Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Perjalanan Yayuk Basuki: Hampir Frustasi tapi Bertahan hingga Ukir Sejarah
Yayuk Basuki. (IDN Times/Dina Salma)
  • Yayuk Basuki mengenal tenis sejak usia 6–7 tahun berkat dukungan keluarga, lalu fokus mengasah kemampuan hingga meniti karier profesional.
  • Ia mencetak sejarah dengan mencapai perempat final tunggal Wimbledon 1997, meraih empat emas Asian Games, serta menjuarai turnamen WTA.
  • Meski pernah hampir frustrasi akibat kekalahan dan keterbatasan, Yayuk bertahan, kini membina regenerasi melalui Yayuk Basuki Tennis School dan mendorong pemanfaatan kesempatan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Nama Yayuk Basuki mungkin sudah tak asing lagi bagi masyarakat Indonesia. Kiprahnya di dunia olahraga, khususnya tenis, menjadi bukti kemampuannya yang tak perlu diragukan lagi. Kepiawaiannya memainkan raket, mengantarkan Yayuk menembus panggung dunia sekaligus menjadikannya salah satu legenda tenis terbaik yang dimiliki indonesia.

Di balik sorotan dan prestasi gemilang yang mengiringi karier Yayuk, tentu ada perjalanan panjang tentang kegigihan, keuletan dan kerja keras yang membentuk sosoknya. Ditempa dengan berbagai kekalahan dan dibentuk dari berbagai kemenangan, Yayuk membuktikan dirinya mampu mengharumkan nama Indonesia di panggung dunia.

Bagi tenis Indonesia, kiprah Yayuk turut membuka jalan bagi generasi setelahnya untuk berani bermimpi dan menembus batas. Kisah Yayuk dibagikan secara langsung dalam wawancara eksklusif bersama IDN Times pada Rabu (12/8/2026) di Yayuk Basuki Tennis School (YBTS), Jakarta Selatan. Perjalanan Yayuk kecil yang penuh perjuangan hingga kisahnya menaklukkan kompetisi olahraga di berbagai belahan dunia, dapat menjadi pengingat bagi bahwa potensi diri dan kesungguhan dapat mengantarkan siapa pun mencapai prestasi terbaiknya.

1. Jatuh cinta pada tenis sejak kecil

Yayuk Basuki. (IDN Times/Dina Salma)

Kecintaan Yayuk terhadap tenis tumbuh dari lingkungan keluarga yang sudah akrab dengan dunia olahraga. Perempuan kelahiran Yogyakarta pada tahun 1970 ini, bercerita bahwa kedua orangtuanya selalu memberikan dukungan kepada anak-anak mereka untuk menekuni olahraga, terutama tenis. Kakak-kakak Yayuk pun telah lebih dahulu mengikuti jejak orangtua dan mendapat dukungan untuk menjadi atlet tenis profesional. Lingkungan tersebut kemudian menjadi sumber inspirasi dari perjalanan Yayuk hingga akhirnya dikenal sebagai salah satu petenis Indonesia.

"Semua memang berawal dari orangtua. Orangtua saya, ayah saya terutama. Jadi, ayah sama ibu saya itu, mereka yang memang mengenalkan saya dengan tenis," ujarnya.

Orangtua Yayuk, Budi Basuki dan Sutini, sama-sama aktif bermain olahraga. Sebelum menekuni tenis, Budi merupakan pemain sepakbola, sementara Sutini aktif bermain bulu tangkis. Keduanya kemudian memperkenalkan tenis kepada anak-anak mereka.

Ketertarikannya pada tenis perlahan tumbuh dari kebiasaan mengamati sang kakak berlatih. Yayuk mulai memegang raket dan bermain tenis ketika usianya menginjak 6-7 tahun. Di luar latihan bersama keluarga, ia juga terbiasa berlatih sendiri di rumah. Ketekunan tersebut membuat Budi melihat adanya perkembangan yang cukup signifikan dalam kemampuan putrinya.

"Dari umur 7 tahun (mulai latihan tenis). Makanya, ayah saya mulai megang saya atau mengarahkan dan melatih saya setelah pulang kantor atau pagi-pagi sebelum saya ke sekolah. Jadi, pengenalan awalnya memang dengan sendirinya karena saya ngelihat kakak saya. Setelah itu, ya itu, dengan saya pukul tembok, lama-lama kencang," ceritanya.

