Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Realitas Pahit di Balik Budaya Self Reward Berlebihan, Nol Makna

Realitas Pahit di Balik Budaya Self Reward Berlebihan, Nol Makna
ilustrasi liburan (pexels.com/Nancy Turangan)
Intinya Sih
  • Budaya self reward yang awalnya positif bisa jadi bumerang jika dilakukan berlebihan, terutama karena banyak orang menjadikannya ajang konsumsi materi tanpa mempertimbangkan kemampuan finansial.
  • Terlalu sering memberi hadiah pada diri sendiri dapat menurunkan fokus, membuat rasa senang jadi hambar, bahkan memicu kebiasaan tidak sehat seperti konsumsi makanan tinggi gula.
  • Kecanduan self reward juga bisa melemahkan semangat kerja dan menumbuhkan perilaku kompetitif tak sehat saat membandingkan bentuk apresiasi diri dengan teman sebaya.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Saat ini kesadaran orang akan pentingnya menjaga kesehatan mental sudah makin baik. Cara untuk merawat kesejahteraan psikis bermacam-macam. Di antaranya melalui apresiasi terhadap diri.

Jangan hanya menunggu penghargaan dari orang lain yang belum tentu ada. Tentu langkah aktif buat kasih reward ke diri sendiri sebenarnya amat positif. Itu akan membuatmu merasa berharga. Kamu pun tahu betul sudah melakukan hal-hal yang luar biasa dan pantas dibanggakan.

Akan tetapi, budaya self reward juga bisa berbahaya kalau dilakukan secara berlebihan. Generasi Z yang lekat dengan kebiasaan ini mesti mulai lebih berhati-hati. Tetaplah menghargai diri baik dengan kasih pujian atau hadiah, tapi secukupnya saja. Self reward yang berlebihan akan menghadapkanmu pada enam realitas pahit berikut.

1. Biaya self reward nyaris menyamai gaji

membuka belanjaan
ilustrasi membuka belanjaan (pexels.com/Mikhail Nilov)

Self reward sebenarnya gak harus keluar uang. Penghargaan terhadap diri bisa sesimpel kamu dengan tulus memuji kehebatan diri atas kerja keras yang sudah dilakukan. Seperti dirimu menatap bangga pada bayangan di cermin. Lalu berkata, "Kamu hebat. Aku sangat bangga padamu."

Sayangnya malah gak banyak orang yang melakukan self reward seperti di atas. Umumnya orang memberikan hadiah berupa barang, makan-makan, atau jalan-jalan. Pokoknya segala sesuatu yang berbayar.

Makin sering, banyak, atau mahal bentuk self reward materi itu, rasanya makin senang. Sampai terkadang gak mempertimbangkan kemampuan. Gaji 3 juta rupiah, misalnya. 1,5 bahkan 2 jutanya bisa habis cuma buat self reward. Habis itu kamu bingung hidup hanya dengan sisa-sisa gaji.

2. Sedikit-sedikit self reward, fokus dan pencapaian malah turun

memesan makanan
ilustrasi memesan makanan (pexels.com/Deni Priyo)

Fokus harus dijaga dan ini bukan hal mudah. Setiap bentuk distraksi akan mengacaukan konsentrasi. Padahal, pencapaian terbaik hanya dapat diraih kalau kamu fokus. Ketika self reward dilakukan terlampau sering, dirimu gak punya waktu yang cukup panjang buat hening tanpa gangguan.

Energi pikiranmu yang amat berharga malah selalu tersita buat memikirkan bentuk self reward apa lagi yang akan diberikan ke diri. Contoh, minggu pertama sudah makan enak di restoran ternama. Minggu kedua main sepuasnya sama teman-teman.

Minggu ketiga beli barang yang diinginkan. Minggu keempat belum ada ide. Kelihatannya sepele. Namun, jika energi buat memikirkan hal-hal di atas dipusatkan pada sesuatu yang lebih penting bakal lebih berguna.

3. Terlalu sering self reward mengubah rasa menjadi biasa

makan-makan
ilustrasi makan-makan (pexels.com/Kenneth Surillo)

Self reward memang bikin senang. Namun, sesenang-senangmu akan sesuatu kalau sudah terlalu sering pasti berubah menjadi biasa-biasa saja. Sama halnya dengan makanan favorit. Jika itu disantap setiap hari niscaya membosankan.

