“Ketika inflasi meningkat dan ekonomi melambat, orang-orang akan lebih hemat dan mengurangi pengeluaran. Namun ada beberapa produk, seringkali produk yang harganya tidak mahal, yang permintaannya justru meningkat selama resesi. Salah satu kategori produk tersebut adalah kosmetik perempuan," kata Colleen Kirk, peneliti perilaku konsumen dan profesor pemasaran di Sekolah Manajemen Institut Teknologi New York mengutip laman Verywell Mind.
5 Manifestasi Lipstick Effect ala Gen Z, Self Reward biar Tetap Waras!

Lipstick effect sedang menjadi perbincangan, di mana ini merupakan fenomena ekonomi dan gaya hidup, ketika masyarakat tetap membeli barang-barang kecil yang memberikan kepuasan emosional, meskipun kondisi finansial sedang tidak menentu.
Istilah ini berasal dari kebiasaan konsumen yang tetap membeli lipstik saat daya beli menurun karena harganya relatif terjangkau dibandingkan pembelian barang mewah lainnya.
In this economy, lipstick effect ala gen Z bergeser maknanya menjadi bentuk self-reward untuk menjaga kewarasan setiap hati. So, berikut beberapa manifestasi lipstick effect ala gen Z!
1. Me time di coffee shop untuk nikmati kopi susu dan matcha

Manifestasi lipstick effect ala gen Z yang paling populer yaitu nongkrong di kafe aesthetic atau membeli es kopi susu kekinian hingga matcha. Mereka tetap menikmati kopi atau minuman favorit meskipun sedang berhemat dalam aspek lain.
Sesuai dengan laporan PwC yang berjudul "The Gen Z paradox: Spending less, expecting more", gen Z memiliki versi mereka sendiri dalam memaknai lipstick effect, yang lebih ke arah self reward. Laporan tersebut menyebutkan bahwa konsumen muda kini lebih sering memanjakan diri dengan produk seperti matcha.
Membeli kopi seharga Rp20 ribu-Rp50 ribu menjadi pengganti "kemewahan" sementara yang lebih terjangkau. Membeli minuman bukan hanya kebutuhan konsumsi, tetapi juga menjadi bagian dari gaya hidup yang memberikan kenyamanan psikologis alias agar tetap "waras" menjalani hari!
2. Membeli produk kecantikan affordable pengganti kosmetik luxury

Membeli produk kecantikan juga menjadi bentuk manifestasi lipstick effect ala gen Z sebagai bentuk self reward. Gen Z memilih membeli lip tint, cushion, parfum travel size, atau serum, biasanya dari brand lokal dengan harga yang lebih ramah di kantong.
Ini sejalan dengan makna lipstick effect itu sendiri di mana penjualan kosmetik perempuan berbanding terbalik dengan kondisi ekonomi. Dengan kata lain, ketika ekonomi sedang menurun, pengeluaran perempuan untuk kosmetik cenderung meningkat.
Misalnya lip tint lokal di kisaran harga Rp50 ribu-Rp100 ribu, parfum ukuran 10-30 ml, hingga sheet mask premium. Mereka berinvestasi pada barangaffordable namun tetap berkualitas, praktis, all-in-one, dan yang paling penting bisa menyenangkan hati.
3. Fashion untuk dressed up yang relevan dengan tren

Selain produk kecantikan, manifestasi lipstick effect ala gen Z adalah dalam bentuk fashion. Tren fashion bergaya Y2K, aksesori unik, atau pernak-pernik kecil yang lucu jadi incaran gen Z untuk memanjakan diri dari sisi estetika.
“Makna lainnya dari lipstick effect yaitu membeli hadiah kecil untuk diri sendiri ketika berada di bawah tekanan keuangan,” kata John Stevenson, analis ritel di Peel Hunt, mengutip laman CNBC.
Gen Z juga menggunakan barang-barang ini sebagai mood booster dan alat untuk mengekspresikan diri. Daripada membeli tas atau pakaian mewah, gen Z cenderung memilih fashion item yang lebih terjangkau namun tetap mengikuti relevan dengan tren. Mulai dari jersey sepak bola vintage, topi baseball, sneakers kasual dari brand lokal, hingga aksesori pelengkap lainnya.
4. Koleksi merchandise dari pop culture

Pengeluaran untuk barang-barang kecil yang dapat menambah semangat bukanlah tren baru. Ini biasanya terjadi dalam masa-masa resesi, di mana konsumen sering beralih ke pembelian barang-barang pribadi sederhana, biasanya berhubungan dengan hobi seperti mainan, untuk meningkatkan kewarasan ketika masa-masa sulit atau tidak pasti.
Banyak barang yang muncul di media sosial adalah mainan lucu yang membangkitkan kenangan masa kecil. Manifestasi lipstick effect ala gen Z terlihat pada pembelian produk yang berhubungan dengan hobi dan fandom.
Mulai dari photocard K-pop, album musik edisi khusus, miniatur ikonik dalam film, merchandise konser, hingga figur karakter anime. Produk ini memiliki nilai emosional yang tinggi. Bagi banyak Gen Z, membeli barang-barang ini menjadi mengekspresikan identitas sekaligus mendukung komunitas yang mereka sukai.
5. Membeli experience; nonton film hingga nonton konser

Daripada menabung untuk investasi jangka panjang yang terasa mustahil, gen Z mengalokasikan dananya untuk menonton konser atau festival. Pengalaman dianggap sebagai bentuk kepuasan batin yang jauh lebih berharga daripada menimbun barang.
Bukan liburan mewah, gen Z lebih memilih hiburan yang biayanya relatif terjangkau. Termasuk di dalamnya seperti menonton konser, festival musik lokal, membeli tiket festival kuliner, nonton film di bioskop, serta mengunjungi pameran seni.
Dengan membeli experience, manifestasi lipstick effect ala gen Z ini mampu memberikan kebahagiaan, menciptakan kenangan, sekaligus untuk tetap menjaga kewarasan tanpa memerlukan biaya sebesar perjalanan wisata premium.
Itulah manifestasi lipstick effect ala gen Z yang mengedepankan kebahagiaan dalam mode berhemat. Lipstick effect bergeser maknanya menjadi self reward yang bermakna agar tetap waras menjalani hari di tengah ketidakpastian ekonomi. So, apa manifestasi versi kamu?


















