karya Novelnya

#AkuPerempuan Tetap semangat wujudkan mimpi!

Perempuan berkulit putih ini bernama Irma Wulandari. Pembawaannya ramah. Ia sangat supel dan ceriwis saat diajak ngobrol apalagi tentang hobinya, menulis. Ya, perempuan kelahiran tahun 1991 ini adalah penulis novel aktif. Memiliki nama pena Spring of Monday, Irma sedang menyusun novel ketiganya.

1. Menulis sudah menjadi hobi Irma sejak kecil. Saat masih sekolah, Irma aktif menulis di buletin sekolahnya

Dulu Diolok & Dibully, Irma Kini Dipuji Berkat Karya Novelnyadok pribadi

Irma Wulandari tidak pernah menyangka bisa melahirkan sebuah novel berjudul Unreplaced so Nice to Meet You. Pasalnya, awal menulis hanya hobi masa kecilnya. Sejak SD Irma kecil sudah mulai menulis cerita-cerita di bindernya. Saat SMP, tulisannya mulai masuk ke buletin sekolah yang terbit satu bulan sekali.

Sejak saat itulah Irma mulai sering membuat cerita, baik untuk tugas, drama sekolah ataupun perpisahan. Memasuki perguruan tinggi, kesukaan Irma pada budaya Korea membawanya menjadi penulis fan fiction. Nah di sinilah, kemampuan menulis Irma semakin berkembang.

Menulis fan fiction dirasa Irma cukup menantang karena harus mengimbangi selera pembaca. Irma yang lebih cenderung menulis cerita romance, harus berusaha menulis cerita komedi ataupun horor.

"Senangnya itu saat nulis fanfic, di Facebook sama blog banyak readers yang komen, dan itu tandanya karya saya dibaca."

2. Setelah melahirkan novel pertamanya di platform online, kini novel kedua Irma sedang proses moderasi editor. Sambil menunggu kabar, Irma kini menyusun novel ketiganya

Dulu Diolok & Dibully, Irma Kini Dipuji Berkat Karya Novelnyadok pribadi

Aktif menulis di dunia fan fiction, wanita berusia 26 tahun ini akhirnya iseng mengirimkan naskahnya ke web comic, salah satu platform novel online. Tidak lama, setelah moderasi editor, naskah novel Irma akhirnya diterbitkan.

Mulai dari situlah Irma semakin semangat untuk menulis. Saat ini, Irma sedang menunggu penerbitan novel keduanya dan juga menulis novel ketiganya.

Baca Juga: Pupuskan Impianmu Jadi Penulis Kalau Gak Konsisten Melakukan 5 Hal Ini

3. Menulis bukan sekadar hobi bagi Irma. Menulis menjadi cara untuk menyampaikan pesan dan pendapat yang tak terungkap. Keterbatasan fisik Irma membuatnya kadang diremehkan orang-orang

Dulu Diolok & Dibully, Irma Kini Dipuji Berkat Karya Novelnyadok pribadi

Menulis, bagi Irma bukan hanya sekadar hobi. Selain untuk menyalurkan kreativitasnya, menulis menjadi caranya untuk menyampaikan pesan dan pendapat, yang selama ini kerap tak terucapkan. Pasalnya, lahir dengan catarac congenital, Irma memiliki pandangan yang terbatas.

Pada usia 10 bulan, lensa mata Irma diangkat. Irma harus akrab berteman dengan kacamata. Ia diketahui mengalami minus 18 dan saat ini telah menurun menjadi minus 13.

Kondisi Irma yang seperti itu membuatnya kerap dipandang sebelah mata. Tidak jarang diremehkan oleh orang-orang sekitarnya. Bisa dibilang kehidupan Irma diwarnai dengan olokan dan celaan atas kondisi fisik yang dialaminya.

Saat menempuh pendidikan, keterbatasan fisiknya ini kerap menjadi bulan-bulanan teman-temannya. Katarak bawaannya ini menjadi bahan lelucon yang mengarah pada pelecehan. Bukan hanya satu dua kali. Hal itu dialaminya berkali-kali.

Bahkan ketika bepergian ke tempat ramai seperti mall, Irma sering kali mendapatkan 'pandangan' yang kurang mengenakan. Bahkan tidak sedikit orang yang menertawai kondisinya dan menyebutnya cacat. Sakit hati? Tentu iya.

Sebagai manusia, olokan-olokan yang diungkapkan orang-orang di sekitarnya sempat membuat Irma minder dan down. Apalagi celaan yang dilontarkan menusuk hati.

4. Mengalami katarak sejak lahir, pandangan Irma sangat terbatas. Tidak jarang ia diremehkan orang-orang di sekitarnya

Dulu Diolok & Dibully, Irma Kini Dipuji Berkat Karya Novelnyadok pribadi

Bukan hanya olokan, Irma juga sering dinilai berdasarkan kondisi fisiknya. Karena keterbatasan pandangannya, tidak sedikit orang menilai Irma tidak bisa bekerja, mengoperasikan komputer atau beraktivitas seperti masyarakat umumnya.

Penolakan demi penolakan di dunia pekerjaan karena kondisi fisiknya, menambah pengalaman kurang menyenangkan bagi Irma. 

Karena kondisi itu, Irma sempat berada di titik terendah dalam hidupnya. Terkadang ia merutuki kondisinya karena begitu seringnya mendapatkan celaan dan pandangan remeh orang-orang. Kadang terlintas di benak Irma untuk melakukan hal-hal nekat karena tidak tahan dengan bully yang ada.

"Kalau dibilang gak mikirin, saya tetap manusia biasa. Semua omongan yang masuk dan menusuk hati tetap kepikiran. Tapi ya saya anggap sebagai angin lalu saja walaupun sakit hati dan sebal. Kalaupun melawan juga percuma karena justru membuat mereka yang suka bully berada di atas angin."

Nah, menulis dipilih Irma sebagai cara untuk bangkit dan menyampaikan pendapatnya yang selama ini kadang tidak tersampaikan. Cerita-cerita yang ditulisnya terkadang terinspirasi dari pengalaman hidupnya sendiri.

Semua tokoh pada cerita yang dibuat Irma pun semuanya memiliki latar belakang catarac congenital. Bukan tanpa tujuan, Irma menginginkan para pembacanya bisa memahami jika lahir dengan kekurangan bukanlah suatu hal yang harus disesali.

5. Lewat novelnya, Irma ingin mengajak pembaca untuk bisa menerima perbedaan dan kekurangan setiap orang dan menghindari tindakan bully. Karena bagi Irma, semua orang baik yang keterbatasan atau tidak memiliki hak yang sama

Dulu Diolok & Dibully, Irma Kini Dipuji Berkat Karya Novelnyadok pribadi

Irma berharap karya-karya yang dibuatnya bisa menginspirasi para pembacanya dan lebih aware serta bisa menerima berbagai perbedaan dan kekurangan setiap manusia.

"Lahir dengan ketidakberuntungan bukan berarti tidak boleh mendapat perlakuan yang sama atau tidak boleh sukses. Seburuk apapun manusia dengan kisahnya, mereka semua berhak mendapat yang terbaik dalam hal apapun."

Sudah menerbitkan novel, bukan Irma tidak memiliki mimpi lainnya. Irma ingin menjadi seorang penulis naskah film. Well, good job Irma, terus berkarya ya!

Baca Juga: Jangan Takut Bermimpi! Berikut 5 Tips Menggapai Impian Terbesar

IAKT Photo Community Writer IAKT

Go with the flow

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Irma Yudistirani
  • Arifina Aswati

Just For You