Menariknya, tenis bukan satu-satunya olahraga yang dikenal Yayuk sejak kecil. Ia bercerita bahwa pada masa itu, tenis belum menjadi olahraga yang begitu populer di lingkungan sekolah. Cabang olahraga seperti atletik, bulu tangkis, dan tenis meja justru lebih banyak diminati.

Yayuk sendiri sempat menguasai beberapa cabang olahraga tersebut. Namun, perkembangan yang ia tunjukkan di tenis, membuatnya memilih untuk lebih fokus mengasah kemampuan di lapangan tenis.

Ia mengakui lingkungan keluarga memberikan dampak yang besar terhadap kepiawaiannya, "Dari lingkungan keluarga. Semuanya dari family dan termasuk sampai dengan kita grow up, ya memang perhatian dari keluarga, termasuk otomatis biaya dan segala macam, kan dari keluarga."

2. Yayuk mencetak sejarah sebagai petenis terbaik di Indonesia dan Asia Tenggara pada masanya

Yayuk Basuki. (IDN Times/Dina Salma)

Sebagai seorang atlet legendaris, kemenangan di berbagai kompetisi olahraga tentu bukan lagi sesuatu yang asing bagi Yayuk. Namun, di balik sederet prestasi tersebut, selalu ada perjuangan, pengorbanan, dan momen-momen yang meninggalkan kesan mendalam dalam perjalanan kariernya.

"Yang memang sangat memorable adalah waktu saya juara Asian Games kategori single. Saya kan 4 emas Asian Games secara total, tapi yang paling memorable memang pastinya kategori single. Sebelumnya kan double, nah ini single tahun '98 dan quarter finalist Wimbledon. Walaupun dengan segala banyak, saya kan 4 medali emas Asian Games dan juga juara WTA tournament. Tapi kalau dibilang memang yang paling memorable, ya memang itu," ujar Yayuk saat ditanya momen paling memorable dalam perjalanan kariernya.

Di antara berbagai pencapaian tersebut, Yayuk mengaku salah satu momen yang paling membekas baginya adalah ketika berlaga di Wimbledon, turnamen tenis tertua sekaligus salah satu yang paling bergengsi di dunia. Wimbledon merupakan bagian dari Grand Slam, empat turnamen utama yang menjadi ajang paling prestisius dalam kalender tenis dunia. Pada turnamen yang digelar di Inggris tersebut, Yayuk berhasil melangkah hingga babak perempat final atau delapan besar pada 1997.

Pencapaian itu bukan sekadar catatan dalam perjalanan kariernya. Keberhasilan Yayuk menembus perempat final tunggal Wimbledon turut mencatatkan namanya dalam sejarah sebagai petenis Indonesia dan Asia Tenggara yang pertama kali mencapai babak tersebut di era Open.

Ia menuturkan mengapa momen tersebut menjadi perjuangan yang paling membanggakan untuknya, "Waktu itu saya masih orang kedua yang bisa tembus sampai dengan quarter final, di open era. Kalau zaman dulu kan gak dihitung karena invitation. Ini di open era kan profesional seperti sekarang. Jadi itu menjadi prestasi tersendiri untuk saya. Saya membukakan kesempatan untuk pemain kita yang lain bahwa kita bisa. Jadi, sebetulnya saya membukakan pintu dunia profesional untuk pemain kita."

Sepanjang kariernya, Yayuk memang telah menorehkan berbagai prestasi di panggung internasional. Salah satunya adalah Olimpiade Barcelona 1992, ketika ia berhasil melaju hingga babak ketiga atau 16 besar. Namun, sejumlah pencapaian lain juga menjadi bagian penting dari perjalanan panjangnya sebagai atlet, terutama saat ia membawa nama Indonesia dalam kompetisi tingkat Asia di ASEAN Games.

Bagi Yayuk, keberhasilan mencapai titik tersebut tidak terlepas dari ekosistem pembinaan olahraga yang ia rasakan pada masanya. Menurutnya, perhatian dan dukungan negara terhadap pengembangan atlet turut memberikan ruang bagi dirinya dan para atlet lain untuk berkembang.

