Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

⁠Alasan Gen Z Mulai Melirik Kerja Blue-Collar, Bukan Gengsi Belaka!

4 min read
⁠Alasan Gen Z Mulai Melirik Kerja Blue-Collar, Bukan Gengsi Belaka!
Ilustrasi pekerja konstruksi (unsplash.com/Eric Wang)
  • Gen Z mulai melirik pekerjaan blue-collar karena karier kantoran yang terlihat bergengsi belum tentu memberi rasa aman, stabilitas kontrak, dan kendali atas hidup.
  • Pekerjaan skilled trades seperti teknisi, mekanik, electrician, dan konstruksi menarik karena keterampilan praktis dapat dipelajari, langsung digunakan, serta menawarkan peluang berkembang.
  • Pertimbangan utama bergeser ke penghasilan, biaya hidup, waktu, ROI, dan kemandirian; label blue-collar tidak lagi dipandang sebagai pekerjaan kelas dua.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Dulu, kamu membayangkan masa depan setelah lulus kuliah mungkin sesederhana membuka laptop, mencari lowongan di LinkedIn, lalu membayangkan duduk di sebuah kantor dengan kartu identitas yang tergantung di leher. Memiliki meja pekerjaan sendiri, ruangan ber-AC, dan jabatan yang terdengar keren seolah menjadi paket lengkap dari kehidupan sukses. 

Namun, bayangan itu perlahan berubah. Ketika lowongan pekerjaan semakin kompetitif dan kehidupan setelah lulus ternyata tidak semulus yang dibayangkan, sebagian anak muda mulai mempertanyakan kembali definisi pekerjaan yang mereka inginkan. Kamu mulai melihat pekerjaan sebagai teknisi, mekanik, pekerja konstruksi, hingga berbagai skilled trades sebagai pilihan yang masuk akal. Bukan karena kamu menyerah mengejar karier, melainkan karena kamu mulai menghitung hal yang lebih nyata, seperti penghasilan, keterampilan, stabilitas, dan seberapa jauh pekerjaan tersebut bisa membawa mereka hidup mandiri.

  1. 1. Ketika pekerjaan yang terlihat keren ternyata belum tentu bikin tenang

    ilustrasi office boy
    ilustrasi office boy (pexels.com/Jazz Mhd)

    Kamu melihat teman mengunggah foto hari pertama bekerja. Kemeja rapi, laptop baru, meja kerja yang masih bersih, lalu caption sederhana, “Finally, adulting”. Dari luar memang terlihat seperti awal kehidupan yang ideal, tetapi beberapa bulan kemudian, cerita yang muncul bisa berbeda. Target menumpuk, pekerjaan dibawa pulang, kontrak belum tentu diperpanjang, sementara harga kebutuhan terus berjalan tanpa peduli seseorang punya jabatan keren atau tidak.

    Di titik itu, pekerjaan yang sebelumnya dianggap biasa mulai terlihat berbeda. Gen Z mulai mempertimbangkan apakah sebuah pekerjaan benar-benar memberikan rasa aman, bukan hanya terlihat bagus ketika diceritakan kepada orang lain.

    Jasmine Escalera, career expert di Zety, mengatakan, “Ketertarikan gen Z terhadap pekerjaan di bidang trade dan karier yang mengandalkan keterampilan praktik menunjukkan keinginan untuk memiliki tujuan, keamanan, dan kendali di tengah dunia kerja yang semakin dipengaruhi AI,” dikutip dari HR Dive. 

    Pertimbanganmu dalam mencari pekerjaan menjadi bertambah. Bukan pekerjaan yang paling bergengsi, tetapi pekerjaan yang membuat hidup terasa lebih terkendali.

  2. 2. Daripada terus menunggu, kenapa gak belajar skill yang langsung bisa dipakai?

    ilustrasi buruh pabrik
    ilustrasi buruh pabrik (pexels.com/Ivan Samkov)

    Setelah lulus sekolah, kamu membuka portal lowongan untuk kesekian kalinya. Ada pekerjaan yang meminta pengalaman dua tahun untuk posisi entry-level dan ada yang meminta kemampuan menggunakan berbagai software. Di tengah penantian itu, pekerjaan yang membutuhkan keterampilan praktis mulai terlihat lebih menarik. Seseorang bisa belajar menjadi teknisi, mekanik, electrician, atau pekerja konstruksi melalui pelatihan dan pengalaman langsung, kemudian menggunakan kemampuannya untuk bekerja.

    Menurut Mark Jewett, Wakil Dekan Bidang Teknologi Terapan di Macomb, “Pekerjaan skilled trades saat ini memadukan keterampilan mekanis dengan teknologi, kemampuan mendiagnosis masalah, dan pemecahan masalah. Bidang ini menawarkan karier yang stabil dengan peluang berkembang yang nyata, bukan sekadar pekerjaan untuk jangka pendek,” dikutip dari Macomb Community College. 

    Kamu memiliki kepuasan tersendiri ketika sesuatu yang dipelajari hari ini bisa langsung digunakan untuk menyelesaikan masalah nyata besoknya. Bukan cuma menambah satu baris di CV, tetapi benar-benar menjadi kemampuan yang bisa kamu bawa ke mana-mana.

  3. 3. Gengsi akhirnya kalah ketika tagihan mulai datang

    ilustrasi tagihan
    ilustrasi tagihan (unsplash.com/Kelly Sikkema)

    Saat masih sekolah, kamu memikirkan pilihan pekerjaan yang mungkin terdengar keren. Namun setelah dewasa, pertimbangannya menjadi lebih panjang. Apakah bisa membayar kebutuhan sendiri? Ada peluang berkembang? Skill-nya tetap berguna beberapa tahun ke depan? Bisa punya waktu untuk kehidupan pribadi?

    Dengan pertanyaan-pertanyaan seperti itu di kepala, kamu gak lagi melihat label “blue-collar” sebagai pekerjaan kelas dua. Kamu mulai fokus kepada apakah kehidupan yang dijalani terasa masuk akal bagi diri kamu sendiri.

    “Gen Z mulai mempertanyakan hal-hal yang sangat masuk akal. Mereka melihat biaya, waktu, dan return on investment (ROI). Banyak dari mereka menginginkan jalur yang jelas tanpa harus terbebani utang,” ujar Mark Jewett, Wakil Dekan Bidang Teknologi Terapan di Macomb, dikutip dari Macomb Community College.

    Suatu hari nanti, ketika ditanya, “Kerja di mana?” jawaban kamu gak lagi harus terdengar mengesankan untuk membuat orang lain kagum. Jawaban yang kamu kemukakan justru sederhana, seperti menjadi teknisi, mekanik, electrician, atau pekerja konstruksi. Bukan karena tidak punya ambisi, tetapi karena kamu tahu pekerjaan tersebut bisa memberinya penghasilan, keterampilan, dan kesempatan untuk terus berkembang. 

    Terkadang, pekerjaan yang baik justru ketika pekerjaan itu bisa membuat kamu menjalani hidup dengan lebih tenang. Dan kamu mulai berpikir, mungkin itu sudah jauh lebih penting daripada sekadar terlihat keren.

Share Article
Editorial Team

Dari Kebun Nilam ke Pasar Dunia

Related Articles

See More