"Quarter life crisis adalah respons mengenai tidak siapnya individu atas ketidakpastian yang meningkat, ketidakmampuan, perubahan yang berkelanjutan, pilihan yang terlalu banyak, dan perasaan panik yang tampak pada individu dengan rentang usia 18 tahun hingga 29 tahun," demikian menurut Firman Bayu Permana dan Augustina Sulastri dalam jurnal "Quarter Life Crisis Pada Masa Emerging Adulthood" Universitas Mulawarman.
Quarter Life Crisis vs Fear of Missing Out: Mana yang Lebih Berat?

- Quarter life crisis muncul saat individu muda merasa bingung dan cemas menghadapi tuntutan hidup dewasa, seperti karier, hubungan, serta pencarian makna dan arah hidup.
- FOMO dipicu oleh media sosial yang menampilkan kehidupan ideal orang lain, memunculkan rasa takut tertinggal dan ketidakpuasan terhadap pencapaian diri sendiri.
- Keduanya saling berkaitan; FOMO dapat memperparah quarter life crisis, namun krisis identitas dinilai lebih berat karena menyentuh aspek psikologis mendalam tentang tujuan dan jati diri.
Di usia 20-an hingga awal 30-an, biasanya banyak orang merasa hidup seperti sedang berlomba tanpa garis finis yang jelas. Di satu sisi, ada tekanan untuk segera sukses atau mencapai target hidup tertentu. Di sisi lain, media sosial membuat kita terus melihat pencapaian orang lain yang tampak lebih cepat, lebih besar, dan lebih membanggakan. Dari sinilah, dua fenomena yang sering dibicarakan muncul, yakni quarter life crisis dan fear of missing out (FOMO).
Meski sering dianggap mirip, keduanya sebenarnya memiliki akar masalah yang berbeda. Pertanyaannya, mana yang sebenarnya lebih berat untuk dihadapi? Sayangnya, jawabannya tidak sesederhana memilih salah satu karena keduanya bisa saling berkaitan dan memperburuk kondisi mental seseorang.
1. Memahami apa itu quarter life crisis

Quarter Life Crisis merupakan fase ketika seseorang merasa bingung, cemas, dan tidak yakin terhadap masa depannya. Kondisi ini umumnya terjadi pada usia 18 hingga 29 tahun, ketika seseorang mulai menghadapi berbagai tuntutan kehidupan dewasa seperti pekerjaan, hubungan, dan kemandirian finansial.
Keraguan dalam pengambilan keputusan, perasaan putus asa, menilai dirinya secara negatif, perasaan terjerat dalam kondisi sulit, timbul kecemasan, perasaan tertekan, dan kekhawatiran dengan relasi interpersonal adalah dimensi quarter life crisis. Semua variabel itu umumnya banyak dirasakan seseorang dalam masa ini.
2. FOMO: ketika hidup orang lain terlihat lebih menarik

Berbeda dengan quarter life crisis yang berasal dari dalam diri, FOMO lebih sering dipicu oleh faktor eksternal. FOMO atau fear of missing out adalah perasaan takut tertinggal ketika melihat orang lain menikmati pengalaman, kesempatan, atau pencapaian tertentu.
"Rasa takut ketinggalan atau FOMO mengacu pada perasaan atau persepsi bahwa orang lain lebih bersenang-senang, menjalani kehidupan yang lebih baik, atau mengalami hal-hal yang lebih baik daripada kamu. Ini melibatkan rasa iri yang mendalam dan dapat berdampak serius pada harga diri," jelas pakar manajemen stres, psikologi, konseling keluarga Elizabeth Scott, PhD dalam Very Well Mind.
"Fenomena ini semakin umum terjadi, sebagian karena media sosial dan dapat menyebabkan banyak stres dalam hidup kamu. Hal ini dapat memengaruhi hampir semua orang, tetapi beberapa orang berisiko lebih besar," tambahnya.
Semakin sering seseorang membandingkan dirinya dengan kehidupan ideal yang ditampilkan di media sosial, semakin tinggi pula tingkat ketidakpuasan terhadap hidupnya sendiri. Kondisi ini membuat seseorang sulit menikmati pencapaian yang sebenarnya sudah dimiliki karena fokusnya terus tertuju pada apa yang dimiliki orang lain.
3. Apakah benar quarter life crisis sering terasa lebih berat?

