Comscore Tracker

Suka Menulis Fiksi? Perhatikan 9 Hal Ini Biar Ceritamu Makin Mantap

Harus rajin membaca dan praktik menulis ya

Selain sebagai hobi, menulis termasuk menulis fiksi juga dapat menjadi profesi yang menjanjikan. Apakah kamu termasuk yang suka menulis fiksi dan ingin serius menggelutinya? Kalau iya, ini nih, 9 hal penting yang perlu kamu perhatikan supaya ceritamu makin memikat pembaca.

1. Hindari karakter tokoh hitam putih dan stereotip

Suka Menulis Fiksi? Perhatikan 9 Hal Ini Biar Ceritamu Makin MantapPixabay.com/Prawny-162579

Jangan terjebak menciptakan tokoh-tokoh dengan karakter yang sangat bertolak belakang. Misalnya, A baik sekali sedangkan B jahat sekali. C tampan atau cantik sekali, pintar ini itu, pokoknya idola banget; sementara D total kebalikannya sehingga selalu menjadi bulan-bulanan orang. Kenyataannya, setiap orang pasti memiliki kelebihan dan kekurangan. Ketidaksempurnaan karakter tokoh adalah kesempurnaan itu sendiri.

Pun karakter-karakter hitam putih rawan membuat cerita jadi membosankan dan hanya akan meneguhkan stereotip-stereotip. Yang menjadi idola identik dengan pemain basket, ketua OSIS, dan pemain musik. Sementara yang jadi korban perundungan memiliki fisik dan sifat tertentu seperti bertubuh gemuk dan lambat dalam gerakan maupun berpikir.

Padahal, yang bertubuh gemuk tetapi berprestasi juga banyak. Tak sekadar pengisi waktu luang, fiksi yang baik mestinya dapat mencerahkan pembacanya dengan memberikan sudut pandang baru dan mematahkan stereotip-stereotip.

2. Hilangkan saja tokoh yang sia-sia

Suka Menulis Fiksi? Perhatikan 9 Hal Ini Biar Ceritamu Makin MantapPixabay.com/HisLoveNeverFails-6598585

Tokoh yang sia-sia ialah tokoh yang keberadaannya atau ketiadaannya tidak memengaruhi jalan cerita. Figuran selalu diperlukan. Namun figuran berbeda dengan tokoh sia-sia. Meskipun bukan penentu cerita, figuran ikut membentuk jalannya cerita itu. Akan tetapi tokoh sia-sia sering kali hanya ada namanya tanpa peran nyata.

Cara mudah memeriksanya, setelah naskahmu selesai, coba baca lagi. Mungkin kamu perlu membacanya sampai beberapa kali. Lalu setiap kali membacanya, tanyakan pada dirimu sendiri.

Seumpama tokoh ini dan itu dihilangkan, bangunan ceritamu berubah atau tidak? Jika ceritamu jadi berlubang atau ada yang kurang, berarti tokoh tersebut figuran. Namun jika tidak berpengaruh pada ceritamu, berarti itu tokoh yang sia-sia dan lebih baik dihilangkan saja.

Baca Juga: Menulis Gak Cuma Bisa Hilangkan Rasa Jenuh, Berikut 5 Manfaat Lainnya

3. Tambal lubang-lubang logika

Suka Menulis Fiksi? Perhatikan 9 Hal Ini Biar Ceritamu Makin MantapPixabay.com/darksouls1-2189876

Menulis fiksi bukan berarti menulis sebebas-bebasnya sampai mengabaikan alur berpikir. Apa pun genre yang kamu tulis, logika tetap menjadi dasar. Kamu sangat boleh menulis tentang kemampuan-kemampuan ajaib dan hal-hal gaib. Namun berikan penjelasan yang memadai bagaimana semua itu bisa terjadi.

Jangan hanya tiba-tiba begini, tiba-tiba begitu. Nanti ceritamu berbentuk seperti kepingan-kepingan acak yang dipaksa ditempatkan dalam satu bingkai. Hasilnya, semua kepingan berada di dalam bingkai. Namun, antarkepingannya tidak tersambung dengan baik layaknya papan puzzle.

4. Jangan memudahkan jalan cerita dengan menyajikan banyak kebetulan

Suka Menulis Fiksi? Perhatikan 9 Hal Ini Biar Ceritamu Makin MantapPixabay.com/farmafilipe-11201167

Di dunia nyata pun, kebetulan memang ada. Namun tidak banyak. Nah, seperti dalam poin 3, supaya ceritamu lebih logis, kamu perlu sesedikit mungkin menggunakan jurus kebetulan dalam ceritamu.

