Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

5 Alasan Ramadan Waktunya Reset Pikiran, Tenang sampai ke Jiwa

5 Alasan Ramadan Waktunya Reset Pikiran, Tenang sampai ke Jiwa
ilustrasi seorang perempuan (pexels.com/Alan Retratos)
Intinya Sih
  • Ramadan digambarkan sebagai momen untuk “reset pikiran”, di mana umat Islam belajar menahan diri, menyederhanakan prioritas, dan fokus pada hal-hal penting dalam hidup.
  • Puasa mendorong pengendalian pikiran negatif serta memperbanyak ibadah yang menghadirkan ketenangan hati dan kedekatan spiritual dengan Tuhan.
  • Suasana kebersamaan dan tradisi saling memaafkan selama Ramadan membantu meredam kebencian, memperkuat hubungan sosial, dan melahirkan pribadi yang lebih tenang serta positif.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Bulan Ramadan memang hanya sekali dalam setahun. Meski di awal bulan puasa hari demi hari seperti berjalan sangat lambat, minggu ketiga dan keempat akan terasa begitu cepat. Kalau bulan Ramadan dimanfaatkan dengan baik, bukan hanya pahala ibadah yang diperoleh.

Kamu pun bakal merasa lebih tenang dan tidak penuh lagi. Pikiran seperti dalam mode reset. Hasilnya, dirimu seakan-akan terlahir dengan versi baru yang lebih baik setelah bulan suci usai.

Di balik kerasnya gemblengan menahan hawa nafsu sebulan penuh, pikiran bakal tercerahkan. Oleh sebab itu, Ramadan waktunya reset pikiran. Resapi nuansa Ramadan dan mari beribadah dengan khusyuk. Reset pikiran yang berhasil otomatis juga akan membuatmu menjadi pribadi yang lebih baik. Siap terlahir kembali?

1. Energi terbatas, kamu hanya mau memikirkan hal-hal penting

seorang perempuan
ilustrasi seorang perempuan (pexels.com/Huynh Van)

Tidak makan dan minum dalam waktu yang cukup panjang tak hanya membuat badan lebih lemah dari biasanya. Keterbatasan asupan berdampak pada menipisnya energi. Dengan tenaga yang pas-pasan, tentu kamu gak mau membuang-buangnya buat hal-hal yang kurang penting.

Dirimu yang biasanya gampang overthinking dengan masalah sekecil apa pun menjadi lebih masa bodoh. Kamu benar-benar dalam kondisi yang tak memungkinkan lagi buat memikirkan semuanya. Cuma perkara-perkara penting yang akan tetap diberi tempat.

Penentuan skala prioritas buat isi pikiranmu bahkan tidak sulit. Semua seolah-olah terjadi secara otomatis di tengah keterbatasan energi. Pikiranmu seperti jaring dengan lubang-lubang yang cukup besar. Ikan-ikan kecil dibiarkan lolos begitu saja. Hanya ikan besar yang tersangkut di sana.

2. Khawatir pikiran neko-neko mengurangi pahala puasa

duduk termenung
ilustrasi duduk termenung (pexels.com/Sơn Bờm)

Kamu juga secara sadar berusaha untuk lebih mengontrol isi pikiran. Dirimu tentu gak mau dari subuh sampai magrib cuma mendapatkan rasa lapar dan haus. Sementara pahala puasa malah rusak oleh pemikiran yang aneh-aneh.

Misalnya, pikiran negatif pada orang lain. Di bulan-bulan lainnya, dirimu juga tahu bahwa berpikir negatif tidak baik. Akan tetapi, sekarang terasa makin jelas mesti dihindari karena ada pahala puasa yang sangat diharapkan dan harus dijaga.

Daripada dirimu berpikir terlalu jauh yang belum tentu benar, kamu memilih untuk menyederhanakannya. Hal-hal yang tak sepenuhnya diketahui atau dipahami olehmu tidak dipikirkan lebih lanjut. Ketimbang kamu sudah membuang-buang pikiran dan bukannya makin mendekati kebenaran, malah tambah melenceng.

