Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Mengapa Menulis yang Dulu Menyenangkan Kini Terasa Berat?
ilustrasi menulis (pexels.com/Ron Lach)
  • Menulis terasa berat ketika setiap tulisan dituntut sempurna sejak awal.

  • Menulis terus-menerus dengan topik atau tuntutan yang sama dapat membuat prosesnya terasa membosankan.

  • Jarang menulis sesuatu yang benar-benar disukai dapat membuat minat dan kesenangan dalam menulis memudar.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Apakah kamu termasuk orang yang dulu bisa betah menulis sampai malam, tetapi sekarang baru membuka laptop saja sudah malas? Kamu mungkin masih mau menulis hanya saja begitu mulai mengetik, rasanya seret. Satu paragraf belum selesai, sudah ingin menghapus semuanya.

Hal seperti ini bisa terjadi setelah terlalu lama menulis dengan cara yang sama. Apalagi kalau belakangan menulis lebih sering dilakukan untuk kerja, tugas, atau mengejar target tertentu. Akhirnya, kegiatan yang dulu terasa menyenangkan bisa berubah jadi sesuatu yang melelahkan. Kalau kamu sedang berada di fase ini mungkin sejumlah hal berikut yang menjadi biang keroknya.

1. Sekarang, setiap tulisan terasa harus sempurna

ilustrasi tulisan (unsplash.com/Microsoft Edge)

Dulu mungkin kamu gak terlalu peduli dengan hasil tulisan yang kamu hasilkan. Mau kalimatnya jelek sedikit, ya lanjut saja. Sekarang semuanya beda. Baru menulis dua baris saja, kamu sudah buru-buru membaca ulang, mengganti kata, lalu merasa pembukanya gak enak. Akhirnya satu paragraf bisa dikerjakan jauh lebih lama daripada seharusnya.

Keinginan supaya memiliki hasil tulisan bagus memang wajar, tetapi kalau muncul sejak kalimat pertama, menulis jadi gak terasa bebas. Kamu belum selesai menyampaikan ide, tetapi sudah sibuk memperbaiki cara menyampaikannya. Belum lagi kalau setelah dibaca ulang ternyata tetap gak suka, akhirnya tulisan itu hanya akan berhenti di tengah jalan.

2. Terlalu sering menulis dengan topik yang sama

ilustrasi menulis (pexels.com/Berna)

Kalau setiap hari harus menulis soal topik yang mirip, lama-lama kamu bisa kehabisan minat dalam menulis. Bukan berarti kamu mendadak gak suka menulis, lho ya. Bisa saja yang bikin bosan adalah topik yang terus berputar di situ-situ saja.

Hal ini gampang terasa ketika setiap membuka laptop kamu sudah tahu harus menulis apa. Gak ada lagi rasa penasaran karena isinya kurang lebih sama dengan tulisan yang kemarin kamu hasilkan. Mau sebagus apa pun kemampuan menulismu, kalau topik yang dikerjakan itu-itu saja secara terus-menerus, wajar kalau terasa hambar. Gak jarang proses menulisnya juga ikut terasa berat.

3. Kamu terlalu sering menulis karena ada yang meminta

ilustrasi menulis (pexels.com/William Fortunato)

Menulis untuk orang lain jelas punya aturan yang berbeda. Ada brief, deadline, jumlah kata, revisi, gaya bahasa, sampai komentar editor atau mungkin dosen. Bahkan ketika sebenarnya kamu sedang gak ingin menulis, tetap ada tulisan yang harus selesai hari itu.

Kalau sudah terlalu lama ada di fase seperti ini, kamu bisa terbiasa menganggap menulis sebagai sebuah kewajiban. Begitu punya waktu untuk menulis sesuatu yang kamu sukai, eh kamu malah bingung mau mulai dari mana. Kamu sudah terbiasa menunggu topik, instruksi, atau tugas datang, bukan mencari sesuatu yang memang ingin kamu tulis sendiri.

4. Kamu jarang menulis sesuatu yang benar-benar kamu suka

ilustrasi menulis (pexels.com/Ron Lach)

Coba lihat lagi tulisanmu beberapa bulan terakhir. Berapa banyak yang kamu buat karena memang ingin menulis, bukan karena harus menghasilkan karya? Kalau hampir semuanya berkaitan dengan pekerjaan, tugas, atau kebutuhan orang lain, mungkin di situlah masalahnya.

Menulis hal yang kamu suka gak harus langsung menghasilkan tulisan panjang. Kamu bisa menulis pendapat soal film yang baru ditonton, menceritakan pengalaman makan di tempat baru, bikin cerita pendek, atau sekadar mencatat sesuatu yang sejak tadi kepikiran. Gak perlu bagus dan gak perlu diunggah. Karena yang penting, kamu kembali memperoleh spark yang hilang bahwa menulis gak selalu berarti duduk berjam-jam hanya untuk untuk menyelesaikan tugas.

5. Terlalu lama memaksa diri ketika sedang buntu

ilustrasi menulis (pexels.com/Ron Lach)

Ada hari ketika memang kamu merasa stuck, sama sekali gak ada ide yang keluar. Kamu sudah buka laptop, ganti posisi duduk, bikin kopi, buka dokumen baru, tetapi tetap gak tahu mau menulis apa. Biasanya, semakin dipaksa justru semakin kesal. Akhirnya bukan cuma tulisannya yang gak jadi kamu hasilkan, membuka laptop pun sudah bikin malas.

Kalau hal semacam ini sering terjadi, coba perhatikan juga apa yang kamu lakukan di luar waktu menulis. Bisa jadi kamu memang sedang kurang membaca, jarang mencari hal baru, atau beberapa hari terakhir cuma sibuk dengan rutinitas yang monoton. Seperti seorang chef, seorang penulis tetap butuh bahan, kok. Kadang bahan tulisan bisa muncul dari satu percakapan, buku, film, perjalanan singkat, atau kejadian kecil, bukan sebatas datang dari duduk dua jam sambil menunggu ide muncul begitu saja.

Menulis yang sekarang terasa berat gak selalu berarti kamu sudah kehilangan minat terhadap kegiatan itu. Bisa jadi kamu terlalu lama menulis dengan tuntutan yang sama sampai lupa bahwa menulis juga boleh dilakukan tanpa target apa pun. Sesekali, bikin tulisan yang gak akan dikirim ke siapa-siapa juga gak ada salahnya. Siapa tahu dari situ kamu kembali menemukan sparks dari kegiatan menulis yang dulu kamu sukai.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

EditorYudha ‎

Related Article