Misal, A pacaran dengan B. Eh, ternyata B saudaranya mantan A yang bernama C. Eh, ternyata lagi, sekarang C pacaran dengan sahabat A waktu sekolah, sebut saja D. Lalu A dan C jatuh cinta lagi. Solusi supaya keduanya bisa bersatu kembali tanpa menyakiti siapa pun, kamu membuat B ternyata mengidap penyakit mematikan lalu meninggal dunia. D juga mengalami kecelakaan dan tewas. Maka A dan C kembali bersama.

Selain menjadi mudah ditebak, kebetulan-kebetulan yang bertebaran ini akan membuat pembaca lelah bahkan mungkin marah. Sebagai penulis, kamu akan sangat terlihat enggan berusaha lebih keras untuk membuat ceritamu lebih baik. Itu berarti juga meremehkan pembacamu yang bahkan harus mengeluarkan uang untuk bisa membaca ceritamu.

5. Pesan moral dan penyampaiannya

Suka Menulis Fiksi? Perhatikan 9 Hal Ini Biar Ceritamu Makin MantapPixabay.com/LisaChe-5643621

Cerita fiksi ibarat gerbong, sementara pesan moral adalah muatannya. Secara pribadi, kamu harus punya sesuatu yang hendak kamu sampaikan pada pembaca ceritamu supaya ceritamu tak menjadi sekadar omong kosong. Pun dengan adanya pesan moral, pembaca mendapatkan manfaat lebih dari ceritamu selain sebagai hiburan.

Mungkin kamu ingin menyampaikan tentang hasil yang tak pernah mengkhianati kerja keras. Mungkin kamu ingin menyampaikan pesan perdamaian dalam perbedaan. Mungkin kamu ingin menyampaikan tentang hidup yang tak selalu manis tetapi justru dari situlah kita belajar menjadi pribadi yang tangguh.

Apa pun pesan moral yang hendak kamu sampaikan, perhatikan cara penyampaiannya. Kamu bisa menyelipkan sedikit dalam narasi dan dialog. Namun sebaiknya lebih dikuatkan dengan penyampaian secara tersirat. Setelah pembaca membaca ceritamu, mereka akan menyimpulkan sendiri pesan moralnya. Dengan begitu, ceritamu tak terbaca terlalu menggurui atau seperti ceramah.

6. Pastikan hanya menulis yang penting

Suka Menulis Fiksi? Perhatikan 9 Hal Ini Biar Ceritamu Makin MantapPixabay.com/lhotsky-1643745

Hanya menulis yang penting untuk ditulis akan membuat naskahmu tampak lebih padat dan berbobot. Sebaliknya, menulis segala hal yang tidak penting hanya akan membuat naskahmu bertele-tele dan pembaca akan melompati beberapa kalimat bahkan paragraf yang tidak penting itu agar lebih cepat sampai ke inti atau akhir cerita.

Salah satu yang membuat cerita bertele-tele adalah pengulangan informasi berkali-kali. Kadang, sebagai penulis, memang seperti ada kekhawatiran jangan-jangan pembaca belum memahami atau lupa akan informasi-informasi yang telah disampaikan di awal sehingga penulis mengulanginya lagi dan lagi. Namun ini justru membuat pembaca bosan bahkan mungkin jadi malas melanjutkan membaca.

Yakinlah bahwa sejauh kamu telah menyampaikannya di awal dengan cukup jelas, pembaca pasti telah memahaminya. Bahkan jika ada yang belum mereka pahami atau mereka lupa, mereka akan kembali melihat halaman-halaman sebelumnya. Pembacamu bukan makhluk yang pasif, tidak akan mengerti jika tidak diberi tahu berkali-kali. Mereka bahkan punya kemampuan berpikir kritis.

Jadi, tidak perlu mengulang-ulang informasi. Apalagi jika itu hanya untuk memperpanjang cerita atau mempertebal naskah. Cerita bagus bukan tentang panjang atau pendeknya melainkan kejelasan misi dan gaya penyampaian yang memikat. Bahkan penyuntingan berkali-kali selalu diperlukan untuk memangkas hal-hal yang tidak penting ini.

7. Penggunaan beberapa sudut pandang mungkin perlu

Suka Menulis Fiksi? Perhatikan 9 Hal Ini Biar Ceritamu Makin MantapPixabay.com/Larisa-K-1107275

Supaya cerita tidak membosankan dan pembaca bisa lebih berempati pada tokoh-tokohnya, kamu bisa menyajikan cerita dari sudut pandang beberapa tokoh. Satu bagian sudut pandang tokoh A, satu bagian sudut pandang tokoh B, dan seterusnya serta nanti bila diperlukan dapat kembali lagi ke sudut pandang tokoh pertama.

Namun hati-hati ya, saat menerapkan ini. Jangan sampai pergantian sudut pandang malah membuat pembacamu bingung. Atau pergantian dari sudut pandang tokoh A ke sudut pandang tokoh B hanya mengulangi apa yang telah diceritakan dalam bagian sudut pandang A.