"Dulu itu development atau pembinaan olahraga di tanah air itu sedemikian rupa dan perhatiannya bagus. Walaupun bukan dalam bentuk uang," ujarnya.

3. Belajar bahasa demi bisa tanding tenis, perjuangan Yayuk menjadi atlet profesional

Petenis legendaris Indonesia, Yayuk Basuki. (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo)

Jika kini Yayuk dikenang sebagai salah satu petenis terbaik Indonesia, perjalanan menuju puncak tersebut tentu bukanlah jalan yang mudah. Ia membangun karier profesional dari nol, mengumpulkan poin demi poin dan menapaki satu per satu jenjang kompetisi hingga akhirnya mampu menembus peringkat dunia.

"Saya dulu membuka dunia profesional untuk kita, itu terus terang aja, saya tidak mengatakan sekarang lebih mudah, gak. Pasti sama-sama sulit. Cuman, dulu kita sulit banget. Bayangin saya dari kampung ke kampung nyari poin. Untuk tembus ke peringkat dunia, harus dari peringkat dan harus poin. Poin itu harus kita cari, harus juara dulu dari level tingkat bawah," kenang Yayuk soal tantangannya.

Perjuangan tersebut bukan sekadar tentang berpindah dari satu turnamen ke turnamen lain demi mengejar poin. Yayuk juga harus beradaptasi dengan lingkungan dan budaya yang berbeda, termasuk menghadapi kendala bahasa ketika mulai berkompetisi di luar negeri. Ia pun harus mempelajari berbagai bahasa, salah satunya bahasa Italia, agar dapat berkomunikasi dan beradaptasi ketika bertanding di negara lain.

"Tapi kelebihannya adalah mental kita terukur. Jadi, kita menjadikan diri kita yang kuat secara mental, tidak hanya fisik. Anak kita sekarang, everything is there. Semuanya udah ada di depan kan. Dan mereka mungkin tidak perlu melalui dengan apa yang kita lalui. Mungkin dengan latihan berminggu-minggu," tambahnya.

Jalan panjang sebagai petenis profesional juga menuntut pengorbanan besar dalam kehidupan pribadi Yayuk, termasuk dalam hal pendidikan. Demi menjalani karier dan mengikuti berbagai pertandingan di luar negeri, ia harus meninggalkan bangku kuliah dan menghabiskan waktu yang cukup panjang di luar Indonesia.

Proses yang panjang tetap harus dilakoni tanpa mengharapkan hasil secara instan, Yayuk berpesan pada generasi muda. Setiap fase dalam perjalanan seorang atlet memiliki perannya masing-masing dalam membentuk karakter dan mental.

"Saya tidak mau mengatakan (generasi sekarang) lemah, memang eranya saja yang memang berbeda. Jadi, saya tidak mau mengatakan anak saya lemah, gak. Tapi, eranya dan cara pengajaran ini semuanya juga dampak dari seorang guru, seorang pelatih, dan awal didikan udah pasti dari orangtua," imbuhnya.

Ditanya soal karakter paling penting yang perlu dimiliki seorang atlet, Yayuk menyoroti tiga hal utama yakni fokus, dedication, dan komitmen. Menurutnya, ketiga fondasi itu saling berkaitan untuk membentuk pertahanan atlet.

"Kalau saya bilang komitmen, itu semua connected. Komitmen itu semua bagian dari dedication, bagaimana disiplin dia, itu udah udah bagian daripada komitmen. Kalau dia bisa menjaga itu, saya yakin lebih banyak lagi kita bisa mendapatkan atlet yang berkualitas. Jadi, dia tidak hanya short term, tapi bicara long term," jelasnya.

Dalam perbincangan siang hari itu, Yayuk juga sempat menyinggung Jenice Tjen, atlet tenis profesional Indonesia yang telah menorehkan sederet prestasi gemilang, termasuk di panggung Internasional. Ia melihat sosok Jenice sebagai atlet yang dibentuk melalui proses panjang, baik dari sisi fisik maupun mental. Menurut Yayuk, Janice telah terbangun kuat baik secara mental dan fisik dengan baik.

