Tren Pesepeda FOMO, Saat Sepeda Mahal Jadi Simbol Gengsi

- Tren pesepeda FOMO muncul di tengah meningkatnya minat bersepeda, di mana sebagian orang menjadikan sepeda mahal sebagai simbol gengsi dan ajang pamer gaya hidup konsumtif.
- Kebutuhan validasi sosial lewat media digital mendorong pesepeda FOMO mengunggah foto atau data gowes demi pengakuan, bahkan rela membeli sepeda mahal agar dianggap setara dalam komunitas.
- Perilaku impulsif karena takut ketinggalan tren membuat banyak orang menyesal setelah membeli sepeda mahal yang akhirnya hanya jadi pajangan tanpa dimanfaatkan secara maksimal.
Tanggal 3 Juni diperingati sebagai Hari Bersepeda Sedunia atau World Bicycle Day. Meningkatnya kesadaran akan gaya hidup sehat membuat kegiatan bersepeda diminati oleh banyak orang, termasuk anak muda. Munculnya tren gowes jadi salah satu bukti. Namun, di balik kesadaran akan kesehatan, ada lho fenomena menarik yang timbul berbarengan, yakni kaum pesepeda FOMO. Apakah kamu termasuk?
Pesepeda FOMO gak cuma fokus pada kesehatan, tapi lebih fokus ke arah gengsi. Bagi mereka, olahraga adalah ajang pamer gaya hidup konsumtif. Mereka bersepeda untuk flexing sepeda mahal dan mengincar pace yang nantinya bisa diunggah di media sosial. Kalau niat awalnya sudah seperti itu, pada akhirnya sepeda mahal hanya jadi pajangan di rumah. Lantas, mengapa fenomena ini bisa terjadi?
1. Kebutuhan akan validasi sosial dan digital

Di zaman media sosial seperti sekarang, foto dan video menjadi bukti bahwa kita telah melakukan sesuatu. Bagi pesepeda FOMO, mengunggah foto sepeda yang estetik atau tangkapan layar rute dan pace dari aplikasi seperti Strava merupakan cara mudah untuk mendapat banyak like dan pujian.
Fenomena ini mirip dengan apa yang terjadi pada tren maraton belakangan ini. Dilansir laman Kemenkes, saat seseorang melihat teman atau tokoh inspiratif di media sosial mencapai jarak lari tertentu, seseorang itu kerap kali terdorong untuk ikut melakukan hal yang sama dengan berbagai motivasi. Motivasi ini salah satunya bisa berupa keinginan untuk pamer konten di media sosial.
2. Adanya perasaan minder dalam kelompok sosial

Kamu berencana ikut acara gowes yang titik temunya di coffe shop, tapi begitu sampai di sana, kamu mendadak minder karena sepedamu yang paling sederhana. Apa yang akan kamu lakukan jika demikian? Banyak orang langsung ingin mengubah sepeda mereka, membeli baru atau mengubah komponennya.
Rasa minder inilah yang membuat banyak orang berlomba-lomba membeli sepeda mahal tanpa memaksimalkan fungsinya. Bagi pesepeda FOMO, memiliki sepeda mahal dirasa menjadi salah satu cara untuk bisa diakui dan diterima dalam kelompok. Kalau semua orang punya sepeda mahal, mereka akan dianggap setara.
3. Perasaan impulsif yang berujung penyesalan

Orang yang FOMO cenderung melakukan sesuatu hal bukan atas dasar kesadaran dan suka, melainkan karena rasa takut tertinggal dari tren yang ada. Dalam konteks ini, pesepeda FOMO bisa saja membeli sepeda secara impulsif tanpa pertimbangan yang matang. Nah, karena pondasinya bukan atas dasar kebutuhan, antusiasme atau gairah itu akan cepat hilang. Ketika tren gowes ini meredup, mereka pun gak lagi berselera untuk bersepeda. Alhasil, sepeda mahal berakhir jadi pajangan saja.
Di situasi semacam ini, kamu mungkin baru menyadari beberapa hal, termasuk uang yang kamu keluarkan untuk barang yang kamu beli atas dasar keinginan sesaat itu. Timbullah penyesalan membeli karena perasaan impulsifmu dulu.
Hari Bersepeda Sedunia menjadi momen yang tepat untuk kita merefleksikan gaya hidup sehat yang sebenarnya, serta mengembalikan sepeda ke fungsinya, yakni sebagai alat transportasi yang menyehatkan dan ramah lingkungan, bukan barang flexing di media sosial. FOMO olahraga itu sebenarnya positif kok selama kamu bisa mengarahkannya ke hal yang tepat. Ini berarti kamu gak hanya ikut-ikutan melakukan sesuatu hal sesaat, tapi juga konsisten dan berkomitmen untuk menjalani gaya hidup sehat secara berkelanjutan. Happy World Bicycle Day!


















