Pergi ke rumah sakit, naik transportasi umum, berbelanja di pusat perbelanjaan, atau sekadar berjalan-jalan di taman harusnya bisa dilakukan oleh siapa saja. Namun, bagi difabel, aktivitas tersebut sangat sulit dilakukan. Terlebih karena fasilitas publik belum sepenuhnya mudah diakses atau bahkan tak ramah difabel.
Tangga tanpa jalur alternatif, trotoar yang rusak, toilet umum, sampai informasi yang terbatas bisa menjadi rintangan besar. Sayangnya, persoalan aksesibilitas masih sering dianggap sebagai eksklusivitas. Padahal, fasilitas publik yang ramah difabel bisa membuat ruang bersama menjadi lebih nyaman. Pembahasan tentang fasilitas publik ramah difabel harusnya tak dianggap sebagai bentuk belas kasih, ini alasannya.