3. Lebih banyak beribadah bikin hati dan pikiran tenang

beribadah
ilustrasi beribadah (pexels.com/Michael Burrows)

Umat Islam berlomba-lomba untuk memperbanyak ibadah selama bulan Ramadan. Ini bukan perlombaan dengan sesama Muslim, melainkan lebih dengan diri sendiri di Ramadan tahun lalu. Setiap individu pasti ingin menjadi pribadi yang lebih baik serta umat yang lebih taat setelah berpuasa sebulan penuh.

Meski tadinya semangat beribadah semata-mata ditujukan untuk mengumpulkan pahala, akhirnya kamu memperoleh bonus besar. Bonusnya berupa ketenangan hati dan pikiran. Dari setiap ayat Al-Qur'an yang dibaca dan sujudmu, hati serta pikiran seperti dibasuh dengan air yang menyejukkan.

Kamu makin memahami dan meyakini bahwa di dunia yang seluas ini ada satu tempat bersandar yang paling baik. Zat yang terkuat hanya dengan kehendak-Nya. Tidak ada satu perkara pun yang pantas dicemaskan secara berlebihan selama kamu menjadikan-Nya penolong dan harapan.

4. Kental suasana kebersamaan meredam pikiran negatif ke orang lain

buka bersama
ilustrasi buka bersama (pexels.com/DEEN SALLY)

Selama bulan Ramadan, ada banyak sekali kegiatan yang melibatkan orang-orang. Gak cuma bukber di mana-mana. Kamu yang malas ikut buka puasa bersama pun bisa tiba-tiba memperoleh takjil yang dibagikan oleh orang dermawan dalam perjalanan pulang kerja.

Isinya bukan hal terpenting. Meski tampak sederhana, interaksi-interaksi singkat tapi penuh makna begini berpengaruh besar terhadap pikiran. Tadinya dirimu mungkin lebih sering berpikiran buruk tentang orang lain.

Seakan-akan setiap orang yang mendekatimu pasti punya maksud kurang baik. Namun, kegiatan-kegiatan sosial yang tidak pandang bulu tentang penerima manfaat membuktikan bahwa keyakinanmu keliru. Orang lain tak seburuk itu. Kamu gak perlu lagi terlalu mewaspadai mereka sampai sulit memercayai siapa pun.

5. Diawali serta diakhiri dengan bermaaf-maafan, kebencian pun luruh

berjabat tangan
ilustrasi berjabat tangan (pexels.com/RDNE Stock project)

Ada tradisi unik yang sangat kental di masyarakat Indonesia setiap Ramadan dan Lebaran. Itu adalah kebiasaan saling minta maaf serta memaafkan. Jangankan pada orang yang setiap hari berinteraksi.

Permintaan maaf juga ditujukan pada teman yang kurang dekat atau lama gak bertemu. Permintaan maaf bahkan diunggah sebagai status di media sosial dengan kalimat yang memikat. Awalnya, barangkali ini terasa sebagai formalitas belaka.

Akan tetapi, sesungguhnya ini menunjukkan sikap rendah hati yang luar biasa. Ketika kamu ikut melakukannya, sesuatu yang awalnya cuma meniru orang ternyata efektif buat meredam rasa bencimu pada siapa pun. Dirimu tidak menunggu mereka minta maaf dan malah duluan melakukannya.

Karena hanya datang sekali dalam setahun, momentum Ramadan waktunya reset pikiran. Ketika ibadah benar-benar diresapi, akan terasa manfaatnya. Kalimat menjadi pribadi yang lebih baik setelah berpuasa dan melakukan ibadah-ibadah lainnya sebulan penuh bukan isapan jempol. Perhatikan efeknya selama dan setelah 1 Syawal. Inilah alasan umat Islam selalu merindukan Ramadan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Debby Utomo
EditorDebby Utomo
Follow Us

Latest in Life

See More