4. Mengenang momen kekalahan dan kegagalan, Yayuk Basuki: hampir frustasi

Yayuk Basuki.(Dok.Istimewa)

Perjalanan menjadi seorang atlet tentu bukan proses yang singkat. Perjuangan itu tak hanya ditempa di lapangan, tetapi juga melalui berbagai situasi sulit di luar lapangan. Yayuk berkisah, pada awal perjalanan kariernya, ia harus bertanding dari satu kota kecil ke kota lainnya demi mengumpulkan poin dengan sumber daya yang serba terbatas. Jauh dari orangtua dengan kondisi finansial yang terbatas, Yayuk harus belajar mengandalkan dirinya sendiri untuk terus bertahan sebagai atlet.

"Kalau saya gak coba fight, gak coba bertahan, bayangin jauh dari orangtua juga, hanya jalan sendiri, sama ada pemain lain, kadang tanpa pelatih. Latihan seminggu, main kualifikasi, kalah. Latihan lagi, kalah lagi. Itu hampir frustrasi juga," Yayuk mengenang masa perjuangannya.

Namun, justru dari rentetan kekalahan dan kegagalan itulah yang menempa mental Yayuk. Pengalaman tersebut membuatnya semakin memahami bahwa tenis bukan sekadar olahraga, melainkan bagian penting dari perjalanan hidupnya.

"Tapi justru di situ, akhirnya saya kembali lagi. Hei, saya main tenis untuk diri saya sendiri, ini masa depan saya di sini karena saya sudah jadikan tenis sebagai profesi. Jadi, jangan jadikan main tenis itu hanya selingan atau for fun. Jadi udah, benar-benar jadi profesi," tambahnya.

Yayuk berpandangan, seseorang yang bercita-cita menjadi atlet perlu ditempa sejak usia dini dengan latihan dan pembinaan yang terarah. Menurutnya, dedikasi dan komitmen yang dibangun sejak kecil menjadi fondasi penting untuk membentuk seorang atlet profesional. Di sisi lain, dukungan pemerintah sebagai pemangku kebijakan juga tak kalah penting dalam menciptakan ekosistem olahraga yang berkelanjutan.

Yayuk pun mengingat kembali masa ketika dirinya ditempatkan di Sport Center Ragunan. Pada masa itu, terdapat Sekolah Khusus Olahragawan (SKO) atau Sekolah Atlet Ragunan yang berdiri tahun 1997. Dari tempat tersebut, lahir sejumlah atlet kelas dunia, seperti dirinya, lalu Susi Susanti-Alan Budikusuma dari cabang olahraga bulu tangkis, serta banyak nama besar lainnya.

Baginya, tenis juga memiliki sejarah prestasi yang panjang bagi Indonesia. Karena itu, ia menyayangkan apabila career track sebagai atlet tidak mendapatkan dukungan yang memadai, mengingat proses dan perkembangan setiap individu membutuhkan waktu, pembinaan, serta dukungan yang berkesinambungan.

Menariknya, saat ini olahraga tenis tengah kembali bergairah di masyarakat Indonesia. Terlepas dari berbagai tantangan yang pernah dihadapi Yayuk maupun atlet tenis lainnya, ia menyambut positif tren tenis yang kembali meningkat dalam beberapa tahun terakhir.

Ditanya tanggapan Yayuk terkait tren olahraga tersebut, ia menjawab, "Saya optimis. Mereka menemukan bahwa tenis ini tidak dinikmati oleh kelompok-kelompok tertentu saja. Tenis bisa dinikmati oleh semua kalangan. Saya bikin slogan: Tennis for fun, tennis for everyone. Jadi, gak ada yang namanya orang-orang tertentu saja yang bisa main tenis, gak. Jadi semua kalangan bisa menikmati, bisa main. Nanti kalau udah bisa main, fun game-nya, mereka gak akan berhenti, sampai hari tua pun juga akan terus."

Yayuk mengamati, tren tersebut semakin terasa sejak pandemik COVID-19. Menurutnya, ketertarikan masyarakat yang terus tumbuh terhadap tenis berpotensi membangun ekosistem olahraga yang lebih kuat sekaligus menghadirkan dukungan yang lebih besar bagi para atlet. Ia berharap perkembangan tersebut tidak berhenti sebagai tren, tetapi dapat menjadi pintu lahirnya talenta-talenta muda yang kelak meneruskan perjuangan Yayuk dan para atlet generasi sebelumnya.

