ilustrasi muslimah menggunakan handphone (pexels.com/martproduction)
Makkah dan Madinah memang identik dengan cuaca panas, tetapi suhu di kedua kota ini bisa berbeda tergantung musim. Saat musim dingin, sekitar November hingga Februari, suhu siang hari berkisar 18–25°C dan bisa turun hingga 8–15°C pada malam hari.
Memasuki musim semi pada Maret hingga April, suhu biasanya berada di kisaran 20–30°C, sehingga relatif nyaman untuk beraktivitas di luar ruangan, termasuk saat tawaf, sa'i, dan ziarah. Sementara itu, musim panas pada Mei hingga Agustus, yang dapat berlanjut hingga September, menghadirkan suhu siang hari mencapai 40°C hingga lebih dari 45°C. Pada periode ini, menjaga tubuh tetap sejuk dan terhidrasi menjadi hal penting selama beribadah.
Adapun musim gugur sekitar September hingga November menjadi masa peralihan menuju cuaca yang lebih sejuk, dengan suhu berkisar 25–35°C. Dengan memahami kondisi cuaca selama keberangkatan, jemaah bisa menyesuaikan pakaian dan perlengkapan yang dibawa agar tetap nyaman selama menjalani ibadah di Tanah Suci.
“Selain perlengkapan ibadah utama, penting bagi jemaah untuk menyiapkan kebutuhan pendukung yang dapat membantu menjaga kenyamanan selama perjalanan. Dengan persiapan yang tepat, jemaah dapat lebih fokus menjalani ibadah tanpa perlu terlalu khawatir menghadapi perubahan kondisi cuaca maupun agenda selama berada di Tanah Suci,” ujar Lisqia Lalantika, Marketing Manager UNIQLO Indonesia.