Kesibukan sering dianggap sebagai tanda bahwa hidup berjalan produktif, padahal terlalu banyak komitmen justru dapat menguras energi dan membuat keseharian terasa sesak. Jadwal kerja, urusan keluarga, pertemanan, sampai berbagai tanggung jawab pribadi dapat menumpuk ketika semuanya diterima tanpa mempertimbangkan kapasitas diri. Kondisi tersebut dikenal sebagai overcommitment, yaitu kecenderungan mengambil komitmen melampaui waktu, energi, atau sumber daya yang tersedia.
Masalahnya, overcommitment gak selalu muncul karena seseorang benar-benar memiliki terlalu banyak kewajiban sejak awal. Cara memandang produktivitas, kesempatan, dan penilaian orang lain juga dapat mendorong seseorang terus berkata iya meski kapasitasnya sudah hampir penuh. Supaya hidup gak terus terasa seperti mengejar daftar kewajiban tanpa ujung, yuk kenali pola pikir yang dapat memicunya.
