Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Perempuan Muda Indonesia di Tengah Gelombang AI dan Kerja Baru
ilustrasi perempuan membaca dokumen (pexels.com/Yan Krukau)
  • Perempuan muda Indonesia kini mendefinisikan ulang makna kesuksesan, menekankan fleksibilitas kerja dan keseimbangan hidup dibanding jabatan tinggi atau gaji besar.
  • Pendidikan dipandang sebagai investasi penting, namun biaya tinggi dan ketimpangan akses membuat keluarga kelas menengah harus cermat memilih jalur pendidikan terbaik.
  • Kesenjangan partisipasi perempuan di bidang AI masih lebar akibat akses terbatas dan representasi rendah, berpotensi memperlebar jurang ekonomi serta karier di masa depan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Perempuan Indonesia hari ini dihadapkan oleh berbagai tekanan dan transformasi yang terus berubah. Berbagai fenomena terjadi pada perempuan ketika mereka harus memilih satu keputusan besar yang memengaruhi kehidupannya. Seseorang yang resign dari pekerjaan bukan karena gaji kecil, tetapi ketiadaan waktu untuk dirinya sendiri.

Ada pula seorang ibu yang memilih melepaskan pekerjaannya, menekan ego demi bisa mendampingi anak secara full time. Belum lagi berbagai kekhawatiran yang dirasakan ketika AI mendominasi dan bisa 'merebut' pekerjaannya. Ada banyak pertimbangan yang dipikirkan seorang perempuan untuk bisa survive di tengah banyaknya tekanan. Indonesia Millenial and Gen Z Report 2027 yang baru dirilis oleh IDN, menunjukkan bagaimana pandangan perempuan terhadap hidupnya di masa kini.

1. Pandangan perempuan soal karier berubah

ilustrasi kuliah (pexels.com/Yan Krukau)

Menurut pemaparan dalam Indonesia Millenial and Gen Z Report 2027, terungkap bahwa perempuan muda Indonesia kembali mendefinisikan kesuksesan secara berbeda. Bukan soal jabatan, tapi fleksibiltas.

Buat perempuan masa kini, karier bukan suatu hal yang bisa diprediksi. Pandangan dan keputusan perempuan soal karier bergantung pada kondisi dan prioritas yang terus berubah. Organisasi yang tidak mampu mengakomodasi kebutuhan fleksibilitas, rentan kehilangan pekerja perempuan terbaik mereka.

2. Perempuan kini memandang pendidikan sebagai investasi

ilustrasi kuliah (unsplash.com/javier trueba)

Bagi banyak keluarga kelas menengah, biaya pendidikan harus sebanding dengan peluang penghasilan di masa depan dan beasiswa menjadi faktor yang semakin krusial. Data dari BPS menunjukkan bahwa mayoritas pelajar berasal dari kelompok aspiring middle class. Kelompok ini berada dalam garis rentan miskin sehingga kondisi finansial jadi hal yang sangat krusial.

Data Susenas pada Maret 2024 mencatat, ada stagnansi atau penurunan jumlah siswa di sekolah negeri. Hal ini berbanding terbalik dengan pertumbuhan jumlah siswa yang konsisten di sekolah swasta. Artinya, lebih banyak masyarakat yang lebih mungkin memilih sekolah swasta karena pertimbangan keamanan dan kualitas lingkungan belajar.

3. Ada kesenjangan perempuan di dunia AI

ilustrasi kuliah (pexels.com/Walls.io)

Penggunaan kecerdasan buatan (artificial intellegence) semakin bertumbuh pesat. Namun, partisipasi perempuan menunjukkan kesenjangan yang signifikan. Data dari Coursera menunjukkan, ada 49 persen dari total pelajar di Indonesia dengan 30 persen di antaranya merupakan peserta yang mempelajari AI.

Laporan PwC menunjukkan ada 69 persen pekerja di Indonesia yang menggunakan AI dalam 12 bulan terakhir. Hal ini menandakan betapa pesatnya penggunaan AI, tapi hanya sedikit perempuan yang memiliki minat belajar tingggi terhadap bidang ini.

Ada banyak faktor yang melatarbelakangi kesenjangan tersebut. Bukan soal motivasi saja melainkan akses yang terbatas hingga representasi perempuan yang masih rendah.

4. Ada risiko kesenjangan ekonomi dan karier perempuan di masa depan

Ilustrasi kuliah jurusan AI (freepik.com/DC Studio)

Kesenjangan tersebut juga tentng biaya yang mahal. Dari 69 persen pekerja Indonesia yang menggunakan AI, hanya 16 persen yang menggunakannya setiap hari. Namun, mereka gak bisa mencapai level intensif bukan hanya karena tertinggal dalam keterampilan — mereka tertinggal dalam kesejahteraan ekonomi.

Permasalahannya juga, soal pergerseran dalam hal pengambilan keputusan. Perempuan menjadi pusat pengambilan keputusan dalam hal ekonomi, sedangkan model karier mereka cenderung fleksibel dan tidak linear. Kalau perempuan kurang proaktif, kesenjangan perempuan di bidang ini bisa semakin melebar.

IDN menggelar Indonesia Summit 2026, sebuah konferensi independen yang khusus diselenggarakan untuk dan melibatkan generasi Milenial dan Gen Z di Tanah Air. Dengan tema "The Next Us: Indonesia's Leap in the Algorithmic Age". IS 2026 bertujuan membentuk dan membangun masa depan Indonesia dengan menyatukan para pemimpin dan tokoh nasional dari seluruh nusantara.

IS 2026 diadakan di Tribrata Dharmawangsa, Jakarta, pada 17-18 Juni 2026. Dalam IS 2026, IDN juga meluncurkan Indonesia Millennial and Gen-Z Report 2027.

Survei ini dikerjakan oleh IDN Research Institute. Melalui survei ini, IDN Media menggali aspirasi dan DNA Milenial dan Gen Z, apa nilai-nilai yang mendasari tindakan mereka. Survei ini menjangkau responden Milenial dan Gen Z di sembilan wilayah di Indonesia, antara lain Sumatra Utara, Kepulauan Riau, Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jakarta Timur, Kalimantan, dan Sulawesi.

Editorial Team

Related Article