Yayuk Basuki.(Dok.Istimewa)
Perjalanan menjadi seorang atlet tentu bukan proses yang singkat. Perjuangan itu tak hanya ditempa di lapangan, tetapi juga melalui berbagai situasi sulit di luar lapangan. Yayuk berkisah, pada awal perjalanan kariernya, ia harus bertanding dari satu kota kecil ke kota lainnya demi mengumpulkan poin dengan sumber daya yang serba terbatas. Jauh dari orangtua dengan kondisi finansial yang terbatas, Yayuk harus belajar mengandalkan dirinya sendiri untuk terus bertahan sebagai atlet.
"Kalau saya gak coba fight, gak coba bertahan, bayangin jauh dari orangtua juga, hanya jalan sendiri, sama ada pemain lain, kadang tanpa pelatih. Latihan seminggu, main kualifikasi, kalah. Latihan lagi, kalah lagi. Itu hampir frustrasi juga," Yayuk mengenang masa perjuangannya.
Namun, justru dari rentetan kekalahan dan kegagalan itulah yang menempa mental Yayuk. Pengalaman tersebut membuatnya semakin memahami bahwa tenis bukan sekadar olahraga, melainkan bagian penting dari perjalanan hidupnya.
"Tapi justru di situ, akhirnya saya kembali lagi. Hei, saya main tenis untuk diri saya sendiri, ini masa depan saya di sini karena saya sudah jadikan tenis sebagai profesi. Jadi, jangan jadikan main tenis itu hanya selingan atau for fun. Jadi udah, benar-benar jadi profesi," tambahnya.
Yayuk berpandangan, seseorang yang bercita-cita menjadi atlet perlu ditempa sejak usia dini dengan latihan dan pembinaan yang terarah. Menurutnya, dedikasi dan komitmen yang dibangun sejak kecil menjadi fondasi penting untuk membentuk seorang atlet profesional. Di sisi lain, dukungan pemerintah sebagai pemangku kebijakan juga tak kalah penting dalam menciptakan ekosistem olahraga yang berkelanjutan.
Yayuk pun mengingat kembali masa ketika dirinya ditempatkan di Sport Center Ragunan. Pada masa itu, terdapat Sekolah Khusus Olahragawan (SKO) atau Sekolah Atlet Ragunan yang berdiri tahun 1997. Dari tempat tersebut, lahir sejumlah atlet kelas dunia, seperti dirinya, lalu Susi Susanti-Alan Budikusuma dari cabang olahraga bulu tangkis, serta banyak nama besar lainnya.
Baginya, tenis juga memiliki sejarah prestasi yang panjang bagi Indonesia. Karena itu, ia menyayangkan apabila career track sebagai atlet tidak mendapatkan dukungan yang memadai, mengingat proses dan perkembangan setiap individu membutuhkan waktu, pembinaan, serta dukungan yang berkesinambungan.
Menariknya, saat ini olahraga tenis tengah kembali bergairah di masyarakat Indonesia. Terlepas dari berbagai tantangan yang pernah dihadapi Yayuk maupun atlet tenis lainnya, ia menyambut positif tren tenis yang kembali meningkat dalam beberapa tahun terakhir.
Ditanya tanggapan Yayuk terkait tren olahraga tersebut, ia menjawab, "Saya optimis. Mereka menemukan bahwa tenis ini tidak dinikmati oleh kelompok-kelompok tertentu saja. Tenis bisa dinikmati oleh semua kalangan. Saya bikin slogan: Tennis for fun, tennis for everyone. Jadi, gak ada yang namanya orang-orang tertentu saja yang bisa main tenis, gak. Jadi semua kalangan bisa menikmati, bisa main. Nanti kalau udah bisa main, fun game-nya, mereka gak akan berhenti, sampai hari tua pun juga akan terus."
Yayuk mengamati, tren tersebut semakin terasa sejak pandemik COVID-19. Menurutnya, ketertarikan masyarakat yang terus tumbuh terhadap tenis berpotensi membangun ekosistem olahraga yang lebih kuat sekaligus menghadirkan dukungan yang lebih besar bagi para atlet. Ia berharap perkembangan tersebut tidak berhenti sebagai tren, tetapi dapat menjadi pintu lahirnya talenta-talenta muda yang kelak meneruskan perjuangan Yayuk dan para atlet generasi sebelumnya.
Semangat untuk membangun regenerasi itulah yang kemudian turut mendorong Yayuk dan suaminya mendirikan sekolah tenis bernama Yayuk Basuki Tennis School. Bagi Yayuk, pembinaan sejak usia dini penting agar anak-anak tidak hanya bermain secara spontan, tetapi juga mendapatkan pemahaman teknik dan pola latihan yang terstruktur.
"Kalau pemain yang generasi saya bilang masih kecil-kecil, masa usia dini, itu memang bisa diarahkan. Kenapa kita bilang sekolah tenis? Karena supaya dia bermainnya terstruktur dengan teori yang baik. Bagaimana cara bermain dengan baik, dengan benar. Nah itu udah bicara lifetime. Akhirnya terbangun semuanya, jadi mereka merasa this is part of my way life," lanjut dia. Hal ini juga yang mendasari Yayuk dan suami membangun Yayuk Basuki Tennis School.