Jika dibandingkan secara psikologis, quarter life crisis mungkin dianggap lebih dalam dampaknya karena menyangkut identitas diri, tujuan hidup, dan makna keberadaan seseorang. Krisis ini bukan hanya soal iri melihat orang lain, tetapi juga mempertanyakan apakah jalan hidup yang sedang dijalani sudah benar.
Dalam jurnal "Quarter Life Crisis Pada Masa Emerging Adulthood" Universitas Mulawarman, keraguan dalam pengambilan keputusan, perasaan putus asa, menilai dirinya secara negatif, perasaan terjerat dalam kondisi sulit, timbul kecemasan, perasaan tertekan, dan kekhawatiran dengan relasi interpersonal adalah dimensi quarter life crisis. Semua variabel itu umumnya banyak dirasakan seseorang dalam masa ini.
Kondisi itu juga akan dirasakan dalam berbagai kekhawatiran mengenai karier, hubungan asmara, serta masa depan sosial seseorang. Kekhawatiran tersebut dapat berlangsung dalam jangka panjang dan memengaruhi kesehatan mental secara signifikan.
"Anak muda menghadapi tekanan luar biasa dari masyarakat, orangtua mereka, atau bahkan tekanan yang mereka berikan pada diri mereka sendiri untuk mencapai status sosial atau finansial tertentu, menikah dan berkeluarga, atau mulai meniti karier," kata pelatih kecemasan Carrie Howard, LCSW, CCATP, dalam Very Well Mind.
4. Saat FOMO memperparah quarter life crisis

Meski berbeda, FOMO dan quarter life crisis sering berjalan beriringan. Banyak orang yang awalnya hanya merasa tertinggal setelah melihat unggahan media sosial, kemudian mulai mempertanyakan seluruh perjalanan hidupnya.
Penelitian dalam Jurnal Psikologi Tabularasa Universitas Negeri Malang berjudul "The influence of social comparison on quarter life crisis mediated by psychological well-being in emerging adults", menemukan bahwa perbandingan sosial memiliki hubungan terhadap munculnya quarter life crisis pada usia dewasa awal. Semakin sering seseorang membandingkan dirinya dengan orang lain, semakin besar risiko munculnya kecemasan dan ketidakpuasan terhadap kehidupan pribadi.
Fenomena ini semakin terasa di era digital. Ketika seseorang melihat teman sebaya membeli rumah, menikah, mendapat promosi jabatan, atau berlibur ke luar negeri, muncul perasaan bahwa dirinya tertinggal. Padahal yang terlihat di media sosial hanyalah sebagian kecil dari kehidupan seseorang. Karena itu, FOMO sering menjadi 'bahan bakar' yang memperbesar quarter life crisis.
5. Jadi, mana yang lebih berat?

Tidak ada jawaban yang benar-benar mutlak karena pengalaman setiap orang berbeda. Namun, jika dilihat dari dampak psikologisnya, quarter life crisis cenderung lebih berat karena menyangkut identitas, tujuan hidup, dan rasa percaya diri yang mendasar.
Sementara itu, FOMO sering bersifat situasional dan dipicu oleh lingkungan atau media sosial. Ketika seseorang mengurangi paparan perbandingan sosial, perasaan FOMO biasanya ikut menurun.
"Mengurangi waktu yang dihabiskan di media sosial dapat membantu mengurangi FOMO. Bertemu langsung dengan teman-teman dapat membuatmu merasa lebih terhubung dan tidak merasa terasing," saran Elizabeth Scott, PhD.
Sebaliknya, quarter life crisis bisa tetap muncul meski seseorang tidak aktif di media sosial karena sumber masalahnya berasal dari proses pencarian jati diri dan makna hidup. Meski demikian, keduanya tetap perlu diwaspadai. Lebih baik fokus pada perjalanan hidup masing-masing daripada terus membandingkan diri dengan orang lain.
Daripada sibuk mengejar standar hidup orang lain, lebih baik fokus pada proses perkembangan diri sendiri. Tidak semua orang memiliki garis waktu yang sama. Ada yang berhasil lebih cepat, ada pula yang membutuhkan waktu lebih panjang untuk menemukan jalannya. Yang terpenting bukan siapa yang paling cepat sampai, melainkan bagaimana seseorang tetap bertumbuh tanpa kehilangan dirinya sendiri di tengah berbagai tekanan kehidupan.


















