"Merasa lelah secara mental dan emosional setelah pengalaman positif adalah hal yang normal. Mungkin itu menyenangkan, tetapi kamu tetap mengeluarkan banyak energi emosional antara bersosialisasi atau berada di lingkungan yang merangsang," kata Gabrielle (Morse) Sanderson, LMHC, pendiri Noetic Therapy, dikutip dari Verywell Mind.
Mengapa Kita Mengalami Emotional Hangover? Ini Cara Mencegahnya!

- Emotional hangover adalah kelelahan emosional dan fisik setelah interaksi sosial atau pengalaman intens, baik negatif seperti konflik maupun positif seperti konser, pernikahan, dan perjalanan.
- Kondisi ini dapat dipicu aktivasi sistem saraf serta perubahan zat kimia seperti dopamin; kecemasan, depresi, dan empati tinggi berpotensi membuatnya lebih berat.
- Tandanya meliputi brain fog, lelah, cemas, sedih, mudah marah, dan kurang motivasi; pencegahan mencakup waktu pemulihan, tidur, makan-minum cukup, jurnal, serta menerima emosi.
Apakah kamu pernah bangun tidur dalam perasaan lelah, lesu, kepala terasa pusing, bahkan sedikit mual? Tidak selalu karena virus penyakit, mungkin kamu baru saja bertengkar hebat dengan orang yang dicintai, mengalami perselisihan dengan rekan kerja, atau bahkan lelah setelah nonton konser seharian.
Bisa jadi kamu mengalami emotional hangover. Mungkin ini bukan istilah klinis, tetapi banyak orang memahaminya sebagai kelelahan secara emosional dan fisik akibat interaksi emosional setelah aktif bersosialisasi. Lantas, mengapa bisa terjadi emotional hangover dan bagaimana cara mengatasinya?
1. Mengapa kita mengalami emotional hangover?

Ilustrasi emotional hangover (pexels.com/Pavel Danilyuk) Emotional hangover dapat disebabkan oleh berbagai situasi, baik itu yang negatif maupun positif dari proses sosialisasi. Bisa jadi itu berupa pertengkaran, hari yang berat di tempat kerja, atau kamu baru saja pulang dari acara pernikahan, konser, perjalanan, atau pertemuan sosial lainnya.
Meskipun bersenang-senang selama perayaan, kamu dapat merasa lelah, sedih, dan/atau kehabisan energi setelahnya, yang disebut dengan "emotional hangover".
Sanderson mengatakan, ada beberapa alasan mengapa emotional hangover dapat terjadi. Salah satunya, kamu melepaskan zat kimia yang membuat perasaan senang seperti dopamin dan saat emotional hangover itu terjadi, kita kekurangan zat tersebut.
Di sisi lain, jika kamu memiliki diagnosis kesehatan mental, pengalaman tersebut dapat lebih parah. Orang dengan kecemasan dan depresi mungkin mengalami rangkaian pikiran negatif setelah pengalaman positif. Dan apabila kamu adalah orang yang berempati tinggi, juga bisa memperparah kondisi.
"Ini bukanlah pengalaman permanen, melainkan sesuatu yang kemungkinan besar akan segera kau lewati. Emotional hangover sering terjadi karena sistem saraf kita berada dalam keadaan tegang, baik karena kegembiraan, koneksi, atau stimulasi, dan membutuhkan waktu untuk mengatur diri," kata Alyssa Petersel, LCSW, pendiri dan CEO MyWellbeing, dikutip dari Verywell Mind.
2. Seperti apa rasanya emotional hangover?

Ilustrasi emotional hangover (pexels.com/Gustavo Fring) Alasan mengapa emosi positif yang besar dapat menyebabkan emotional hangover yang sama seperti emosi negatif yang besar, karena kedua jenis emosi tersebut mengaktifkan sistem saraf dengan cara yang sama.
“Kegembiraan dan antisipasi sama-sama membutuhkan respons dari kita. Tubuh merespons kegembiraan dan ketakutan dengan cara yang sama, dan pikiranlah yang menafsirkan mana di antara keduanya,” jelas Tracy King, psikolog klinis di Dr. Tracy King, dikutip dari Real Simple.
Kemampuan untuk mengenali bahwa kamu sedang mengalami emotional hangover adalah kunci untuk mengatasinya. Nah, berikut ini bisa jadi tanda kamu sedang mengalami emotional hangover.
- Kecemasan
- Pemutusan/pemisahan (disconnect/detachment)
- Brain fog
- Kelelahan (fisik, mental, dan/atau emosional)
- Kebingungan
- Kurangnya motivasi
- Kesedihan
- Kesendirian
- Sifat lekas marah
- Kekosongan
- Kelelahan
3. Cara mencegah emotional hangover

Ilustrasi emotional hangover (pexels.com/Valeriia Miller) Tidak ada cara yang benar-benar ampuh untuk menjamin kamu akan mengalami penurunan suasana hati setelah melewati acara besar. Tetapi, kamu dapat berhati-hati dan membuat semuanya semudah mungkin agar terhindari dari emotional hangover.
"Sisihkan waktu untuk pemulihan yang tenang sebelum dan sesudah acara besar, menjaga pola makan dan minum yang cukup, serta menenangkan diri dengan rutinitas seperti tidur, berolahraga, atau menulis jurnal," saran Petersel.
Ia juga mencatat bahwa keseimbangan emosional datang dari pengaturan tempo, bukan dari memaksakan diri. Untuk menulis jurnal, tetapkan niat untuk mengenang peristiwa positif sehingga kamu dapat merasakan efek jangka panjang dan makna yang didapat darinya.
Menerima perasaan setelah suatu kejadian dapat membantu kamu dalam memprosesnya dan "mengikuti arus" emosi, jadi jangan memendamnya untuk nanti. Biarkan emosi itu muncul tanpa mencoba menghakimi atau mengubahnya, dan emosi itu akhirnya akan mereda.
"Rasakan dan akui kesedihan itu karena tidak ada cara untuk menghindarinya. Beberapa penderitaan dan gejala yang paling menyusahkan terjadi justru akibat dari upaya untuk menghindari emosi kita," kata Sanderson.
Terakhir, perhatikan kapan kamu mengalami emotional hangover dan proaktif dalam menghindari orang-orang yang menguras energi. Misalnya, kamu pergi ke suatu acara dengan seorang teman, yang kamu tahu ia membawa kesedihan setiap kali kamu bersamanya. Dengan siapa kamu bergaul dan energi yang kamu serap menjadi sangat penting untuk mencegah emotional hangover.
So, ketahuilah bahwa mengalami emotional hangover adalah hal yang normal. Bersikaplah baik pada diri sendiri dan luangkan ruang serta waktu yang kamu butuhkan sebelum siap untuk bersosialisasi kembali. Semoga bermanfaat!













![[QUIZ] Pilih Karakter Upin & Ipin Ini, Kami Tebak Kamu Seorang yang Green Flag atau Red Flag](https://image.idntimes.com/post/20250530/img-20250530-203717-a4e4cddefdae713cd1a3efe97f21f1d1-d39800576cc5d4ebd91a012aa51130f5.jpg)