Maka sebaiknya self reward gak usah terlalu sering. Terutama penghargaan yang berupa materi. Rasa senangnya akan lebih cepat menguap. Beli gadget baru misalnya, cuma kasih dirimu rasa senang maksimal 1 atau 2 bulan.

Habis itu seperti tak ada bedanya dengan perangkatmu yang lama. Hanya sebuah alat. Artinya, dirimu keluar uang sebanyak apa pun untuk self reward, jika keseringan akan terasa hambar. Tidak seistimewa seandainya itu cuma dilakukan di waktu tertentu.

4. Nikmat sesaat tetapi sering bikin penyakit berat datang lebih cepat

makan donat
ilustrasi makan donat (pexels.com/Andres Ayrton)

Di antara berbagai bentuk self reward yang dapat dipilih, makan enak paling sering dilakukan. Sebab ini relatif lebih gampang diwujudkan kapan saja. Beda dengan liburan ke luar kota yang butuh waktu libur lebih dari sehari.

Pun pilihan tempat makan enak di sekitarmu banyak sekali. Bahkan dirimu gak usah keluar rumah makanan dapat diantar sampai depan pintu. Namun, kasih apresiasi ke diri dalam bentuk makanan yang enak-enak tapi nutrisinya gak seimbang sangat berbahaya.

Contohnya, kamu telah terjebak dalam kebiasaan sedikit-sedikit self reward. Pilihannya selalu jatuh ke makanan dan minuman supermanis. Kalau dirimu sedang ingin self reward, bisa sehari penuh cuma mengonsumsi makanan serta minuman bergula tinggi. Ancaman diabetes pada usia muda pun meningkat.

5. Semangat anjlok jika belum sempat self reward sudah harus kerja keras lagi

smartphone
ilustrasi smartphone baru (pexels.com/Luis Quintero)

Self reward berlebihan seperti membuatmu kecanduan. Bila selepas suatu aktivitas yang menurutmu berat gak langsung diikuti self reward, rasanya lemas. Kamu kehilangan semangat menjalani hari.

Padahal, setelah ini dirimu mesti lanjut bekerja keras kembali. Kamu menjadi malas melakukannya. Sekalipun kadar kerja kerasnya masih wajar, dirimu merasa berat sekali karena berpikir seharusnya self reward dulu.

Kalau boleh jujur, mentalmu menjadi manja dan rapuh. Kamu tak punya daya tahan yang tinggi buat menghadapi pekerjaan yang beruntun. Self reward yang seharusnya menguatkan malah melemahkan mentalmu ketika telah berlebihan.

6. Membandingkan bentuk self reward dengan teman lalu adu gengsi

berpesta
ilustrasi berpesta (pexels.com/Pexels)

Ketika self reward begitu digaungkan, anak-anak muda sepertimu pasti sering sekali membicarakannya. Kalian menjadi saling tahu bentuk self reward masing-masing. Dari sini muncul perbandingan-perbandingan yang berujung perasaan harus sama dengan orang lain.

Misal, tadinya bentuk hadiahmu ke diri sendiri cukup makan mi ayam bakso favoritmu. Murah meriah, gak sampai 20 ribu rupiah sudah sama minum. Akan tetapi, self reward kawanmu bersantap di restoran dengan pemandangan matahari terbenam.

Akhirnya rasa gengsimu tertantang. Sejak saat itu, semangkuk mi ayam bakso 20 ribu rupiah gak lagi memuaskanmu. Kamu ingin sama bahkan melebihi teman-teman dalam kasih apresiasi ke diri. Self reward yang seharusnya bersifat pribadi tak lagi dapat dinikmati sebab penuh kompetisi.

Tanpa self reward sama sekali, kamu bisa merasa kurang berharga sekaligus kelelahan. Penghargaan dari diri sendiri tak kalah penting ketimbang apresiasi pihak lain. Akan tetapi, jangan pula kamu berlebihan dalam melakukan self reward yang justru akan berakibat buruk.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Siantita Novaya
EditorSiantita Novaya
Follow Us

Related Articles

See More