Semangat untuk membangun regenerasi itulah yang kemudian turut mendorong Yayuk dan suaminya mendirikan sekolah tenis bernama Yayuk Basuki Tennis School. Bagi Yayuk, pembinaan sejak usia dini penting agar anak-anak tidak hanya bermain secara spontan, tetapi juga mendapatkan pemahaman teknik dan pola latihan yang terstruktur.

"Kalau pemain yang generasi saya bilang masih kecil-kecil, masa usia dini, itu memang bisa diarahkan. Kenapa kita bilang sekolah tenis? Karena supaya dia bermainnya terstruktur dengan teori yang baik. Bagaimana cara bermain dengan baik, dengan benar. Nah itu udah bicara lifetime. Akhirnya terbangun semuanya, jadi mereka merasa this is part of my way life," lanjut dia. Hal ini juga yang mendasari Yayuk dan suami membangun Yayuk Basuki Tennis School.

5. Pesan Yayuk untuk generasi muda: pergunakan kesempatan sebaik-baiknya!

Petenis legendaris Indonesia, Yayuk Basuki. (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo)

Tak meninggalkan dunia tenis setelah pensiun sebagai atlet profesional, sang legenda justru memilih tetap berada di dalam ekosistem olahraga yang telah membesarkan namanya. Kali ini, Yayuk mengambil peran sebagai pembina dan pelatih sekaligus membagikan pengalaman yang ia kumpulkan selama puluhan tahun berkarier. Baginya, tenis bukan lagi sekadar profesi yang pernah dijalani, tetapi telah menjadi bagian dari kehidupannya.

"Saya lebih berpikir this is my profession. Kalau saya bisa share ilmu saya, akan jauh lebih bermanfaat buat masyarakat banyak. Itu yang saya pikirkan. Kenapa saya tetap menekuni tenis dan akhirnya memiliki sekolah tenis," jelasnya.

Selaras dengan visinya untuk melakukan regenerasi tenis, Yayuk menjadi Brand Ambassador Singapore Open Tennis 2026. Yayuk menyampaikan, ia dan beberapa legenda tenis dari ASEAN akan berkumpul di Singapore sebagai Brand Ambassador SOT 2026.

"Kita akan dikumpulkan sebagai legend ambassador untuk Singapore Tennis Open. Itu nanti 21 hingga 27 September di OCBC Arena, Singapore. Kalau bisa anak-anak kita bisa menyaksikan, WT500 ini baru satu-satunya di Asia Tenggara, di ASEAN terutama. Mereka kalau bisa menyaksikan pemain-pemain dunia, akan jauh lebih terinspirasi," ujar Yayuk.

Regenerasi tak hanya berhenti pada pelatihan atau pembinaan, namun juga representasi atlet legendaris dari Indonesia. Bagi Yayuk, kemitraan dengan SOT 2026 diharapkan dapat memberi jalan dan inspirasi bagi generasi mudah secara lebih luas.

"Karena live after tennis itu juga bagaimana networking, kerjasama kita, dan apa yang bisa saling support. Kita bisa mendukung, mengembangkan tenis agar lebih besar lagi, meng-exsposure. Mereka ada event, ada turnamen, kita juga bantu bagaimana supaya turnamen ini sukses. Dan akhirnya, bisa mengedukasi anak-anak yang baru belajar," terangnya.

Yayuk tak pernah pantang menyerah, termasuk dalam upayanya membesarkan ekosistem tenis di Indonesia. Semangat tersebut juga ia teruskan kepada generasi muda melalui pesan yang penuh dorongan untuk terus berkarya dan berani memanfaatkan setiap kesempatan yang datang.

Pesan untuk anak muda Indonesia dari Yayuk, "Untuk generasi muda, tetaplah berkarya demi bangsa dan negara kita. Dan kalau ada kesempatan sekali, kemungkinan kesempatan itu hanya sekali dalam hidup, jadi pergunakanlah kesempatan itu sebaik-baiknya."

Curated For You

Editorial Team

Related Article