Pastikan pergantian sudut pandang ini tetap membuat cerita mengalir, bahkan terasa lebih mengalir, bukan justru berputar di situ-situ saja. Jangan sampai juga, sudah berpindah dari sudut pandang tokoh A ke tokoh B, tetapi kamu masih bercerita dengan gaya bercerita tokoh A dan cara berpikir tokoh A.

Misalnya, pergantian sudut pandang dari tokoh A yang laki-laki ke sudut pandang tokoh B yang perempuan. Tentu ada perbedaan dalam cara mereka melihat permasalahan, merasakan, dan cara menemukan solusi. Demikian pula dari tokoh C yang seorang ibu ke tokoh D yang seorang anak.

Bahkan dua tokoh atau lebih yang berjenis kelamin sama dan sebaya pun akan memiliki perbedaan cara berpikir dan merasa. Ini sesuai dengan karakter masing-masing. Kunci sukses berpindah-pindah sudut pandang ini adalah sebanyak mungkin membaca cerita yang kaya dan tentunya terus menambah jam terbangmu di dunia kepenulisan.

8. Pilihan kata dan perbedaan rasa yang ditimbulkan

Suka Menulis Fiksi? Perhatikan 9 Hal Ini Biar Ceritamu Makin MantapPixabay.com/Tumisu-148124

Menjadi penulis fiksi harus memiliki kepekaan akan rasa. Misalnya, ada perbedaan rasa antara kata 'saya', 'aku', dan 'gue'. Begitu pula 'kau', 'kamu', 'lu', 'anda'. Kamu harus tahu kapan kamu akan menggunakan setiap pilihan kata tersebut. Kemudian, apakah kata 'saya' hanya cocok untuk situasi di kantor atau saat berbicara dengan guru di sekolah?

Tidak. Dalam kisah asmara, misalnya, kata 'saya' juga bisa dipakai kok. Contohnya, saat tokoh hendak membangun batasan yang lebih jelas dengan kekasihnya. Ia ingin lebih menegaskan siapa dirinya dan kedudukannya, serta cenderung membuat jarak dengan orang lain tak terkecuali dengan kekasihnya itu.

Saat kamu sudah punya kepekaan akan rasa yang timbul dari pemilihan kata, ini akan sangat membantumu untuk menjelaskan secara tersirat karakter tokoh-tokohmu dan suasana yang terbangun. Kamu tidak perlu lagi menuliskan tokohmu adalah sosok yang serius atau santai dan sebagainya.

Dengan ketajaman akan rasa, kamu juga akan dapat mengolah berbagai kalimat menjadi lebih menarik dan dalam maknanya. Kamu tidak lagi menulis, 'aku tiba-tiba sedih,' melainkan, 'ada perasaan hampa yang seketika menyeruak dari dalam dadaku.'

9. Akhir tak terduga penting tetapi bukan segalanya

Suka Menulis Fiksi? Perhatikan 9 Hal Ini Biar Ceritamu Makin MantapPixabay.com/Yuri_B-2216431

Akhir yang tidak terduga memang keren. Namun jangan sampai hanya karena tergoda untuk membuat akhir yang tak terduga, kamu malah jadi terkesan memaksakan cerita. Pokoknya akhirnya tak terduga, entah masuk akal atau tidak.

Bisa dibilang, akhir cerita adalah penentu sukses atau tidaknya sebuah cerita. Akan tetapi akhir yang sebenarnya sudah bisa ditebak pun, asal dibawakan dengan baik dan menyentuh hati, akan jauh lebih berkesan daripada akhir yang dipaksakan agar menjadi tidak terduga.

Terduga atau tidak terduga, kamu harus mempersembahkan bangunan cerita yang utuh. Jangan sampai awal dan tengah sudah bagus, runtut, tiba-tiba bagian akhirnya membuat dahi pembaca berkerut dan memunculkan reaksi spontan, "Masa begini akhirnya?"

Bagaimana? Banyak ya, hal-hal yang perlu diperhatikan kalau kamu ingin ceritamu menjadi lebih bagus? Tenang, kamu akan belajar lebih banyak dan tanpa perlu terlalu pusing dengan rajin membaca dan praktik menulis kok. Jadikan 9 hal di atas sebagai panduan saja. Tetap semangat ya!

Baca Juga: 5 Cara Mudah Mendapatkan Inspirasi Menulis agar Dimuat di IDN Times!

Marliana Kuswanti Photo Verified Writer Marliana Kuswanti

Esais, cerpenis, novelis. Senang membaca dan menulis karena membaca adalah cara lain bermeditasi sedangkan menulis adalah cara lain berbicara.

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Arifina Aswati

Berita Terkini Lainnya