Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

5 Rekomendsi Novel Fantasi dengan Adaptasi Film yang Layak Ditonton, Seru!

4 min read
5 Rekomendsi Novel Fantasi dengan Adaptasi Film yang Layak Ditonton, Seru!
film adaptasi novel A Monster Calls (dok. Focus Features/A Monster Calls)
  • The Princess Bride, Coraline, dan The Last Unicorn diadaptasi menjadi film yang menonjolkan petualangan, horor fantasi, serta atmosfer melankolis dari novel masing-masing.
  • Howl's Moving Castle versi Hayao Miyazaki mempertahankan konsep kastil bergerak dari novel Diana Wynne Jones, lalu mengembangkannya dengan gaya khas Studio Ghibli dan musik Joe Hisaishi.
  • A Monster Calls dikembangkan Patrick Ness dari ide Siobhan Dowd; Ness juga menulis skenario film 2016, sehingga inti emosional kisah Conor dan ibunya tetap terjaga.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Mengadaptasi novel fantasi ke layar lebar bukan pekerjaan mudah. Dunia, karakter, dan imajinasi yang dibangun penulis harus diterjemahkan ke dalam bentuk visual tanpa menghilangkan daya tarik cerita aslinya. Namun, beberapa film justru berhasil membuat kisah dari novel tersebut terasa semakin hidup dan memberikan pengalaman berbeda bagi penonton.

Menariknya, adaptasi yang bagus tidak selalu berarti filmnya harus mengikuti buku secara persis. Ada film yang mempertahankan emosi utama dari novelnya, sementara yang lain berani mengembangkan bagian tertentu agar lebih cocok dengan medium sinema. Lima novel fantasi berikut merupakan contoh karya yang berhasil melahirkan film adaptasi yang sama-sama menarik untuk dinikmati.

  1. 1. The Princess Bride — William Goldman

    The Princess Bride.
    The Princess Bride (harpercollins.com)

    William Goldman awalnya dikenal sebagai novelis sebelum namanya semakin besar sebagai penulis skenario Hollywood. Ia mendapatkan ide untuk The Princess Bride setelah kedua putrinya memberikan dua kata yang kemudian menjadi judul buku tersebut, yaitu “princesses” dan “brides”. Gaya penceritaannya juga membuat buku ini terasa berbeda dari kisah fantasi pada umumnya.

    Ketika Rob Reiner mengadaptasinya menjadi film pada 1987, Goldman kembali terlibat dengan menulis skenarionya. Film tersebut kemudian menjadi petualangan fantasi yang penuh humor, duel pedang, kisah cinta, dan karakter-karakter ikonik. Berkat keseimbangan antara komedi dan petualangan, The Princess Bride bisa dinikmati oleh penonton dari berbagai usia tanpa terasa terlalu rumit.

  2. 2. Coraline — Neil Gaiman

    Coraline.
    Coraline (goodreads.com)

    Neil Gaiman menulis Coraline sebagai cerita menyeramkan untuk anak-anak, bahkan ide awalnya sudah muncul sejak 1990. Cerita tersebut mengikuti Coraline, seorang anak perempuan yang menemukan dunia lain di balik sebuah pintu misterius di rumahnya. Dunia tersebut awalnya terlihat lebih menarik daripada kehidupan aslinya, tetapi perlahan menunjukkan sisi mengerikan.

    Dengan konsep sederhana itu, Gaiman berhasil menciptakan cerita fantasi horor yang terasa menyeramkan sekaligus penuh imajinasi. Ketika Henry Selick mengadaptasinya menjadi film stop-motion pada 2009, berbagai elemen dalam novel diperluas agar lebih sesuai dengan kebutuhan visual. Hasilnya adalah dunia alternatif Coraline yang tampak memukau sekaligus membuat tidak nyaman.

  3. 3. The Last Unicorn — Peter S. Beagle

    The Last Unicorn.
    The Last Unicorn (goodreads.com)

    The Last Unicorn merupakan salah satu novel fantasi klasik yang terkenal karena gaya penulisannya yang puitis dan penuh makna. Peter S. Beagle menciptakan kisah tentang seekor unicorn yang percaya bahwa dirinya adalah makhluk terakhir dari jenisnya. Perjalanannya kemudian membawanya bertemu berbagai karakter dan menghadapi dunia yang tidak sesederhana dongeng pada umumnya.

    Adaptasi animasinya dirilis pada 1982 dengan Arthur Rankin Jr. dan Jules Bass sebagai sutradara, sementara Beagle sendiri ikut menulis skenarionya. Meskipun tidak langsung sukses secara komersial, film ini perlahan mendapatkan penggemar dan berkembang menjadi sebuah cult classic. Animasi tradisionalnya berhasil menangkap atmosfer melankolis dan sedikit surealis yang menjadi kekuatan cerita.

  4. 4. Howl's Moving Castle — Diana Wynne Jones

    Howl's Moving Castle.
    Howl's Moving Castle (harpercollins.com)

    Novel Howl's Moving Castle karya Diana Wynne Jones pertama kali diterbitkan pada 1986. Ide ceritanya bermula ketika Jones bertemu seorang anak laki-laki yang memintanya menulis buku tentang sebuah “moving castle”. Dari gagasan sederhana tersebut lahirlah kisah penuh keajaiban, humor, dan karakter-karakter unik. Novel ini juga memiliki cara yang menarik dalam membalik berbagai aturan klasik dalam cerita dongeng.

    Popularitasnya semakin melejit ketika Hayao Miyazaki mengadaptasinya menjadi film animasi pada 2004. Miyazaki mempertahankan gagasan tentang kastil yang bisa berpindah-pindah, tetapi mengembangkan ceritanya dengan gaya khas Studio Ghibli. Ditambah musik Joe Hisaishi yang ikonik, Howl's Moving Castle menjadi salah satu adaptasi fantasi yang terasa memiliki identitasnya sendiri tanpa kehilangan pesona novel aslinya.

  5. 5. A Monster Calls — Patrick Ness

    A Monster Calls.
    A Monster Calls (penguinrandomhouse.com)

    A Monster Calls berawal dari ide penulis dan aktivis asal Inggris, Siobhan Dowd, tentang seorang anak laki-laki yang harus menghadapi penyakit mematikan yang diderita ibunya. Setelah Dowd meninggal dunia pada 2007, editor Denise Johnstone-Burt meminta Patrick Ness untuk melanjutkan proyek tersebut. Ness kemudian mengembangkan ide awal itu menjadi novel yang memiliki cerita emosional sekaligus penuh unsur fantasi.

    Kisahnya mengikuti Conor, seorang anak yang setiap malam didatangi monster misterius yang membawa berbagai cerita kepadanya. Film A Monster Calls yang dirilis pada 2016 disutradarai J. A. Bayona dan skenarionya ditulis langsung oleh Patrick Ness. Karena penulis novelnya ikut terlibat dalam proses adaptasi, film ini mampu mempertahankan inti emosional dari cerita aslinya.

    Lima novel fantasi tersebut membuktikan bahwa adaptasi buku ke film tidak selalu berakhir mengecewakan. Jadi, jika ingin mencari film fantasi yang punya cerita kuat sekaligus berasal dari karya sastra populer, kelima judul ini layak masuk daftar tontonan, tetapi mana yang paling ingin kamu tonton lebih dulu?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Dari Kebun Nilam ke Pasar Dunia

Related Articles

See More