Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
⁠Polyester Jadi Ejekan Gen Z, Nama Bahan Baju Bisa Jadi Sindiran?
ilustrasi memberikan komentar di sosial media (unsplash.com/Clique Images)
  • Gen Z memakai istilah “polyester” di media sosial untuk menyindir konten, gaya hidup, atau pencitraan yang dianggap palsu, murahan, terlalu dipoles, dan kurang autentik.
  • Makna sindiran ini berangkat dari citra polyester sebagai bahan terjangkau, awet, mudah dirawat, serta identik dengan produksi massal, fast fashion, dan tren yang generik.
  • “Polyester lifestyle” menyasar tampilan hidup ideal di internet yang terasa dikurasi demi terlihat keren atau sukses, tanpa bukti nyata bahwa gambaran tersebut sesuai kenyataan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Belakangan, ketika scroll TikTok mungkin kamu sering menemukan kata “polyester” di beberapa kolom komentar. Menariknya, kata ini gak selalu dipakai untuk membahas baju saja. Gen Z mulai menggunakan “polyester” untuk menyindir sesuatu yang dianggap palsu, murahan, terlalu dibuat-buat, atau kurang autentik.

Salah satu bentuknya adalah “polyester lifestyle” yang menggambarkan gaya hidup yang terlihat keren, tetapi terasa seperti sebuah hasil dari daftar tren. Lalu, kenapa justru polyester yang dipilih? Apa hubungannya bahan pakaian dengan perilaku seseorang?

1. “Polyester” dipakai untuk menyebut sesuatu yang terasa palsu

ilustrasi melihat konten sosial media (pexels.com/Karolina Grabowska)

Dalam slang gen Z, kata “polyester” sekarang bisa diarahkan ke berbagai hal. Video yang terlalu dibuat-buat, gaya hidup yang terasa seperti pencitraan, sampai konten influencer yang kelihatan terlalu sempurna bisa disebut polyester. 

Dalam Psychology Today, Bruce Y. Lee, M.D., M.B.A., profesor Kebijakan dan Manajemen Kesehatan di CUNY School of Public Health, City University of New York menjelaskan bahwa “polyester” kini menjadi sebutan untuk menyindir sesuatu yang dianggap murahan, berkualitas rendah, atau tidak alami. 

Jadi ketika seseorang menulis “polyester” di kolom komentar, yang dikritik bukan bajunya. Kata tersebut lebih seperti cara untuk mengatakan bahwa sesuatu terlalu dipoles sampai kehilangan keotentikannya.

2. Polyester sudah lama punya image tertentu

ilustrasi scrolling sosial media (pexels.com/Karolina Grabowska)

Kalau dengar kata polyester, yang muncul di kepala mungkin bukan cuma jenis kain, tetapi juga baju yang gampang ditemukan dan diproduksi dalam jumlah banyak. Bahan ini memang populer karena harganya relatif terjangkau, awet, dan mudah dirawat. Gak heran, kalau bahan polyester banyak dipakai dalam pakaian sehari-hari sampai fast fashion.

Dari situ, polyester punya image yang lebih luas dari urusan bahan pakaian. Namanya bisa diasosiasikan dengan sesuatu yang mass-produced, umum, murah, dan dibuat untuk memenuhi tren dengan cepat. Image inilah yang kemudian membuat kata “polyester” terasa cocok ketika dipakai sebagai sindiran di media sosial.

Jadi, gen Z sebenarnya gak sedang menilai kualitas sebuah kain saat menyebut sesuatu sebagai “polyester”. Mereka sedang meminjam image yang sudah melekat pada bahan tersebut untuk menggambarkan sesuatu yang terasa terlalu generik, terlalu mengikuti tren, atau dibuat sekadar supaya terlihat menarik.

3. “Polyester lifestyle” menyindir hidup yang terlalu dikurasi

ilustrasi scrolling handphone (pexels.com/Cottonbro studio)

Istilah “polyester lifestyle” biasanya dikaitkan dengan gaya hidup yang ditampilkan seseorang agar terlihat keren atau sukses, tetapi belum tentu sesuai kenyataan. Istilah ini juga biasanya dipakai untuk menyindir konten yang menggambarkan hidup serba ideal, seperti bangun pagi, minum matcha, bekerja produktif, punya apartemen keren, bepergian, lalu tetap terlihat santai. Tetapi masalahnya bukan pada aktivitas tersebut, namun lebih kepada ketika semuanya terasa seperti paket kehidupan yang di-setting untuk terlihat sempurna di internet.

Bruce Y. Lee, M.D., M.B.A., profesor Kebijakan dan Manajemen Kesehatan di CUNY School of Public Health, City University of New York menuliskan dalam Psychology Today bahwa ‘polyester lifestyle’ bisa menggambarkan gaya hidup yang ditampilkan seseorang hanya untuk terlihat keren. Padahal, influencer tersebut tidak pernah memberikan bukti nyata yang bisa diverifikasi bahwa dirinya benar-benar kaya, produktif, atau sukses. Unggahan seperti itu kemudian bisa dibalas dengan komentar ‘polyester lifestyle’, atau cukup ‘polyester’.

Ketika semua orang bisa memilih angle terbaik, menyunting video, dan menyusun rutinitas agar terlihat menarik, batas antara kehidupan nyata dan konten semakin tipis. “Polyester” kemudian menjadi sindiran untuk sesuatu yang kelihatan meyakinkan, tetapi terasa terlalu rapi untuk benar-benar dipercaya.

Istilah “polyester” di media sosial sekarang gak selalu soal bahan pakaian saja. Kata ini bisa dipakai untuk menyindir sesuatu yang terasa terlalu dibuat-buat atau kurang autentik. Penggunaannya juga menunjukkan bagaimana gen Z sering mengambil kata yang sudah familier lalu memberinya makna baru. Meski terdengar random, konteksnya tetap bisa dilihat dari apa yang sedang dibahas.

Curated For You

Editorial Team

Related Article