ilustrasi scrolling handphone (pexels.com/Cottonbro studio)
Istilah “polyester lifestyle” biasanya dikaitkan dengan gaya hidup yang ditampilkan seseorang agar terlihat keren atau sukses, tetapi belum tentu sesuai kenyataan. Istilah ini juga biasanya dipakai untuk menyindir konten yang menggambarkan hidup serba ideal, seperti bangun pagi, minum matcha, bekerja produktif, punya apartemen keren, bepergian, lalu tetap terlihat santai. Tetapi masalahnya bukan pada aktivitas tersebut, namun lebih kepada ketika semuanya terasa seperti paket kehidupan yang di-setting untuk terlihat sempurna di internet.
Bruce Y. Lee, M.D., M.B.A., profesor Kebijakan dan Manajemen Kesehatan di CUNY School of Public Health, City University of New York menuliskan dalam Psychology Today bahwa ‘polyester lifestyle’ bisa menggambarkan gaya hidup yang ditampilkan seseorang hanya untuk terlihat keren. Padahal, influencer tersebut tidak pernah memberikan bukti nyata yang bisa diverifikasi bahwa dirinya benar-benar kaya, produktif, atau sukses. Unggahan seperti itu kemudian bisa dibalas dengan komentar ‘polyester lifestyle’, atau cukup ‘polyester’.
Ketika semua orang bisa memilih angle terbaik, menyunting video, dan menyusun rutinitas agar terlihat menarik, batas antara kehidupan nyata dan konten semakin tipis. “Polyester” kemudian menjadi sindiran untuk sesuatu yang kelihatan meyakinkan, tetapi terasa terlalu rapi untuk benar-benar dipercaya.
Istilah “polyester” di media sosial sekarang gak selalu soal bahan pakaian saja. Kata ini bisa dipakai untuk menyindir sesuatu yang terasa terlalu dibuat-buat atau kurang autentik. Penggunaannya juga menunjukkan bagaimana gen Z sering mengambil kata yang sudah familier lalu memberinya makna baru. Meski terdengar random, konteksnya tetap bisa dilihat dari apa yang sedang dibahas.